Ticker

6/recent/ticker-posts

Kedudukan dan Fungsi Alquran

Salah satu sumber kebenaran Allah SWT adalah Wahyu (Al-Quran). Hari ini tradisi membaca atau mempelajari Kitab Al-Quran hanya untuk dijadikan pengetahuan dan sumber untuk mendapatkan pahala. Banyak orang khususnya umat Islam dalam membaca Al-Quran tak ubahnya seperti membaca sebuah buku dongeng atau fiksi sesuatu yang tidak bisa di terapkan dalam keseharian hidupnya. Fenomena yang terlihat saat ini adalah kitab Al-Quran dan Kitab-Kitab Tafsirnya yang beredar di tengah masyarakat belum mampu membangkitkan minat manusia untuk menjadikan Al-Quran sebagai Kitab yang hidup, Kitab petunjuk buat manusia sebagai wahyu intrupsional Allah SWT bagi mereka yang membacanya. Al-Quran bukanlah satu Kitab yang di turunkan sekaligus kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk tertulis di atas kertas, melainkan suatu himpunan informasi Allah yang di turunkan secara berangsur-angsur, Selama 23 tahun. Wahyu atau Firman Allah (Al-Quran) tersebut di sampaikan dan dibacakan oleh Nabi Muhammad kemudian di hafalkan dan di tulis oleh para Sahabatnya hafalan dan tulisan tersebut selanjutnya di kumpulkan dan di susun dalam satu mushaf Al-Quran pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Susunan Al-Quran yang ada saat ini diyakini disusun sesuai dengan arahan langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam bentuknya yang terlihat saat ini, Kitab Al-Quran itu terdiri atas 30 Juz, 114 Surat, terdiri dari 6236 ayat. Al-Quran berisi tentang masalah keimanan ataupun aqidah, peraturan-peraturan hukum yang mengatur tingkah laku dan tata hidup dan kehidupan ummat manusia baik secara personal maupun sosial.

Dari segi priodesasi turunnya wahyu Al-Quran dibagi menjadi dua jenis ayat yang pertama jenis ayat-ayat yang turun di periode Makkiyah (di turunkan oleh Allah sebelum Hijrah) sebanyak 86 surat. Dan yang kedua jenis ayat-ayat Madaniyah, yaitu ayat-ayat yang ditutunkan setelah Rasulullah Muhammad Hijrah sebanyak 28 Surat. Dari jenis ayatnya, Allah membagi ayat-ayat menjadi 2 jenis ayat, yang pertama jenis ayatnya Muhkamat : (Jenis ayat-ayat terkait dengan masalah hukum). Dan yang kedua jenis ayatnya Mutasyabihat : (Yakni ayat-ayat metaforis, alegoris atau ayat-ayat perumpamaan). Meskipun bahasa yang digunakan dalam Al-Quran adalah bahasa Arab tidak berarti semua ayat dapat serta merta dimengerti dan di pahami seluruhnya secara benar oleh masyarakat Arab ataupun mayoritas ummat Islam. Hal ini karena bahasa Al-Quran adalah bahasa Wahyu yang suci, sehingga tidak semua manusia dapat memahaminya. Esensi Wahyu Allah (Al-Quran) sesungguhnya bukan rangkaian huruf dan kalimat yang tertulis dalam Al-Quran. Apa yang di wahyukan atau di ajarkan Allah para Nabi dan Rasul-Nya sesunggungnya adalah ilmu yang merupakan bagian kecil dari ilmu Allah yang Maha Luas.

Ilmu yang di wahyukan kepada para Nabi dan Rasul Allah adalah ilmu yang bersifat khusus, sesuai dengan kepentingan tugas ke-Rasulannya. Perhatikan pernyataan mengenai hal itu di dalam Al-Quran Surat Ar-Rum (30) ayat 30, perhatikan pula surat As-Syura (42) ayat 52. Bangsa Atab merupakan salah satu bangsa di Dunia yang memiliki kebudayaan yang tinggi. Hal ini dapat di lihat dari tingginya nilai sastra mereka. Ketika suatu bangsa cukup perduli pada nilai-nilai sastra bisa di katakan bangsa itu memiliki sistem pendidikan yang baik. Allah (Tuan Semesta Alam) membangkitkan seorang Rasul dari kualitas bangsa Arab yang demikian itu, tetapi bangsa Arab yang terkenal dengan sastranya itu disebut sebagai bangsa yang Ummi (tidak paham Kitab) : bukan buta huruf, jadi pengertian Ummi yang di maksud adalah tidak memahami makna Kitab-Kitab Allah, bukan tidak tahu baca tulis (Buta huruf). Artinya kemampuan seseorang dalam membaca tulisan tidak menjamin orang tersebut mengerti apa yang di bacanya. Sebagai mana halnya Al-Quran yang banyak di baca orang tetapi sedikit yang memahami maknanya. Dalam konteks inilah suatu kaum di sebut Ummi, lihat Al-Quran surat Al-Jumu'ah (62) ayat 2. Dengan kata lain Fungsi Al-Quran Allah memerintahkan Rasulullah Muhammad untuk mengubah prilaku masyarakat dunia yang Jahiliah

