Sistem yang “Sakit” Membuat Kita “Membusuk”

Pertanyaan itu datang dari berbagai arah: kenapa anak muda sekarang mudah menyerah? Kenapa angka pernikahan terus turun? Kenapa orang-orang tampak hidup berdampingan, tapi sebenarnya tidak saling mengenal? Kita dengan mudah menyebutnya krisis mentalitas—generasi Quiet Quitting, generasi Bailan yang membiarkan segalanya membusuk. Tapi saya ingin mengajukan hipotesis yang berbeda: bukan kita yang membusuk. Sistemnya yang sedang membusuk, dan kita hanya cermin yang jujur.

Kerja Keras yang Kehilangan Maknanya

Ada sebuah hukum ekonomi yang sengaja jarang diajarkan di ruang kelas. Thomas Piketty, dalam penelitian panjangnya atas data ekonomi lintas abad, menemukan bahwa tingkat imbal hasil modal (r) secara historis cenderung melampaui laju pertumbuhan ekonomi riil (g). Artinya, mereka yang memiliki aset—saham, tanah, properti—cenderung memperbesar kekayaan mereka lebih cepat daripada laju pertumbuhan pendapatan mereka yang bekerja. Bukan karena yang kaya lebih rajin. Tapi karena struktur sistem itu sendiri memang bekerja demikian.

Ketika akses terhadap modal semakin tertutup bagi generasi baru, dan ketika pendidikan berkualitas menjadi privilege alih-alih hak, maka kerja keras secara perlahan kehilangan relevansinya sebagai jalan menuju kemakmuran. Yang tersisa hanyalah ilusi meritokrasi—narasi bahwa siapa pun yang cukup gigih pasti akan berhasil—sementara titik start setiap orang berbeda secara mendasar. Anak yang lahir di keluarga dengan modal sosial dan finansial yang kuat bermain di papan yang sama sekali berbeda. Itu bukan soal semangat; itu soal geometri sistem.

Keramaian yang Paling Sepi

Namun persoalan ini bukan sekadar soal uang. Yang lebih dalam adalah soal apa yang terjadi pada jiwa manusia ketika ia dipaksa hidup dalam logika kota besar. Robert Putnam, sosiolog Harvard, mendokumentasikan bagaimana modernisasi dan urbanisasi mengikis apa yang ia sebut social capital—jaringan kepercayaan, norma timbal balik, dan rasa solidaritas yang selama ribuan tahun menjadi tulang punggung komunitas manusia. Di Jakarta, fenomena ini terlihat nyata: jutaan orang tinggal dalam apartemen berdinding tipis, berjarak beberapa sentimeter dari tetangga yang namanya pun tidak mereka ketahui. Kita hidup dalam keramaian yang paling sepi.

Ibn Khaldun, cendekiawan Muslim abad ke-14 yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai bapak sosiologi dunia, telah lama meramalkan ini. Dalam Muqaddimah-nya, ia menjelaskan bahwa peradaban dibangun dan dijaga bukan oleh kekayaan atau kekuasaan semata, melainkan oleh ʿasabiyyah—solidaritas sosial, kepercayaan kolektif, dan rasa tanggung jawab bersama. Ketika ʿasabiyyah memudar akibat individualisme yang dilembagakan dan egoisme yang dinormalisasi, peradaban mulai bergerak menuju kemundurannya—perlahan, tanpa terasa, tapi pasti. Apa yang kita saksikan hari ini—fragmentasi sosial, distrust terhadap institusi, nihilisme yang menyebar di kalangan muda—adalah gejala dari ʿasabiyyah yang sedang sekarat.

Ketika Peradaban Berhenti Bereproduksi

Dari sini lahirlah apa yang Peter Turchin, ahli cliodynamics dari University of Connecticut, sebut sebagai Elite Overproduction: kondisi di mana sistem menghasilkan lebih banyak calon elit—orang berpendidikan tinggi dengan ambisi besar—daripada posisi bergengsi yang tersedia. Persaingan yang terlalu ketat di puncak menghasilkan frustrasi massal. Kaum muda yang telah melakukan semua yang “seharusnya”—sekolah dengan benar, bekerja keras, bertahan—tetap tidak mendapatkan tempat yang layak. Ketika itu terjadi, dua pilihan muncul: pemberontakan, atau penarikan diri. Dan bagi banyak orang, penarikan diri terasa lebih aman.

