Sejarah peradaban manusia sering kali terlihat seperti rangkaian panjang konflik yang diselingi oleh masa damai yang singkat. Dari zaman batu dengan senjata tajam hingga era modern dengan teknologi nuklir, perang tetap menjadi fenomena konstan yang mengikuti jejak langkah spesies kita. Meskipun dunia telah membangun organisasi internasional, merumuskan hukum kemanusiaan, dan memajukan pendidikan, suara dentuman senjata tetap saja terdengar di berbagai belahan bumi.
Secara kasat mata, perang tampak sebagai kegagalan diplomasi atau ledakan ambisi politik. Namun, eksistensi konflik yang terus berulang ini memicu pertanyaan besar: Apakah perang memang merupakan bagian tak terpisahkan dari sifat dasar manusia? Memahami alasan di balik fenomena ini memerlukan tinjauan mendalam dari berbagai aspek kehidupan, yang secara historis terpola dalam perjalanan risalah kenabian Muhammad SAW.
1. Tinjauan Akar Masalah: Perspektif Umum
Secara umum, perang bukanlah kejadian acak, melainkan hasil dari kompleksitas struktur sosial, politik, dan ekonomi yang gagal mencapai keseimbangan:
Perspektif Ekonomi (Persaingan Sumber Daya dan Materialisme): Konflik sering kali berakar pada kebutuhan materi. Dalam sejarah, perang dipicu oleh perebutan tanah subur dan sumber air. Di era modern, motif ini bergeser namun tetap eksis dalam bentuk perebutan cadangan minyak, mineral langka untuk industri teknologi, hingga jalur perdagangan strategis. Ketimpangan distribusi kekayaan antarnegara menciptakan kondisi di mana perang dianggap sebagai cara pintas bagi negara kuat untuk mengamankan kemakmuran mereka di atas penderitaan negara lain.
Perspektif Politik (Hegemoni dan Kekuasaan): Secara politik, perang sering digunakan sebagai alat untuk memaksakan pengaruh (hegemoni). Negara-negara cenderung terjebak dalam "Dilema Keamanan," di mana upaya suatu negara untuk merasa aman (dengan memperkuat militer) justru dianggap sebagai ancaman bagi negara lain. Selain itu, elit politik terkadang menggunakan sentimen nasionalisme yang berlebihan untuk memicu konflik eksternal guna menutupi kegagalan politik domestik atau untuk melegitimasi kekuasaan mereka.
Perspektif Sosial (Identitas dan Psikologi Massa): Manusia memiliki kecenderungan psikologis untuk berkelompok. Fenomena "In-group vs Out-group" menciptakan rasa persaudaraan di dalam, namun sekaligus menumbuhkan prasangka terhadap mereka yang berbeda secara etnis, budaya, atau ideologi. Ketika perbedaan ini diprovokasi oleh propaganda, manusia bisa kehilangan empati (dehumanisasi) terhadap lawan, yang membuat tindakan kekerasan massal menjadi lebih mudah dilakukan tanpa beban moral.
Industri Militer Modern (The War Economy): Dalam struktur ekonomi global saat ini, perang telah menjadi komoditas. Industri persenjataan raksasa yang menyerap jutaan tenaga kerja dan modal triliunan dolar menciptakan ketergantungan sistemik. Tanpa konflik, permintaan pasar terhadap alutsista akan menurun. Tragisnya, hal ini menciptakan lingkaran setan di mana perang dipelihara demi stabilitas ekonomi industri pertahanan tertentu.
2. Landasan Al-Qur'an: Dari Pembinaan Iman Hingga Pertahanan Risalah
Jika kita menilik sejarah Muhammad SAW, Al-Qur'an menunjukkan bahwa perang bukanlah tujuan utama, melainkan konsekuensi dari upaya mempertahankan kebenaran di tengah penindasan.
Fase Makkiyah: Penanaman Tauhid dan Kekuatan Mental Selama kurang lebih 13 tahun di Makkah, risalah Muhammad SAW difokuskan sepenuhnya pada penguatan akidah, mental, dan akhlak. Meskipun umat Islam saat itu mengalami penyiksaan fisik yang keji dan boikot ekonomi yang melumpuhkan, Al-Qur'an belum memberikan izin untuk membalas dengan kekerasan. Fase ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati harus dibangun dari kematangan spiritual dan kesabaran. Fokus utamanya adalah memenangkan hati melalui dakwah yang damai, sekaligus membuktikan bahwa kebenaran tetap tegak meski tanpa kekuatan senjata.
Fase Madaniah: Hijrah dan Legitimasi Pertahanan Diri Setelah hijrah ke Madinah, umat Islam mulai membentuk entitas masyarakat yang mandiri. Namun, ancaman dari kaum musyrikin Makkah tidak kunjung usai; mereka terus berupaya menghancurkan Islam melalui agresi militer dan konspirasi. Di sinilah Al-Qur'an menurunkan izin untuk berperang sebagai bentuk pertahanan eksistensi. Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj 22: 39:
"Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah terzalimi..."
Perang dalam fase Madaniah dilakukan bukan untuk agresi atau penjajahan, melainkan untuk melindungi misi risalah dan memastikan bahwa keadilan tidak diinjak-injak oleh kekuatan tirani yang menentang kebenaran. Ini menunjukkan bahwa ketika diplomasi dan kesabaran dibalas dengan pedang yang zalim, maka kebenaran memiliki hak untuk membela diri demi menjaga keberlangsungan risalah ilahi di bumi.
Kesimpulan
Perang tidak pernah pergi dari manusia karena ia berakar pada perpaduan antara insting bertahan hidup, ambisi kekuasaan, dan kegagalan dalam mengelola nafsu materi. Sejarah Muhammad SAW mengajarkan kita bahwa perdamaian dan keimanan adalah pondasi utama (Makkiyah). Namun, Al-Qur'an juga realistis bahwa dalam menghadapi kezaliman yang terorganisir, umat manusia harus memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri (Madaniah) agar misi keadilan dan risalah ketuhanan tidak musnah dari muka bumi.

0 Comments