Pengertian dan Tujuan Khilafah Setiap Para Rasul Allah

 

Setiap dari kita, mendengar tentang istilah Khilafah, maka sudah barang tentu, fikiran kita melayang kepada Khilafah yang dibangun oleh para sahabat Rasul Allah atau utusan Allah,  yang terngiang di kepala kita adalah Khilafah yang dibangun oleh para sahabat Nabi, seperti kita ketahui bersama, setelah kepergian Nabi Muhammad saw, para sahabat Nabi berhasil melanjutkan misi yang diajarkan Nabi Muhammad saw, yaitu misi rahmatan lil alamain, misi agar alam semesta menjadi rahmat atau misi damai sejahtera bagi seluruh alam semesta termasuk umat manusia didalamnya, misi tersebut tidak mengenal perbedaan suku maupun bangsa tapi misi yang diperuntukkan bagi dunia, sehingga tujuan Khilafah didirikan atau ditegakkan di muka bumi adalah untuk memakmurkan bumi, sehingga bumi menjadi tempat seperti hal nya surgawi, penuh nikmat dan rahmat (kasih sayang) dari Tuhan Semesta Alam.

Tugas dari para pendiri Khilafah adalah untuk mengekplorasi dunia, misi untuk membawa ideologi atau ajaran-ajaran TSA yang berisikan hukum Tuhan semesta alam dan segala hal yang termaktub dalam KitabNya, baik itu tentang ilmu pengetahuan, hubungan sosial (hubungan antara manusia ke manusia) , maupun cara mengelola atau tata kelola alam, semuanya adalah bagian yang diajarkan oleh TSA, untuk diberitakan keseluruh penjuru dunia, agar masyarakat dunia mengenal bahwa ajaran-ajaran Tuhan Semesta Alam adalah ajaran yang membawa misi perdamaian, kemanusiaan, dan terutama sekali misi ketundukpatuhan kepada Tuhan Semesta Alam, selaku pencipta manusia, agar manusia tidak melanggar batas dari aturannya yang menyebabkan mereka tergilas dari roda kehidupan yang yang mengarah kepada kemurkaan dariNya.

Konsep Khilafah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, kemudian diberlakukan oleh para sahabatnya ketika kepergiannya kembali kepada sang pencipta, adalah konsep hidup  yang diwahyukan oleh TSA melalui Nabi Muhammad saw, yang berisikan cara untuk mengelola umat setelah kepergiannya, Khilafah adalah tempat dimana hukum TSA berdiri atau ditegakkan, tanpa Khilafah maka tidak akan pernah adanya pemberlakukan hukum Tuhan Semesta Alam di tengah-tengah kehidupan manusia, secara bahasa, Khilafah berarti Kekuasaan, pergantian, dan pergiliran.

Berbicara esensi dasar dari Khilafah, mengandung pengertian, yaitu, kekuasaan atau pergiliran secara umum, artinya, Khilafah tidak membahas mengenai agama, melainkan hanya sebagai tempat dimana hukum Tuhan di berlakukan di seluruh penjuru dunia, dalam hal ini, Khilafah yang didirikan oleh para sahabat Nabi, adalah tempat yang menjadi pusat dari hukum Tuhan diberlakukan, perannya sebagai wasit dunia, dalam hal ini, Khilafah tidak berperan untuk menjajah bangsa-bangsa, seperti halnya bangsa Kolonial, maupun bangsa Jepang yang menjajah Indonesia, dalam hal ini, misi dari Khilafah adalah misi untuk menyeru seluruh bangsa, untuk tunduk dan patuh kepada Hukum Tuhan Semesta Alam, dan memberlakukannya dalam segala sendi kehidupan manusia.

