Bagi kita yang hidup di zaman ini, sudah bukan rahasia umum lagi, dalam pemahaman kita sudah pasti menganggap bahwa bangsa Israel hari ini adalah bangsa yang tidak mengerti bagaimana cara berterima kasih, ketika saudara mereka, yakni bangsa Palestina, bersedia membuka pintu lebar-lebar memasuki negerinya, di saat bangsa tersebut tidak diterima dimana-mana, namun, sikap bangsa Israel berubah setelah mereka sudah memiliki kekuatan, mereka berupaya keras menguasai negeri Palestina, agar negeri Palestina tersebut bisa sepenuhnya dikuasai oleh mereka.
Di dalam Al Kitab, baik itu di dalam Taurat, Injil, dan Al Quran, begitu jelasnya menggambarkan bagaimana karakter bani Israel, walaupun dalam Al Kitab disebutkan sebagai umat yang diberkati, tapi disisi lain disebutkan bahwa bani Israel adalah umat yang mendapatkan murka dari Tuhan, disebabkan telah mengkhianati perjanjian untuk selalu setia kepada Nya.
Secara umum, kita tidak bisa memungkiri bahwa memang bani Israel yang notabene adalah keturunan satu-satunya dari keturunan Nabi Ibrahim as yang lain, dari istri-istri nya yang lain, yang berasal dari bangsa yang melahirkan Nabi Ibrahim as, artinya, memiliki sifat bawaan (gen) yang paling mendekati Nabi Ibrahim as, wajar jika dari segi kecerdasan jika dibandingkan bangsa lain jauh lebih unggul, oleh sebab bangsa Babilonia, yakni bangsa dimana Nabi Ibrahim as berasal, adalah bangsa yang dikenal memiliki peradaban yang unggul dibandingkan bangsa yang lain di masa kejayaannya, selain itu, bangsa Israel juga pernah diberikan kekuasaan Tuhan di zaman Nabi Musa as maupun di zaman Nabi Isa as, sudah barang tentu kualitas mereka jauh diatas bangsa-bangsa lain dalam hal menggali ilmu-ilmu Allah.
Di dalam Al Quran sendiri, banyak sekali kisah tentang bani Israel, padahal jelas-jelas Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab, pertanyaannya, apa urgensi -nya Nabi Muhammad SAW menceritakan kisah bani Israel, baik itu di zaman Nabi Yakub as, di zaman Nabi Musa as, maupun di zaman Nabi Isa as ? Tentu saja untuk mendapatkan pelajaran terbaik dalam hal mewujudkan apa yang dicita-citakan bangsa nya, yang notabene berasal dari keturunan Nabi Ismail as, untuk mendapatkan janji Tuhan, berkuasa di muka bumi.
Bani Israel di zaman Nabi Musa as diceritakan adalah bangsa yang paling suka membantah perintah Tuhan yang turun melalui Nabi Musa as, berkali-kali perintah Tuhan yang turun kepada mereka, tidak langsung mereka laksanakan, selalu menunda-nunda untuk melaksanakan, bahkan selalu bertanya kepada Musa prihal keputusan Tuhan, mencari-cari alasan agar tidak melaksanakan perintah Tuhan, bahkan dalam perjalanan mereka mengambil berhala buatan Samiri, yakni bentuk ketaatan selain kepada Nya, untuk dijadikan pengganti Tuhan, saat itu pun Tuhan masih memaafkan mereka, karena janji Nya kepada Nabi Ibrahim as, untuk memberikan kekuasaan kepada keturunannya, namun seiring waktu, bukan malah berubah menjadi lebih baik, malah semakin tidak menaati perintah Tuhan, dikala datang perintah Nya untuk menaklukkan Yerikho, mereka memilih tidak mendengarkan Musa selaku utusan Nya, yang menyebabkan Tuhan memberikan perhitungan atas apa yang mereka kerjakan, kemenangan mereka tertunda 40 tahun, barulah setelah hukuman dari Tuhan selesai mereka lewati, Tuhan meridhoi mereka mendapatkan janji Tuhan, berkuasa di Yerussalem, yakni negeri yang Tuhan titipkan kepada mereka untuk dijadikan tempat berlaku nya hukum Tuhan, begitu pula di zaman Nabi Isa as, bani Israel pun juga diberikan kekuasaan di muka bumi, seperti hal nya di zaman Nabi Musa as, walaupun tidak diceritakan secara gamblang di dalam Al Kitab.
Pertanyaan bagaiamana sikap dari bangsa Israel di zaman ini, apakah sama saja dengan yang diceritakan dalam Al Kitab dan Al Quran, sama-sama suka berbuat kerusakan di muka bumi? Jawabannya bisa kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, karakter bangsa tersebut tidak pernah berubah, walaupun Tuhan memberikan kesempatan dua kali dalam memimpin Kerajaan Nya yang hadir di muka bumi, tetap saja mereka selalu berbuat zhalim kepada manusia, padahal dalam Kitab mereka sangat jelas melarang menzhalimi manusia lainnya, pertanyaannya, atas dasar keyakinan apa mereka berselisih dan saling membunuh diantara mereka, padahal jelas-jelas di tanah Kanaan tersebut, mereka dilahirkan, secara logika, mereka lebih dekat dengan bangsa Palestina dibandingkan bangsa lain, mereka sejatinya adalah bersaudara, yang sama-sama diberikan tanah Palestina atas mereka, baik itu di zaman Nabi Musa as maupun di zaman Nabi Isa as, pertanyaannya mengapa mereka marah dengan saudara mereka yang memilih mengimani Muhammad? Padahal ketika mereka terkatung-katung dalam ketidakpastian, bangsa Palestina lah satu-satunya yang berfikir untuk memberikan tempat tinggal kepada mereka.
Jadi, bisa dikatakan, bangsa Israel dulu dan sekarang tidak jauh berbeda, sama-sama suka berbuat kerusakan di muka bumi, namun itu bukan berarti tidak ada diantara mereka yang lurus mengimani ajaran-ajaran Allah, dapat kita lihat dari sejarah Nabi Muhammad SAW, kota Yastrib, nama lain kota Madinah, adalah negeri yang ditinggali bani Israel yang menolak mengimani ajaran Nabi Isa as, yang telah bercampur dengan pemahaman manusia, dimana, mereka memilih pergi ke tanah Arab, dari negeri Palestina, menunggu datangnya Rasul setelah Nabi Isa as.
Pertanyaannya, bagaimana kondisi hari ini? Apakah bangsa Israel pantas untuk mendapatkan negeri Palestina, seperti di zaman Nabi Musa as, dan di zaman Isa as, agar dapat berkuasa di muka bumi ? Jawabannya, tidak lah mungkin Tuhan membiarkan hal tersebut terwujud, karena bagaimana mungkin Dia memberikan kekuasaan yang bersumber dari Nya kepada bangsa yang jelas-jelas berbuat kerusakan di muka bumi.

0 Comments