Tanda paling jelas bahwa sebuah peradaban sedang kehilangan harapan adalah anjloknya angka kelahiran. Ini bukan persoalan demografis belaka; ini adalah penilaian moral yang diambil secara kolektif oleh jutaan individu. Ketika pasangan muda memilih untuk tidak punya anak, mereka sedang berkata: dunia yang kamu tawarkan tidak cukup baik untuk kami wariskan. Joseph Tainter, dalam The Collapse of Complex Societies, berargumen bahwa peradaban runtuh ketika biaya kompleksitas—mempertahankan birokrasi, infrastruktur, dan tatanan sosial yang ada—melampaui manfaat yang diterima rakyatnya. Ketika hidup terasa terlalu berat untuk ditanggung, reproduksi pun berhenti.

Musim Dingin Bukan Akhir

Yang pertama-tama perlu kita jujuri adalah bahwa masalah ini struktural, bukan individual. Mendorong anak muda untuk “lebih bersemangat” atau “lebih bersyukur” tanpa memperbaiki sistemnya adalah seperti menyuruh orang berlari kencang di atas treadmill yang rusak. Yang dibutuhkan adalah rekonstruksi ʿasabiyyah dari bawah—bukan melalui slogan kebersamaan yang hampa, melainkan melalui institusi-institusi kecil yang nyata: komunitas yang saling bertanggung jawab, ekonomi yang menghargai kerja produktif, dan ruang publik yang memungkinkan manusia untuk kembali menjadi manusia, bukan sekadar unit konsumsi.

Strauss dan Howe, dalam teori generasional mereka, menggambarkan sejarah sebagai siklus musim. Kita kini berada di musim dingin peradaban—fase krisis yang panjang dan menyakitkan sebelum tatanan baru terbentuk. Mu    sim dingin bukan akhir. Tapi ia hanya akan berakhir jika ada yang bersedia membangun kembali dari fondasinya: nilai-nilai yang menempatkan keadilan, kesejahteraan bersama, dan martabat manusia di atas logika akumulasi tanpa batas.

Sistem ini tidak akan memperbaiki dirinya sendiri. Tapi peradaban pernah dibangun dari nol oleh mereka yang tidak menunggu izin untuk memulai. - Yak

Daftar Referensi & Bacaan Lanjutan

Thomas Piketty, Capital in the Twenty-First Century (2013). Analisis data historis lintas abad yang menunjukkan kecenderungan struktural r > g—tingkat imbal hasil modal melampaui pertumbuhan ekonomi riil—sebagai akar dari akumulasi ketidaksetaraan kekayaan.

Robert Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000). Dokumentasi atas penurunan drastis modal sosial dan kepercayaan antarwarga di masyarakat modern yang semakin terfragmentasi.

Ibn Khaldun, Muqaddimah (abad ke-14). Kerangka teoretis tentang siklus peradaban, dengan ʿasabiyyah—solidaritas sosial dan kepercayaan kolektif—sebagai variabel penentu kejayaan dan kemunduran suatu bangsa.

Peter Turchin, Ages of Discord (2016). Teori Elite Overproduction dan pemodelan kuantitatif atas siklus ketidakstabilan politik dalam sejarah peradaban.

Joseph Tainter, The Collapse of Complex Societies (1988). Argumen bahwa kehancuran peradaban terjadi ketika biaya mempertahankan kompleksitas institusional melampaui manfaat yang diterima oleh populasinya.

William Strauss & Neil Howe, The Fourth Turning (1997). Teori generasional yang menggambarkan sejarah sebagai siklus empat fase, dengan krisis besar sebagai pintu menuju tatanan baru.

James B. Calhoun, "Population Density and Social Pathology", Scientific American (1962). Eksperimen Rat Utopia yang menunjukkan bagaimana kepadatan tanpa ruang sosial yang bermakna menghasilkan penarikan diri kolektif dan penghentian reproduksi.

Post a Comment

0 Comments