Menjadi prilaku yang Al-Quranis dengan metode wahyu. Jadi pahamlah Rasulullah Muhammad bahwa dirinya telah mendapat tugas Ke-Nabian dari Allah SWT, untuk lebih mengetahui kedudukan dan fungsi Al-Quran sebagai Kitab petunjuk. Mari kita perhatikan uraian mengenai kedudukan dan fungsi Al-Quran yang lebih khusus

1. Al-Quran sebagai Hudan (Petunjuk)
secara prinsip, Al-Quran berfungsi sebagai Kitab Petunjuk bagi ummat manusia pada umumnya, dan bagi orang2 yang bertakwa pada khususnya. Sehingga, memahami maksud yang tersurat dan tersirat dari ayat2 Al-Quran adalah sebuah keniscayaan. Tanpa memahami isinya, manusia tidak dapat mengikuti dan menjalani petunjuk Al-Quran. Penegasan akan fungsi Al-Quran dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 185. Ayat ini dengan tegas menyatakan fungsi Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan sekaligus menjelaskan mengenai petunjuk ayat itu. Maksudnya, disamping ayat-ayat Al-Quran berfungsi sebagai petunjuk, ayat-ayat tersebut juga menjelaskan atau menafsirkan maksud dari ayat-ayat lainnya dengan kata lain, ayat-ayat Al-Quran menafsirkan ayat-ayat lainnya (Jadi Al-Quran menafsirkan dirinya sendiri). Selain itu petunjuk ayat2 Al-Quran dijelaskan Allah SWT melalui ayat-ayat tentang kisah para Nabi dan Rasul-Nya.

2. Al-Quran sebagai Bayyinat Min Al-Huda
Kata Bayyinat artinya fakta atau bukti, Bayyinat Min Al-Huda artinya pembuktian dari ilmu atau aktualisasi konseptual. Untuk membayyinatkan Huda (Petunjuk) adalah praktek (Al-Quran) sebagai petunjuk untuk manusia bukan sebatas ilmu teori tapi merupakan ilmu praktek). Al-Quran diyakini banyak orang sebagai suatu kebenaran, tetapi baru sebatas teori (normative)yang akan menjadi pertentangan hebat manakala para ahli Kitab atau ahli Al-Quran di ajak serta untuk membuktikannya dengan beruswah (mencontoh) kepada Sunnal Para Rasul. Sebagai Kitab petunjuk, sejatinya Al-Quran adalah Kitab yang jelas dengan susunan Bahasa yang indah, sehingga Al-Quran mudah untuk di pahami tanpa membutuhkan penafsiran yang berbelit-belit lihat Al-Quran surat Marryam (19) ayat 97 dan surat Al-Qomar (54) ayat 17. Satu hal yang perlu di ingat adalah : Al-Quran akan dapat menjadi Kitab petunjuk dalam kehidupan ini tatkala seseorang telah meninggalkan keyakinan dan komunitasnya yang muysrik (Najis) dan masuk ke dalam komunitas mukmin. Komunitas orang-orang beriman adalah sekumpulan orang-orang yang telah berjanji untuk menegakkan aktivitas Pengabdian hanya kepada Allah dan menjaga dirinya dari hal-hal yang najis (Muysrik).