Istilah Khilafah, walaupun secara bahasa hanya berarti kekuasaan secara umum, tapi dalam kebiasaannya, Khilafah sering diartikan sebagai kekuasaan Tuhan Semesta Alam, atau tempat satu-satunya hukum Tuhan Semesta Alam berdiri, yang mana dalam konsep Khilafah (sistem Khilafah) yang didirikan tersebut bertujuan untuk mendamaikan dan mensejahterakan bangsa-bangsa, yang mengharuskan seluruh bangsa-bangsa tunduk dan patuh kepada Khilafah atau pusat dari Hukum Tuhan Semesta Alam diberlakukan, dan apabila ada bangsa yang menolak untuk tunduk dan patuh kepada Hukum Tuhan Semesta Alam, maka akan diperangi sampai mereka mau tunduk kepada Hukum Tuhan Semesta Alam, hal ini bisa terjadi apabila Khilafah tersebut menjadi terang bagi dunia, atau pusat kekuasaan Tuhan Semesta Alam di dunia, artinya Khilafah tersebut memiliki kuasa penuh dalam perannya sebagai pengganti Tuhan Semesta Alam di bumi, dan dikarenakan Tuhan Semesta Alam hadir dalam Khilafah yang didirikan tersebut, maka tidak ada yang tidak berhasil, atau semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan Semesta Alam, bangsa-bangsa tunduk dan patuh kepada Khilafah tersebut, baik suka maupun terpaksa, karena tentara atau pasukan yang dimiliki Khilafah adalah dari langit, atau tentara yang memiliki kuasa penuh dari Tuhan untuk menghabisi musuh-musuh Tuhan Semesta Alam yang tidak mau tunduk kepada hukumNya, selain itu juga, tentara mereka adalah tentara yang tidak terlihat atau melalui azab yang turun kepada bangsa-bangsa yang menjadi musuh Allah tersebut, sehingga mereka dihancurkan sehabis-habisnya, seperti halnya tujuh bangsa yang diceritakan dalam KitabNya yang di azab oleh TSA diakibatkan kedurhakaannya menolak para utusan Tuhan Semesta Alam, seperti itulah di zaman kepemimpinan para sahabat Nabi, mereka mampu berkuasa sangat lama, memimpin dunia, dan mampu membawa misi rahmatan lil alamain tersebut sampai dengan penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Pertanyaan bagi kita, apakah bisa kita memberlakukan Hukum Tuhan Semesta Alam, ketika tidak ada Khilafah semodel di zaman para sahabat Nabi, berlaku di muka bumi? Ibadah atau segala aktivitas hidup menjalankan segala hukum Tuhan Semesta Alam secara kaffah atau keseluruhan, apakah bisa kita lakukan jika tidak ada Khilafah? Apakah ibadah yang tidak bisa dilaksanakan tersebut secara kaffah tersebut bisa diterima, atau ibadah atau istilah gaulnya, gue gue,  elu-elu, di dalam istilah bahasa betawi, atau ibadah secara perorangan bisa diterima sebagai ibadah dari Tuhan Semesta Alam ? Seperti yang diterangkan dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 208, yang menerangkan bahwa masuk kedalam Islam haruslah secara kaffah atau keseluruhan, dan pada Al Qur'an surat An Nisa 4 ayat 150 dan 150 tentang pengertian dari orang-orang yang kafir (menolak kebenaran) sebenar-benarnya, adalah orang-orang yang tidak mampu tegas dalam hidupnya, atau dalam bahasa lebih tepat adalah tidak mampu kaffah dalam mengimani atau memaksakan ajaran Allah atau Tuhan Semesta Alam.

Al-Baqarah 2:208

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.

An-Nisa' 4:150

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا۟ بَيْنَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا۟ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir),

An-Nisa' 4:151

أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ حَقًّاۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir (orang-orang yang menolak kebenaran) itu azab yang menghinakan.

Selain itu, tujuan Khilafah didirikan di tengah-tengah kehidupan manusia (peradaban) adalah sebagai wujud dari kasih sayang Tuhan Semesta Alam kepada penciptanya, sehingga tidak ada alasan manusia menuduh Tuhan Semesta Alam berlaku zhalim atau berbuat aniaya terhadap mereka.

Pada dasarnya, Tuhan Semesta Alam memiliki sifat rahman (kasih) dan rahim (sayang), yang disebutkan dalam kalimat di dalam Al Qur'an, hal yang menjadi bacaan satu-satunya manusia, bismillahirrahmanirrahim, kalimat ini sebenarnya sangat sering kita dengar dan sangat sering kita sebut, setiap kali kita melakukan ibadah, kita selalu mengucap bacaan atau kalimat ini, walaupun kalimat ini sangat sederhana, tapi inilah yang di bawa dalam konsep Khilafah (sistem Khilafah), dan perlu perjuangan yang tidak tanggung-tanggung dengan mengorbankan harta dan jiwa untuk membumikan kalimat ini di tengah-tengah kehidupan manusia.

Seperti itulah pengertian dan tujuan dari pendirian Khilafah atau Kekuasaan Tuhan Semesta Alam atau Darussalam atau Yerussalem atau Kerajaan Allah di muka bumi, sehingga dari kita memahami dengan benar, apa yang dimaksud dengan Khilafah, dari segi pengertian bahasa, maupun dari sudut pandang sejarah di zaman kekhalifahan (kepemimpinan) para sahabat Nabi Muhammad saw, dan tujuan sebenarnya didirikannya Khilafah adalah sebagai misi rahmatan lil alamain, atau menjadikan bumi yang kita cintai, sebagai tempat dimana rahmat TSA selalu turun keatasnya, tidak ada ketidaksetimbangan dan ketidakharmonisan di alam semesta, termasuk manusia di dalamnya, semua berjalan dengan semestinya, sesuai dengan rule-nya atau aturan baku yang telah Tuhan tetapkan kepada manusia, maka, tidak ada hal yang melampaui batas yang dilakukan oleh manusia, yang mendatangkan murka dariNya.

Kemudian, setelah memahami hal-hal tersebut, harapannya, kita pun menjadi aware, dan memahami bahwa satu-satunya jalan untuk beribadah dengan benar adalah menjadikan sistem Khilafah sebagai satu-satunya yang berlaku di bumi manusia, tidak ada jalan lain bagi manusia, selain menggunakan Hukum Tuhan Semesta Alam, agar bumi kembali ketitik mizan-nya, dan tidak ada chaos yang terjadi dalam kehidupan manusia (peradaban).

No comments:

Powered by Blogger.