Bagaimana membangun SDM yang berkarakter Tuhan?

 


Pada hari ini kita melihat, banyak kurikulum silih berganti  di setiap pergantian kabinet, tentu sebagai orang tua yang peduli merasa cemas bagaimana hasil dari pendidikan yang ditempuh oleh anak-anaknya dari pergantian kurikulum yang sering kali terjadi, pertanyaannya kurikulum manakah yang terbaik untuk mendidik anak-anak kita? 

Sebetulnya tidak masalah apapun kurikulum yang dipergunakan, hanya saja peranan orang tua lah sebagai ujung tombaknya dalam menciptakan generasi yang diharapkan di bangsa ini. 

Apalagi dizaman sekarang, informasi bergerak begitu cepat, sangat mudah mengakses informasi cukup dari genggaman tangan  kita,  sangat disayangkan, para orang tua yang seharusnya perperan sebagai pengawas, lengah dalam mengawal putra-putri nya agar memiliki karakter mulia. 

Pertanyaannya, apa itu berkarakter mulia? Berkarakter mulia adalah berkarakter sang Pencipta, Tuan menggambarkan sifat-sifatnya dalam Asmaul Khusna, yang berjumlah 99 (sembilan puluh sembilan) sifat Nya. 

Sifat-sifat Nya inilah yang sudah semestinya menjadi kesadaran bagi masyarakat yang mau keluar dari permasalahan-permasalahan yang diakibatkan kualitas SDM bangsa ini yang rendah, yang tidak mampu bersaing dengan bangsa-bangsa maju lainnya. 

Kualitas SDM yang rendah, baik itu dari segi kecerdasan akademik, maupun kecerdasan spritual, membuat anak-anak bangsa yang dilahirkan di bangsa ini, hanya menimbulkan  berbagai masalah di bangsa ini, seperti fenomena banyaknya anak remaja yang memilih menyimpang dari fitrah -nya dengan menyukai sesama jenis, melakukan hubungan suami istri ketika masih berpacaran sudah menjadi hal yang biasa, menyontek ketika ujian sudah bukan lagi hal yang tabu, sarjana pengangguran karena tidak memiliki skill yang dibutuhkan bertebaran dimana-mana, dan banyak lagi kasus-kasus yang membuktikan rendahnya kualitas SDM bangsa ini dan rusaknya moral dari generasi penerus pada hari ini. 

Bicara sifat Tuhan sifatnya universal, ajaran Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kita temukan ada di setiap agama, hanya saja sayangnya, bangsa ini sudah banyak yang melupakan ajaran dari agama nya masing-masing, sudah terbuai dengan kecanggihan teknologi pada hari ini, lebih banyak mengakses hal-hal berbau hiburan dari pada memilih untuk mengembangkan dirinya, agar menjadi berkarakter mulia. 

Dimana, sifat Tuan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang inilah kunci bagaimana manusia tidak berbuat kerusakan di muka bumi, bagaimana mungkin seseorang mampu menyakiti sesama manusia maupun makhluk hidup lain -nya, bahkan sampai merusak alam, jika seseorang tersebut mengasihi dan menyayangi ciptaan Tuhan sama halnya mengasihi dan menyayangi dirinya sendiri ?

Banyak diantara kita mungkin berfikir, buat apa menjadi orang yang penuh cinta kasih, sedangkan dunia begitu keras, karena siapa yang kuat maka dia lah yang mampu bertahan di dunia yang penuh tidak ketidakpastian ini. 

Tapi apapun perbuatan baik yang kita lakukan walaupun tidak bisa mengubah dunia seluruhnya pada kondisi hari ini, itu sangatlah berarti, karena segala sesuatu berawal dari yang kecil, tidak mungkin perkara yang besar bisa diselesaikan, jika perkara kecil belum serta merta tuntas diselesaikan. 

Pertanyaannya, apakah pemimpin bangsa hari ini memiliki karakter yang mulia? Apakah generasi penerus bangsa ini sudah cukup dapat diandalkan dan memiliki karakter mulia  seperti yang diharapkan para pendahulu nya? Apa yang kita temukan? Apakah sebaliknya? Apa masalahnya? Kenapa sifat-sifat Tuhan tidak mampu mengubah pola fikir generasi bangsa ini? Dimana peranan  para orang tua yang seharusnya menjaga amanat Nya dengan baik? 

Kita dapat melihat dengan mata kepala kita sendiri, bagaimana bangsa ini semakin hari semakin bobrok moralnya, walaupun secara akademis memiliki prestasi yang tinggi tapi korupsi semakin hari semakin terang-terangan dan merajalela di negeri ini, padahal pelakunya jelas-jelas tidak mungkin bukan orang beragama, bukankah semua agama melarang manusia untuk mencuri karena merugikan orang lain, kenapa pencurian seolah-olah dianggap masalah yang biasa, yang cukup diselesaikan dengan mengembalikan uang curian dan hukuman penjara, padahal jelas-jelas penyelewengan dana rakyat, rakyatlah yang seharusnya benar-benar dirugikan bukan pemerintahan yang berkuasa saat ini. 

Maka, dari kondisi yang terjadi hari ini  membuktikan bahwa membangun bangsa menjadi bangsa yang kuat, terletak pada membangun SDM nya, masalah nya bukan terletak pada pembangunan infrastruktur, tapi pendidikan moral nya, banyak orang pintar yang lahir dibangsa ini, sayangnya orang pintar yang sudah rusak moralnya. 

Bukankah Nabi Muhammad SAW yang pertama kali dilakukan nya memperbaiki akhlak, pertanyaannya mengapa bangsa ini tidak berbuat hal yang serupa? Bukankan bangsa ini  mayoritas penduduk nya adalah pemeluk agama islam? Apakah kasih dan sayang diantara kita sudah mati? Apakah sudah merasa pesimis untuk mengubah kondisi hari ini sehingga lebih memilih menyelamatkan diri masing masing? 

Tentu sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena bicara memperbaiki moral jauh lebih sulit daripada memperbaiki infrastruktur, di zaman Nabi Muhammad itu adalah pekerjaan Tuhan, pertanyaan nya, bagaimana di zaman ini? 



Post a Comment

0 Comments