Buzzer
Media Sosial & Buzzer
semenjak 2016 masyarakat di seluruh dunia termasuk di indonesia mulai ramai menggunakan media sosial yang awalnya hanya sebatas alat komunikasi namun kini medsos sudah menjadi platform multifungsi seperti untuk mendapatkan berita, tempat berbagi cerita, tempat komunitas, sumber informasi dll.medsos kini terutama di negara ini dimana "viral" adalah kunci kemenangan tentu medsos adalah medan perang utama dalam memperebutkan hati masyarakat, dengan keadaan seperti inilah peluang bisnis tercipta yaitu menjadi Propagandis di dunia maya inilah awal mula buzzer terbentuk.
Buzzer (pendengung) adalah seseorang yang bekerja untuk mendengungkan (buzz) pesan atau pandangan tertentu mengenai persoalan, gagasan, atau merk, agar terlihat sealami mungkin. awalnya buzzer dibentuk sebagai tim komersial produk yang tugas biasanya adalah memberikan review "settingan" supaya suatu produk bisa mendapatkan kepercayaan di masyarakat, fungsi buzzer itu sama seperti iklan namun buzzer terlihat lebih alami, jujur, terpercaya, dan yang pasti lebih efesien secara strategi dan finansial.
Buzzer media sosial bisa jadi adalah individu atau juga suatu tim yang dibayar atau diberi imbalan untuk menyebarkan pesan, opini, atau narasi tertentu secara cepat dan masif di berbagai platform digital, bertujuan memengaruhi opini publik terhadap produk, isu, atau tokoh, seringkali menciptakan "dengungan" (buzz) melalui akun-akun pribadi atau palsu, dengan fungsi pemasaran, politik, atau sosial, dan bisa berpotensi melanggar hukum jika menyebar hoaks atau ujaran kebencian.
Buzzer sebagai "Propaganda politik"
belakangan ini buzzer sering di gunakan sebagai alat politik yang bertujuan kampanye di medsos, tapi lama kelamaan buzzer ini kembali ke fungsi aslinya sebagai pendengung opini yang bertujuan untuk mendapatkan suara masyarakat inilah yang disebut sebagai propaganda, Propaganda adalah penyebaran informasi (bisa benar, salah, atau selektif) yang disengaja dan sistematis untuk memengaruhi opini, sikap, atau tindakan publik demi mencapai tujuan tertentu, seringkali dengan memainkan emosi daripada logika, dan dapat digunakan untuk tujuan politik, sosial, atau komersial. Ini melibatkan manipulasi representasi, pemilihan fakta, dan pengulangan pesan untuk membentuk persepsi dan mendorong respons yang diinginkan dari audiens.
Propaganda di media sosial merupakan fenomena signifikan di abad ke-21, di mana platform digital seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok menjadi medan pertempuran ideologis dan politik. Penyebarannya memanfaatkan karakteristik unik media sosial untuk memengaruhi opini publik, keyakinan, dan tindakan secara sistematis dan masif.
Dampak Buzzer jika digunakan sebagai alat Politik
Propaganda buzzer bisa menjadi bibit bibit perpecahan dalam masyarakat dengan mengelompokkan orang-orang ke dalam filter bubble atau ruang yang eksklusif, di mana mereka hanya terpapar pada pandangan yang sejalan dengan keyakinan mereka.
Dengan menggunakan teknik mikro-penargetan dan akun bot, buzzer dapat menciptakan ilusi konsensus atau dukungan massa terhadap agenda tertentu, yang menyesatkan opini publik dan melemahkan rasionalitas masyarakat.
Publik dihadapkan pada situasi di mana batas antara informasi yang benar, desas-desus, dan kebohongan menjadi kabur, membuat setiap orang harus memiliki kemampuan menyaring dan menilai informasi sendiri (literasi digital).

0 Comments