Ketika manusia merasa lebih pintar dari pencipta Nya

 


Di dunia yang dipenuhi dengan segala sesuatu hasil ciptaan Nya, kita melihat bagaimana Tuhan bekerja, sejauh mata memandang, tidak ada satupun ciptaan Nya yang tidak memiliki manfaat bagi manusia, inilah bukti bahwa Allah memiliki sifat, Maha Pengasih. Namun sayang nya, manusia melupakan peranan Nya, padahal udara bersih yang dihirup pun adalah bukti bahwa tanpa adanya Kasih Nya, manusia tidak mungkin mampu bertahan hidup di muka bumi, kebanyakan manusia tetap saja lebih memilih untuk mengkufuri nikmat yang Dia berikan kepada umat manusia, memilih untuk menjadikan Allah sebagai figuran, hukum Allah dalam hal mendamaikan dan mensejahterakan umat manusia tidak mampu diberlakukan dalam mengatur segala sendi kehidupan manusia.

Allah sejatinya tidak menciptakan agama, tapi manusia lah yang menciptakan agama, melainkan Allah menciptakan sistem ketundukpatuhan yang harus di patuhi umat manusia, buktinya dapat kita lihat, dalam Al Quran maupun dalam Kitab sebelumnya, bagaimana hukum-hukum Allah diberlakukan untuk segala sendi kehidupan, pertanyaannya, mengapa hukum Allah tidak mampu diberlakukan lagi? Dikarenakan manusia sudah merasa lebih pintar dari Nya, menganggap hukum buatan mereka lebih baik daripada hukum Allah yang bersifat alamiah.

Jika kita mau untuk berfikir, bagaimana Tuhan Semesta Alam bekerja dalam mengatur segala sesuatu yang ada di muka bumi, tentu kita menemukan tidak ada satupun ciptaan Nya yang tidak sempurna, bahkan semut sekalipun, memiliki keteraturan dalam menaati aturan yang Dia tetapkan kepada mereka, inilah bentuk Rahman Nya, yakni Kasih Nya untuk segenap makhluk ciptaan Nya, begitupula dengan kesempurnaan yang dapat kita lihat dari anatomi tubuh manusia, kita bisa melihat tidak ada satupun sistem yang bekerja di dalam tubuh manusia yang tidak teratur, semuanya bekerja secara teratur setiap harinya, menjalankan fungsi nya, dimana, kita sebagai manusia, kita diberikan anugerah yang luar biasa dari Nya, dengan diberikan kehidupan oleh Nya.

Dimana, Rahman (Kasih) Nya sesuatu yang bersifat umum, sedangkan Rahim (Sayang) Nya, bersifat khusus. Di zaman Nabi Musa as, Sayang Nya diberikan Nya kepada umat Nabi Musa as yang mengimani Nabi Musa as selaku utusan Allah, begitu pula di zaman Nabi Isa as dan Nabi Muhammad SAW, juga diberikan kepada pengikut Rasul-rasul tersebut. Artinya dalam hal ini, Sayang Nya hanya Dia berikan kepada orang-orang beriman yang bertaqwa.

Kita bisa melihat bagaimana Allah begitu Rahman -nya, dalam memberikan ilmu kepada orang-orang yang sungguh-sungguh menggali ilmu Nya baik itu  di bumi dan di langit, Tuhan tidak pilih kasih, tidak peduli latar belakangnya, Allah tetap memberikan keberhasilan dalam upaya manusia yang sungguh-sungguh dalam mempelajari Ilmu -Nya.

Dimana, kita sejatinya menjadi paham bahwa dari sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang inilah, manusia dapat  mempelajari segala sesuatu yang terdapat di alam semesta, tanpa Kasih dan Sayang Nya, tidak ada satupun manusia mampu untuk memahami Ilmu Nya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan Sayang Nya, mengapa bersifat khusus, padahal semua manusia adalah ciptaan Nya, mengapa dalam Kitab-kitab Nya, diterangkan hanya ditujukan kepada orang-orang yang bertakwa kepada Nya? Jawabannya tentu saja karena Allah bersifat Maha Pencemburu, sama sekali tidak mau diduakan oleh manusia, oleh sebab itu, keberuntungan besar hanya Dia berikan kepada para pengikut setia Nya.

Hal yang masuk akal sebetulnya, di dalam dunia pekerjaan, sudah barang tentu, pegawai yang selalu mengikuti aturan pemimpin perusahaan dan yang cakap dalam melakukan segala hal, yang mendapatkan perlakuan khusus, tidak mungkin pegawai yang malas-malasan diperlakukan sama dengan pegawai teladan, tentu itu bukan sesuatu yang adil.

Begitu pula Tuhan, mana mungkin Dia mau untuk memberikan pertolongan kepada umat Nya yang hanya bisa berbuat kerusakan di muka bumi, tidak melakukan perbuatan amal yang shalih di dalam perjalanan memperoleh keridhaan Nya, tentu, jika Tuhan masih tetap  bersikap baik kepada mereka, padahal jelas-jelas umat Nya tidak mau tunduk kepada perintah Nya, menunjukkan Tuhan tidak mampu melihat dengan baik, pertanyaannya, apakah mungkin Allah yang Maha Melihat, tidak mampu melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh umat Nya?

Maka, dari memahami bagaimana sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kita semestinya dapat menilai bagaimana upaya yang kita lakukan untuk menaati Nya, yang kita perbuat selama ini, sebagai umat yang mengimani bahwa hidup di dunia ini ada peranan Tuhan melingkupi segala sesuatu.

Dimana dari memahami sifat-sifat Allah tersebut, membuktikan kepada kita bahwa tidak ada satupun manusia yang pantas untuk menggantikan Nya dimuka bumi, pertanyaan nya, mengapa masih banyak manusia pada hari ini lebih memilih berbuat kerusakan di muka bumi, padahal jelas-jelas  manusia adalah hasil dari ciptaan Nya? Jawabannya tentu saja karena manusia tidak memahami dengan baik Allah bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga tidak menyadari ada peranan Tuhan di dalam kehidupan sosial manusia.

Padahal, jika mau manusia berfikir secara mendalam sudah barang tentu tidak mungkin menemukan hukum terbaik selain hukum ciptaan Nya, bukan kah manusia adalah hasil ciptaan Nya, mengapa manusia memberlakukan hukum selain ciptaan Nya?

Memang, memberlakukan hukum Tuhan tidak lah mudah, namun jika itu solusi satu-satu Nya agar dunia Damai Sejahtera, mengapa manusia mengambil pilihan lain, selain berhukum kepada Nya ? Dimana, hukum Allah menciptakan keteraturan, sedangkan hukum selain Allah menciptakan ketidakteraturan, pertanyaannya, mengapa manusia lebih condong untuk mengikuti hukum-hukum yang membawa akibat buruk kepada mereka, daripada hukum-hukum yang membawa akibat yang mendatangkan kebaikan bagi mereka? Jawabannya sekali lagi tentu saja, karena manusia tidak menyadari peranan Nya di dalam kehidupan mereka, sehingga mereka melupakan keberadaan Nya, yakni Tuhan selalu ada diantara mereka, yang tidak sekalipun mengantuk dalam mengurus makhluk-makhluk Nya. 

Post a Comment

0 Comments