3. Al-Quran sebagai Al-Furqon (Pembeda)
Berbicara fungsi Al-Quran sebagai Furqon adalah terbelahnya ummat manusia kedalam 2 ashhab (golongan). Yang pertama kelompok yang berada pada Sabilillah dan yang ke dua kelompok yang berada pada Sabilithogut. Contoh kongkrit adalah komunitas Mekkah dan komunitas Madinah (pada zaman Rasulullah Muhammad SAW) dengan demikian maka orang dapat membedakan mana yang Haq dan mana yang Bathil, mana Sabillah dan mana SabilitThogut tadi, mana aliran sesat dan mana aliran yang benar, mana Ahli Jannah dan mana Ahli Neraka. Secara garis besar Al-Quran dapat di bagi menjadi 2, yaitu perintah dan larangan. Melaksanakan perintah Allah akan berakibat positif bagi manusia di dalam perjanalan hidupnya. Meninggalkan apa apa yang dilarang Allah adalah bentuk langkah preventif manusia agar tidak terlgelincir dari Sirotol Mustaqim. Untuk melaksanakan apa-apa yang di pertintahkan Allah manusia harus selalu sadar akan perintah-petintah-Nya. Manusia tidak mungkin sadar jika ia tidak memahami atau tidak mengerti akan apa yang di pertintahkan kepadanya. Untuk itu agar kita bisa memahami dan mengarsipkan ayat-ayat Al-Quran di dalam Qolbu kita (pusat kesadaran) menjadi kewajiban bagi setiap mukmin dan muslim. Ada 4 langkah yang di harus dilakukan dalam memahami petunjuk Al-Quran :

a. Tadarrus
Tadarrus artinya pelajaran. Jadi, Al-Quran adalah pelajaran yang harus di pelajari. Langkah Tadarrus adalah langkah mempelajari Al-Quran secara seksama. Tidak seperti Taddarus yang di lakukan mayoritas ummat Islam hari ini, yakni membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya dengan mitos mendapat pahala dan berkah.

b. Tafakkur
Tafakkur adalah aktivitas pisikis atau jiwa manusia tentang suatau masalah atau fenomena alam untuk mengambil satu kesimpulan yang baru sebagai sintesa dari hasil pengamatan atau penelitian. Kemampuan berfikir manusia merupakan satu anugrah dari Allah agar ia dapat mengenal Rabbnya. Sesungguhnya, mengerahkan kemampuan berfikir secara maksimal terhadap alam semesta (Akwan) adalah salah satu cara untuk memantapkan keimanan kepada Allah, lihat Al-Quran surat Ali-Imran (3) AYAT 190 -192. Al-Quran yang hanya bagian kecil dari ayat-ayat Allah, hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang mau berfikir. Orang-orang yang tidak menggunakan potensi pikirannya tidak akan mungkin memahami wahyu Allah. Allah dan Rasul-Nya menyamakan orang-orang yang tidak paham Al-Quran seperti orang buta lihat Al- Quran surat Al-Anam (6) ayat 50. Dalam menjelaskan fakta-fakta kehidupan ummat manusia, Al- Quran banyak menggunakan ayat-ayat alam (Qauniyah) sebagai amsal (perumpamaan). Ayat- ayat mutasyabihat hanya bisa di pahami maksudnya oleh orang-orang yang mau berifikir dengan begitu indahnya, Al-Quran mengumpamakan kehidupan suatau bangsa yang tidak berdasarkan kepada Din Al Islam (tidak berdasarkan Quran). Lihat Al-Quran surat Yunus (10) ayat 24. Tambah surat 3 ayat 14, tambah surat 2 ayat 212, tambah surat 3 ayat 185, dan tambah surat 6 ayat 70, tambah surat 47 ayat 36-38, tambah surat 57 ayat 20.

c. Tadabbur
Jika Tafakkur adalah penggunaan akal pikiran agar manusia memahami apa yang di uraikan Al- Quran, tadabbur mengandung makna yang lebih dalam lagi, yaitu merenung, merenung adalah aktivitas jiwa spiritual yang dilakukan dengan cara membolak-balikkan persoalan, sehingga di capai satu kesimpulan yang bersifat mutlak dan amat berpengaruh terhadap jiwa seseorang. Lihat surat As-Sajadah (32) ayat 5, tambah surat An-Nisa (4) ayat 82, dari pernyataan kedua ayat di atas, dapat di simpulkan bahwa manusia di minta untuk merenungi ayat-ayat Al-Quran yang berjumlah ada 6236 ayat yang tidak ada satupun ayat yang kontradiktif satu sama lain, baik dari segi isi, redaksional maupun tata bahasanya. Dari segi isi perlu di ingat kembali bahwa Al-Quran diturunkan secara bertahap sesuai dengan fase-fase Jihad yang sangat berbeda-beda situasi dan kondisinya, tetapi apa yang di ungkapkan baik dalam kondisi tertekan maupun aman tetapkah sama.

