"THE RULES FOR RULERS": MEMBEDAH BAGAIMANA KEKUASAAN BEKERJA

 

Kekuasaan politik adalah seni memimpin demi kepentingan bangsa. "Rules for Rulers" (Aturan bagi para Penguasa) adalah suatu konsep radikal yang membedah dinamika politik, kekuasaan, dan sistem kenegaraan yang ada. 

Teori ini bersumber dari "The Dictator's Handbook" (2011) karya profesor ilmu politik Bruce Bueno de Mesquita dan Alastair Smith. Konsep ini memberikan pandangan baru dengan menyatakan bahwa semua pemimpin, baik di negara demokrasi maupun diktator, pada dasarnya memiliki kerangka sistem kekuasaan yang sama. serta menganalisis bagaimana perbedaan struktur politik mempengaruhi cara penguasa dalam memperlakukan rakyatnya.

Aturan Mutlak bagi Penguasa

Konsep ini berdiri di atas satu pondasi utama: Tidak ada pemimpin yang bisa memerintah sendirian. ibarat sebuah tubuh yang penuh dengan organ yang semuanya bekerja sama untuk mempertahankan kelangsungan hidup sebuah kesadaran yang berada di dalam otak, Seorang pemimpin harus didampingi para pengikutnya untuk bisa menjalankan suatu sistem, dan pemimpin harus bisa memahami dan mengikuti aturan besi untuk mempertahankan kuasa atas para organnya agar mereka tidak memisahkan diri dari tubuh:

  • - Rule 0 : tanpa kekuatan/kuasa kamu tidak bisa apa apa (Without power you can affect nothing) sebelum teori ini bisa diaplikasikan anda perlu paham bahwa teori ini tidak hanya berlaku bagi penguasa nasional/regional tapi juga bisa berlaku dalam circle pertemanan maupun keluarga, maka dari itu anda perlu membentuk, mencari,  dan memahami kuasa anda, lalu dengan konsep ini anda bisa mempertahankan dan memperkuat kuasa anda.
  • - Rule 1: Amankan Dukungan dari Kelompok Kunci (Get Key Supporters on Your Side)
    Seperti otak dan tubuh penopangnya seorang pemimpin membutuhkan sekelompok orang berpengaruh yang mengontrol bidang penting negara seperti Partai, Pertahanan, Hukum, dan Ekonomi. Mereka disebut sebagai Essentials (pemegang kunci) dalam kebanyakan sistem rakyat bukanlah Essentials karena bahkan dalam negara demokrasi rakyat tidak akan bisa berbuat banyak jika para Essentials masih memberi dukungan pada penguasa.
  • Tapi jika para kelompok kunci ini menarik dukungannya, kekuasaan sang pemimpin akan runtuh seketika. adapun orang yang setia tanpa syarat namun ia tidak akan berguna jika dia tidak memegang kunci sistem, dan pemegang kunci sistem juga sebenarnya sedang berada di dalam lingkaran Rules For Rulers yang sama hanya saja dalam ranah yang lebih kecil Maka dari itu mereka pun harus mengikuti aturan aturan berikutnya.

    • - Rule 2: Kontrol Aliran Kekayaan (Control the Treasure)
      Treasury (kekayaan) adalah darah dari kekuasaan. Penguasa harus mampu mengamankan sumber treasury (pajak atau sumber daya alam) bukan hanya untuk memakmurkan rakyat secara langsung, melainkan untuk membayar loyalitas dari kelompok kunci pada Aturan 1. Pemimpin yang kehabisan kekayaan untuk membayar sekutunya pasti akan dikudeta.

    Treasury juga bisa berbentuk jabatan, “proyek strategis”, dsb intinya apapun yang bersifat materil untuk membalas jasa para key supporter. maka dari itu banyak orang orang terdekat penguasa yang diangkat jadi Essentials karena kesetiaan mereka sudah terbentuk walaupun dengan konsekuensi bahwa mereka belum tentu mampu mengelola bidang bidang tersebut. 3: Minimalkan Jumlah Pendukung Kunci (Minimize Key Supporters)

    • Semakin sedikit jumlah Kunci yang dibutuhkan untuk berkuasa, maka semakin aman posisi penguasa. Sedikitnya jumlah pemegang kunci membuat biaya "menyuap" loyalitas menjadi lebih murah, sehingga sisa uang negara dapat dinikmati oleh lingkaran dalam penguasa secara maksimal. biasanya terjadi dalam negara diktator karena sistem yang dikelola sangat sederhana makanya negara mereka cenderung rentan dan miskin.
  • Rule 3: Minimalkan Jumlah Pendukung Kunci (Minimize Key Supporters)
    Semakin sedikit jumlah Kunci yang dibutuhkan untuk berkuasa, maka semakin aman posisi penguasa. Sedikitnya jumlah pemegang kunci membuat biaya "menyuap" loyalitas menjadi lebih murah, sehingga sisa uang negara dapat dinikmati oleh lingkaran dalam penguasa secara maksimal. biasanya terjadi dalam negara diktator karena sistem yang dikelola sangat sederhana makanya negara mereka cenderung rentan dan miskin.

Kediktatoran vs Demokrasi

Perbedaan mendasar antara negara otoriter dan negara demokratis bukan hanya terletak pada moralitas pemimpinnya, melainkan utamanya pada struktur jumlah pendukung kunci yang dibutuhkan:
  • Sistem Kediktatoran (Koalisi Kecil):
    Diktator hanya membutuhkan segelintir orang untuk berkuasa. Karena jumlah pemegang kuncinya sedikit, diktator sangat mudah memberikan kemewahan pribadi yang fantastis kepada kelompok elit ini agar mereka tetap setia. Hasilnya, uang negara habis di lingkaran atas, mengabaikan fasilitas publik, dan membuat rakyat hidup dalam kemiskinan ekstrem.
  • Sistem Demokrasi (Koalisi Besar):
    Dalam demokrasi, pemegang kunci kekuasaan adalah jutaan rakyat (pemilih). Karena mustahil bagi presiden untuk menyuap jutaan orang secara langsung dengan uang tunai dalam jumlah besar, maka cara terbaik bagi penguasa untuk membeli loyalitas rakyat adalah dengan membangun fasilitas publik yang nyata. Jalan tol, jaminan kesehatan, sekolah gratis, dan pertumbuhan ekonomi adalah bentuk treasury demokratis agar rakyat mau memilih mereka kembali. tentu saja kualitas intelektual rakyat sangat berpengaruh dalam hal ini semakin rendah kualitas rakyat maka akan semakin murah juga biaya untuk mengambil dukungan mereka. Tapi dalam praktiknya selama partai koalisi (pemerintah) dalam parlemen masih loyal pada penguasa dan mereka mau mengikutinya maka kekuasaan masih akan terus bertahan

Kesimpulan

Konsep Rules for Rulers memberikan sudut pandang yang sangat dingin namun realistis mengenai politik kekuasaan. Teori ini menyimpulkan bahwa perilaku seorang pemimpin tidak didorong oleh sifat baik atau buruknya secara personal, melainkan oleh struktur sistem kekuasaan yang mengaturnya. Demokrasi terlihat lebih ideal daripada kediktatoran bukan karena pemimpinnya lebih bermoral, melainkan karena sistemnya memaksa penguasa untuk menyejahterakan rakyat banyak demi penguasa untuk bisa mempertahankan kekuasaannya sendiri.

Post a Comment

0 Comments