BANGSA KESURUPAN
Oleh : Ridha Zikri (Founder Faktakbenarancom)
Bangsa yang kesurupan punya raga tapi tidak memiliki jiwa adalah sebuah metafora untuk menggambarkan kondisi disorientasi yang sedang kita alami.
Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi budaya dan psikologi massa, ungkapan ini memiliki kebenaran substantif yang sangat kuat. Mengapa? Karena "kesurupan" dalam konteks ini
berarti raga (indera, fisik, institusi) kita bergerak, tetapi digerakkan oleh kesadaran asing atau hasrat purba yang bukan miliknya sendiri. Mari kita lihat realitas hari ini:
1. Raganya Modern Tapi Jiwanya Kosong
Secara fisik/Raga , Indonesia hari ini tumbuh luar biasa:
- Gedung-gedung pencakar langit menjulang, infrastruktur jalan tol tersambung, dan teknologi digital diadopsi dengan sangat cepat.
- Kita punya institusi modern: lembaga hukum, gedung parlemen, kementerian, hingga komisi-komisi negara.
Namun, mengapa terasa "tidak berjiwa"? Karena di dalam raga yang megah itu, nilainya keropos. Lembaga hukum ada, tapi keadilan sulit dicari. Lembaga politik ada, tapi kedaulatan rakyat kerap tergadaikan. Kita membangun raganya, tapi menelantarkan jiwanya (character building yang dulu selalu didengungkan Bung Karno).
2. Gejala Kesurupan Budaya (Disorientasi Identitas)
Ciri orang kesurupan adalah mereka berbicara dan bertindak menggunakan identitas "entitas lain" yang merasukinya. Bangsa kita hari ini mengalami hal serupa:
• Kesurupan Konsumerisme & Materialisme Barat: Kita mengejar gaya hidup, status sosial, dan individualisme ekstrem, hingga mencemooh nilai kebersamaan dan gotong royong sebagai sesuatu yang kuno.
• Kesurupan Formalisme Agama: Di permukaan, masyarakat tampak semakin religius secara simbolik (baju, atribut, istilah), namun perilakunya (korupsi, fitnah di media sosial, kebencian pada sesama) justru menjauh dari substansi spiritualitas yang sejati.
• Kita meniru kulit luar dari berbagai peradaban asing, tetapi kehilangan Lokal Jenius untuk menyaringnya. Akibatnya, kita gagap dan bertindak tanpa kesadaran utuh.
3. Amnesia Sejarah: Tercabut dari Akar Tanah
Jika kita tarik kembali ke sejarah pra-Tarumanegara atau filosofi Tritangtu, leluhur Nusantara memiliki kesadaran kosmik yang sangat kuat tentang keseimbangan alam, moral (Resi), dan kepemimpinan yang mengayomi (Rama).
Ketika sebuah bangsa melupakan sejarah dan falsafah hidupnya sendiri, mereka menjadi bangsa yang amnesia. Bangsa yang amnesia adalah raga kosong yang rapuh, yang sangat mudah "dirasuki" oleh ideologi apa pun yang lewat. Entah itu oligarki ekonomi, radikalisme, atau pragmatisme politik.
Cara Menyadarkan Sang Bangsa
Mengatakan bangsa ini seperti kesurupan bukanlah bentuk kebencian, melainkan sebuah catatan kritis yang lahir dari kegelisahan mendalam.
Kabar baiknya, orang kesurupan itu tidak mati, mereka hanya sedang kehilangan kontrol atas kesadaran dirinya. Jiwa Nusantara itu sebenarnya tidak hilang sepenuhnya, ia hanya tereduksi, pingsan, dan terhimpit oleh kepentingan sektoral jangka pendek.
Untuk menyadarkannya, bangsa ini butuh "sentakan kesadaran”. Sentakan itu tidak datang dari pidato politik, melainkan dari orang-orang yang mau berhenti sejenak, menelisik kembali ke akar sejarah, menghidupkan kembali literasi, dan mempraktikkan nilai-nilai kemanusiaan universal Ketika raga ini mulai digerakkan kembali oleh akal sehat, empati, kesadaran sejarah, dan spiritualitas universal saat itulah jiwa Indonesia kembali pulang ke rumahnya.

0 Comments