d. Tasyakur
Tasyakur artinya bersyukur. Al-Quran merupakan bentuk Ar-Rahim (Pengasih) Allah kepada manusia, di dalamnya dijelaskan tentang system kehidupan yang di Ridhoi Allah, atau yang disebut dengan DIN ALLAH. Oleh karena itu untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya kita harus memahami petunjuk-Nya. Secara universal petunjuk Allah dapat dipahami pada alam atau materi organis biologis. Coba perhatikan alam semesta ini apakah ada kesemerautan (Tafawut) ? untuk menjawab pertanyaan ini Allah memerintahkan manusia untuk mengkaji secara berulang-ulang tentang kesempurnaan penciptaan alam semesta. Alam semesta adapat berjalan dengan sempurna dan setimbang karena mengikuti aturan Sang Pencipta. Allah mewahyukan Al-Quran agar manusia memahami perintah atau petunjuk-Nya. Allah sangat membenci orang-orang yang tidak mensyukuri Din-Nya lihat Al-Quran surat Ibrahmim (14) ayat 7.

4. Al-Quran sebagai Ruh dan Nur
Ruh adalah sesuatu yang menghidupkan dan Nur adalah sesuatu yang menerangi. Al-Quran sebagai wahyu adalah Ruh Allah yang dapat menghidupkan Qolbu manusia dari kematiannya. Demikian juga Al-Quran sebagai wahyu adalah Nur Allah yang dapat menerangi penglihatan dan pemikiran manusia sehingga semuanya menjadi jelas, mana yang Haq dan mana ynag batil, mana yang harus di kerjakan dan mana yang harus di tinggalkan. Anda mungkin belum menyadari pasangan sejati dan fitrah bagi Qolbu (akal pikiran) manusia adalah wahyu (Ruhul Qudus). Esensi manusia bukan terletak pada fisik jasmaninya, melainkan pada apa yang berada dalam kesadaran Qolbunya. Setiap aktivitas manusia di dorong dan diperintah oleh Ruh yang ada pada kesadaran Qolbunya. Manusia tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang tidak ada dalam kesadaran akal pikirannya. Ketika seseorang tidak memiliki Ruh Allah (Ruhul Qudus) / Wahyu dalam kesadarannya, dimata Allah dia adalah mayat yang berjalan, manusia yang mati secara spiritual. Dia akan hidup manakala Ruh Allah masuk dan berdiam menjadi daya gerakdalam Qolbunya. Lihat Al-Quran surat Al-Anam (6) ayat 122. Ayat ini tidak bicara soal menghidupkan orang mati secara fisik, karena hal itu tidak pernah terjadi alias mustahil. Namum yang di hidupkan adalah kesadaran ideologi spiritual seseorang oleh Allah melalui orang-orang yang menyampaikan Ruh Allah (Firman/Al-Quran kepadanya), selanjutnya ketika mereka sudah bangkit dari kematian spiritualnya, maka wahyu Allah tersebut akan menajdi Nur Allah dalam dirinya. Qolbunya akan di sinari oleh Wahyu Allah sebagai penerang hidupnya. Meskipun dia berada dalam kehidupan yang gelap (Zulumat/Musyrik) dia masih dapat berjalan di tengah masyarakat manusia yang telah mati akan budinya. Lihat Al-Quran surat Al-Isra (17) ayat 85-86. Yang di maksud dengan kata Ar-Ruh pada ayat di atas bukannlah Roh (nyawa) melainkan Ruh (Ruhul Qudus/Wahyu) Allah. Mereka yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW adalah para ahli Kitab (Taurat dan Injil) karena di dalam Al-Kitab juga banyak bercerita tentang Ruh Allah (Ruhul Qudus). Jawaban Nabi Muhammad adalah Ruh itu adalah termasuk perintah Rabbku dan tidaklah kalian (Ahli Ktab Injil, Turat dan Al-Quran) diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit. Para ahli Kitab di jaman Nabi Muhammad tidak lagi memahami dengan benar maksud dari firman Allah (Ruh Allah) yang ada di dalam Taurat dan Injil. Pada saat ayat di atas diturunkan, ajaran dalam Al-Kitab sudah banyak diredusir maknanya oleh tangan-tangan jahil, isinya tidak lagi Ruh atau Wahyu Allah, melainkan sedikit saja. Benarlah bahwa, ahli kitab memang tidak memahami wahyu kecuali sedikit.

Post a Comment

0 Comments