Anti-semitisme dan Zionisme : ketika kebencian menjadi bahan bakar nasionalisme



Hari ini Zionis bagi sebagian umat manusia adalah sebuah antagonis dalam dunia terutama karena kebijakan-kebijakan nasionalismenya yang justru mendekati chauvinisme tapi apa sebenarnya yang mengakibatkan mereka bertindak seperti itu? sebelum kita judging mereka ada baiknya kita pelajari dulu sejarahnya.

Zionisme adalah gerakan nasionalis yang bertujuan untuk mendirikan dan mendukung negara Yahudi di Palestina, tanah air leluhur mereka, sebagai solusi terhadap anti semitisme dan untuk menyatukan bangsa Yahudi di seluruh dunia.

Gerakan Zionis muncul di Eropa tengah dan timur pada akhir abad ke-19 dan menyerukan kepada orang-orang Yahudi untuk bermigrasi ke tanah Palestina dengan tujuan kembali kepada tanah nenek moyang mereka dan menghasilkan masyarakat eksklusif murni Yahudi untuk membebaskan diri dari Anti Semitisme dan penganiayaan yang terjadi pada mereka selama ribuan tahun.


Diaspora Yahudi

bangsa Yahudi diusir dan buang ke Eropa oleh bangsa romawi dari Judea akibat dari gagalnya pemberontakan orang Yahudi, di Eropa mereka dipanggil Yahudi karena menganut Agama Yudaisme.

Yudaisme mempercayai bahwa Mesias atau juru selamat akan datang untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dan mengembalikan tanah mereka di Yerusalem. Tapi kepercayaan ini memudar seiring berkembangnya zaman, setelah revolusi Perancis ide ide modern seperti Sekularisme dan Nasionalisme mengakibatkan orang-orang Yahudi untuk berasimilasi dengan bangsa dan negara tempat tinggal mereka, berkat asimilasi ini orang Yahudi mulai melupakan ajaran dan tanah kelahirannya di Palestina, karena bagi mereka saat itu palestina tidaklah aman karena sedang berada dibawah naungan Ottoman turki, akibatnya orang Yahudi memilih tinggal di Eropa walaupun didiskriminasi, namun bagi mereka yang tinggal di Eropa timur dimana liberalisme masih lemah diskriminasi bagi orang yahudi jauh lebih keras dibandingkan di Eropa barat dan di Palestina akibatnya mereka memilih untuk ‘eksodus’ kembali ke Yerusalem.


Sejarah Kebencian Terhadap Yahudi

(Penulis akan mencari sumber informasi sebaik-baiknya dan sangat berhati hati dengan bias yang ada, jangan ragu untuk mengkritik jika ada perbedaan paham), Kebencian ini sudah berlangsung sejak lama, dan makin terasa personal setelah abad 4-5 masehi setelah reformasi Kristen di konsili nicea, Yahudi dituduh sebagai pelaku penyalib yesus yang sebenarnya karena pada cerita pengadilan yesus, pilatus “mencuci tangan” dan mengaku ini adalah kehendak rakyat dan bukan kehendaknya (sc : bbc.co.uk).

lalu kebencian mulai naik lagi pada era perang salib terutama karena mereka mulai meminjamkan uang dengan bunga, disini stigma negatif mulai terbentuk baik bagi orang kristen maupun muslim karena 2 agama samawi yang lain melarang adanya ‘riba’, tapi di satu sisi orang orang tetap bergantung pada peminjam yahudi karena hanya mereka yang sanggup meminjamkan uang dalam jumlah besar dan dilindungi oleh para raja dan bangsawan. (sc : theholocaustexplained.org)

lalu kebencian yang melahirkan zionisme memuncak pada abad ke 19-20 ketika benua eropa sedang mengalami kemajuan ekonomi dan industri tapi juga diiringi oleh perang berkepanjangan, disini kebencian terhadap orang Yahudi (Antisemitisme) mengalami pergeseran besar, dari hanya karena alasan agama menjadi alasan rasial dan politik.

Saat nasionalisme berkembang, banyak negara mulai mendefinisikan diri berdasarkan kesamaan etnis, bahasa, atau agama yang homogen. Kelompok Yahudi, yang sering mempertahankan tradisi dan identitas mereka sendiri, dianggap sebagai "orang luar" atau elemen asing yang sulit berasimilasi.

disinilah zionisme lahir karena menurut penganut zionist satu satunya tempat aman bagi orang yahudi adalah di tanah nenek moyangnya di yerusalem


Pencetus Zionisme

Ide zionis berasal dari seorang yahudi austria bernama Theodore Herzl, seorang jurnalis yang meliput kegiatan anti-semitisme di eropa, setelah sekian banyak liputan yang didapatnya, herzl menyimpulkan bahwa orang yahudi akan selalu mendapat diskriminasi dimanapun mereka berada walaupun mereka sudah berasimilasi, pindah agama, hingga wajib militer pun tidak akan mengubah sentimen terhadap orang yahudi, hingga bagi herzl satu satunya solusi bagi orang yahudi adalah mendirikan negara sendiri, karena bermigrasi ke palestina saja tidak cukup untuk menjamin keamanan dan kenyamanan orang yahudi, dalam rangka mewujudkan negara tersebut mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya terutama ideologi dan dukungan dari luar.

Berbeda dari ajaran Yudaisme yang teokratis-agamis, ajaran Herzl yang nantinya disebut Zionisme ini didasarkan atas nasionalisme, Herzl melobi para petinggi kerajaan Eropa terutama Jerman yang punya hubungan baik dengan Turki untuk ikut bernegosiasi dengan Turki, namun pihak Turki menolak untuk menjual tanahnya terutama Yerusalem kepada pihak asing. akhirnya Herzl berpaling dari sekutu Ottoman ke musuh Ottoman, yang mana adalah Inggris, pada saat itu Inggris tidak berada dalam posisi yang baik untuk bernegosiasi atau untuk menganeksasi palestina maka Inggris menawarkan wilayahnya di Uganda sebagai alternatif Palestina, tentu kalangan tokoh Yahudi tidak setuju akan ide ini. Akhirnya Theodore Herzl meninggal pada tahun 1904, namun perjuangannya tidak berhenti.


Penerus estafeta dan Kesempatan dalam kacaunya dunia

Semenjak kematian Herzl gerakan Zion tidak berhenti, ideologi Herzl diteruskan kepada para Pengikutnya, kesabaran dan konsistensi mereka pun akhirnya membuahkan hasil dalam kurang dari 2 dekade, pada tahun 1914 Perang Dunia 1 pecah, inilah momen bagi para Zionis untuk mempersiapkan diri karena mereka tau Palestina tidak akan bisa mereka tempati selama Kekhalifahan Ottoman masih berkuasa di wilayah itu, keberuntungan mereka makin berlipat ganda karena Ottoman kalah perang, ditambah kerajaan inggris yang masih berpihak kepada organisasi Zion, bisa menguntungkan mereka karena sekarang wilayah ottoman di palestina sekarang berada di bawah naungan Inggris, dan akhirnya Kerajaan inggris bisa menjamin keselamatan orang Yahudi di Palestina.

Setidaknya sampai negara Israel yang sekarang ini berdiri di 1948

tapi sekarang zionisme bukan lagi hanya sekedar organisasi kemanusiaan untuk melindungi Masyarakat Yahudi yang tertindas, sekarang zionisme menjadi ideologi nasionalis yang mengakar kuat, dan sangat kental akan kepentingan sepihak

Post a Comment

0 Comments