Apakah kebebasan bisa menjawab kondisi yang dihadapi saat ini? Manusia hari ini sangat mendambakan kondisi yang nyaman dan aman, yakni kondisi ketika ia memiliki kebebasan berpikir, berbicara, dan bertindak. Namun, apakah kebebasan yang diinginkan itu mampu menciptakan dunia yang lebih baik? Jika tidak, bentuk kebebasan seperti apa yang dibutuhkan agar dunia menjadi adil dan sejahtera?
Jika kita telaah lebih dalam, kebebasan semacam itu
membuat kita gagal menghasilkan buah pemikiran yang besar dan matang. Dalam
setiap diskusi, manusia hanya menghasilkan pemikiran yang bersifat relatif
tanpa perlu mengejar kebenaran objektif. Pola ini sejalan dengan potret yang
digambarkan Allan Bloom dalam The Closing of the American Mind:
keterbukaan yang dipahami sebagai penerimaan terhadap segala hal justru menutup
pikiran, sebab tidak ada lagi dorongan untuk menguji mana yang benar dan mana
yang salah.
Hilangnya kebenaran objektif menimbulkan banyak
persoalan. Pertama, kita tidak lagi mengetahui mana yang benar dan mana yang
salah, karena seluruhnya menjadi relatif terhadap moral pribadi masing-masing.
Kedua, budaya yang terbuka terhadap seluruh “kebenaran” menciptakan perasaan
bahwa kita sudah cukup mengetahui apa itu kebenaran, sehingga merasa tidak
perlu membaca dan mempelajari kebenaran dari sejarah.
Padahal, sejarah menawarkan pelajaran dari kisah manusia
lemah dan manusia hebat, bangsa kecil dan bangsa besar. Kisah-kisah terdahulu
memuat indikator dan parameter tentang seperti apa manusia lemah dan hebat,
seperti apa bangsa kecil dan besar, beserta langkah-langkah untuk
mewujudkannya. Parameter dan langkah ini selalu hadir sepanjang sejarah
peradaban manusia. Dengan demikian, terdapat kebenaran objektif yang dapat kita
ambil dari sejarah, yang kemudian menjadi teladan bagi pribadi manusia dalam menjalani
hidupnya.
Salah satunya, untuk menciptakan bangsa besar dan
manusia-manusia hebat, diperlukan suatu sistem yang dijalankan bersama.
Manusia-manusia itu memilih untuk menjalankan sistem tersebut. Sistem ini
bukanlah sistem yang mendorong setiap orang memiliki sistemnya sendiri,
misalnya sistem yang berpihak pada kekuasaan atau materi, bersifat parsial, dan
hanya berlaku sesaat. Jika demikian, akan banyak kepentingan yang saling
berebut tanpa mengutamakan kepentingan bersama. Dari sana lahir buah busuk yang
kita rasakan hari ini: ketimpangan, kerusakan alam, konflik, dan peperangan.
Maka, sistem yang dimaksud adalah sistem yang mendorong nilai-nilai universal,
mengutamakan kepentingan bersama dan keadilan, serta pernah terbukti dapat berlaku
selama berabad-abad. Sistem semacam ini selalu menjadi irisan dalam Great Books.
Langkah untuk mencari dan mempelajari kebenaran sejati
atau objektif sesungguhnya terbuka luas. Hari ini kita merasa ambigu karena
berhenti pada pemahaman kebenaran yang relatif. Karena itu, upaya mencari dan
mempelajari kebenaran objektif menjadi solusi alternatif untuk menjawab kondisi
yang kita hadapi hari ini.
Catatan Metodologi
Tulisan ini membaca persoalan kebebasan melalui lensa
kritik terhadap relativisme dan pencarian kebenaran objektif, dengan The
Closing of the American Mind karya Allan Bloom sebagai rujukan utama. Dua
standar yang digunakan FaktaKebenaran sebagai tolok ukur — Hukum Alam (Natural
Law) dan Hikmah Kitab Suci (Scriptural Wisdom) — tetap menjadi landasan
metodologis, dengan penekanan pada dimensi filosofis-politis dari persoalan
kebebasan.
Daftar Referensi & Bacaan Lanjutan
Bloom,
Allan. The Closing of the American Mind. New York: Simon & Schuster,
1987. — Kritik terhadap relativisme dan keterbukaan tanpa pengujian kebenaran,
serta pentingnya membaca great books.
0 Comments