![]() |
Fakta Kebenaran "Negeri Tanpa Mimpi: Politik Pragmatis VS Masa Depan Rakyat" — September 18, 2025. |
SLEMAN, DIY – Sejumlah mahasiswa dan penggiat politik lintas generasi berkumpul dalam diskusi kebangsaan bertajuk "Negeri Tanpa Mimpi: Politik Pragmatis VS Masa Depan Rakyat" yang digelar di Kolektif Coworking Space & Collaboraction, Kab. Sleman, DIY pada Jumat (18/09). Acara ini diselenggarakan oleh Faktakebenarancom. Diskusi ini menyoroti peran generasi muda dalam menjaga semangat dan arah masa depan bangsa, selaras dengan nilai-nilai luhur para pendiri bangsa. Pemantik diskusi disampaikan oleh perwakilan Faktakebenarancom, Mataram Liberation Institute, dan Kampung Satwa.
Memahami "Negeri Tanpa Mimpi"
Tema "Negeri Tanpa Mimpi" diangkat untuk menapaktilasi mimpi dan nilai warisan para pendiri bangsa kepada generasi muda. Hal ini dimulai dari revolusi cara berpikir agar tindakan dan buah karya menghadirkan tatanan sosial-budaya yang adil dan harmonis, selaras dengan hukum alam. Para pemantik sepakat bahwa di tengah gejolak ekonomi-politik dan hilangnya mimpi bangsa, pengkajian nilai-nilai luhur serta revolusi berpikir dapat hadir sebagai solusi alternatif.
Diskusi ini bermula dari sebuah pertanyaan mendasar: pernahkah negeri ini benar-benar memiliki mimpi? Dinamika politik saat ini dinilai kerap terjebak dalam arus politik pragmatis, pola yang menekankan transaksi kekuasaan jangka pendek, ketimbang komitmen pada visi jangka panjang. Akibatnya, arah pembangunan kehilangan pijakan ideologis.
Poin-Poin Utama Diskusi
Beberapa poin krusial yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut meliputi:
a. Kembali kepada Mimpi Bangsa: Setiap bangsa besar lahir
dari mimpi dan visi jangka panjang. Para pendiri bangsa telah mewariskan
nilai-nilai dasar itu sebagai satu kesatuan yang perlu terus dihidupkan kembali
sebagai arah bersama.
b. Revolusi Berpikir: Generasi muda didorong untuk
mengembangkan kesadaran kritis dan kemandirian dalam berpikir dan menyerap
nilai, sehingga mampu memilah arus informasi dan gagasan dengan bijak.
c. Sumber Daya sebagai Amanah: Kekayaan alam Indonesia yang
melimpah dipandang sebagai amanah besar yang perlu dikelola untuk kesejahteraan
bersama. Semangat perjuangan para pendahulu bangsa menjadi rujukan penting bagi
generasi muda untuk terus berkontribusi, dengan Pancasila sebagai dasar
mewujudkan tatanan yang harmonis dan berkeadilan.
d. Penguatan Identitas dan Peran Diri: Setiap individu
diajak untuk menemukan kembali identitas dan perannya di tengah masyarakat,
agar hubungan sosial manusia tumbuh dari kesadaran spiritual akan tanggung
jawab bersama.

0 Comments