Memahami Kembali Makna Khilafah dengan Benar


Banyak kita membaca, artikel-artikel baik media cetak maupun media online, dan mendengar berita-berita dari televisi, mengenai istilah Khilafah.

Dalam pemberitaan-pemberitaan tersebut, sebagian besar masyarakat di Indonesia, ramai-ramai menentang gagasan ini, dikarekan tidak sesuai dengan gagasan awal dari pendiri bangsa. Hal inilah yang melatarbelangi, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, menentang sistem Khilafah diberlakukan di Indonesia, karena tidak sesuai dengan dasar negara, yaitu Pancasila.

Sebenarnya, dari latar belakang Indonesia, yang dulunya adalah berbentuk Kerajaan atau menganut sistem monarki atau sistem kekerabatan dalam keluarga yang dijadikan cara untuk memilih penerus, tidak ada salahnya jika kita melihat kebelakang, atau dari sejarah Kerajaan Majapahit maupun kerajaan Sriwijaya, selain itu, apakah konsep Karajaan dan sistem monarki tersebut adalah sesuatu yang salah di dalam Hukum Tuhan yang diterangkan dalam Al Qur'an ? Jawabannya adalah, hal tersebut bukanlah sebuah kesalahan, dikarenakan Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) juga menjadikan keturunannya sebagai penerusnya, seperti halnya, Nabi Ismael (Nabi Ismail as) dan Nabi Ishak as, yang melahirkan Nabi Yakub as, yang merupakan bapak dari Bani Israel (Bani Israil) adalah keturunannya. Seperti kita ketahui, Ka'bah yang merupakan pusat dari agama Islam saat ini dalam hal beribadah adalah peninggalan Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) dan Nabi Ismael (Nabi Ismail as), hal itu sudah sangat jelas membuktikan kepada kita, bahwa sosok Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) adalah sosok paling penting bagi Nabi Muhammad saw, karena dia pun adalah keturunan darinya, yang berasal dari garis keturunan Nabi Ismael (Nabi Ismail as).

Dahulu, sebelum Muhammad berhasil mendirikan Khilafah atau Kerajaan Allah atau kekuasaan Tuhan Semesta Alam di tanah Arab, Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) dan Nabi Ismael (Nabi Ismail as) telah berhasil mendirikan tempat yang menjadikan pusat dari Hukum Tuhan Semesta Alam diberlakukan, dan seiring waktu, masyarakat Arab, tidak lagi setia dengan ajaran yang di bawa oleh Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as), kemudian mulai membuat hukum tandingan selain hukum Tuhan Semesta Alam, yang digambarkan dengan penyembahan kepada patung-patung, dan dianggap sebagian besar umat Islam, orang Arab dahulu adalah bangsa yang primitif, sebelum datangnya Nabi Muhammad saw, padahal, dalam pencatatan sejarah Nabi Muhammad saw, membuktikan bahwa dirinya bukan termasuk golongan yang tidak terpelajar, bangsa Arab pun bukan bangsa yang bodoh, seperti yang dipahami umat Islam saat ini, keluarga Nabi Muhammad saw, adalah berasal dari kalangan terhormat, di tanah Arab, sesuatu yang tidak wajar apabila kita menganggap bahwa Nabi Muhammad saw, tidak bisa baca tulis.

Dalam hal ini, ketika wahyu Tuhan turun kepadanya, saat itu dia belum bisa membaca kondisi, membaca tentang kondisi zaman, kondisi bangsa Arab ketika dia mendapatkan wahyu, dan tentu saja, ketika dia mengetahui bahwa sistem yang berlaku di Arab adalah sistem yang bathil atau bukan sistem yang benar di mata Tuhan Semesta Alam, membuat gejolak dalam hati Muhammad kala itu, dia merasa dirinya sesat, bingung, dan takut, ketika wahyu turun kepadanya, dan kemudian, Tuhan Semesta Alam memerintahkan dirinya, untuk menyampaikan kepada bangsanya, bahwa mereka telah salah mengabdi kepada dua tuan, dan hanya Tuhan Semesta Alam lah yang harus ditaati, atau hukum TSA lah yang seharusnya diberlakukan, bukan hukum lain selain hukum TSA, atau hukum buatan manusia, dan tentu saja, gagasan tersebut mendapat reaksi keras, seperti halnya dalam kondisi sekarang, ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa sistem Khilafah lah yang harus ditegakkan, bukan sistem buatan manusia, maka tuduhan seperti makar, dll, akan menimpa kalangan yang menjadi penggagas dari sistem Khilafah tersebut, seperti itulah yang terjadi di zaman Nabi Muhammad saw, dengan berani, dia menentang Abu Jahal, yang merupakan kerabat dia sendiri, untuk kembali kepada sistem yang diajarkan oleh leluhur mereka, Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as), karena bagaimanapun bangsa Arab yang tinggal disekitar Mekkah adalah bangsa hasil dari pencampuran antara bangsa Arab dengan keturunan Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) melalui Nabi Ismael (Nabi Ismail as) yang di utus ketanah tandus, atau ketanah Arab, untuk membawa konsep Khilafah yang diajarkan oleh bapaknya, Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as), sehingga, dari keturunannya sudah berbaur dengan bangsa Arab, dan terbentuklah bani-bani atau suku-suku hasil pencampuran dari orang-orang pendatang dengan penduduk asli, antara keturunan Nabi Ismael (Nabi Ismail as) dengan bangsa Arab, seperti kita ketahui, Nabi Muhammad saw adalah berasal dari Bani Hasyim, yang merupakan keturunan dari Nabi Ismael (Nabi Ismail as).

Sekarang, bagi kita yang menganut kepercayaan dari salah satu bagian dari ajaran samawi ini, yang mengetahui bahwa dalam keyakinan yang kita anut saat ini, yang bersumber dari ajaran Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) mengajarkan sistem Khilafah dengan sistem monarki dalam menentukan penerusnya adalah sistem satu-satunya yang benar, yang diajarkan oleh para Nabi yang kita imani, maka, bagaimana pandangan kita sekarang, menyikapi sistem Khilafah diberlakukan di dunia saat ini ? Apakah sesuatu yang salah, atau omong kosong apabila sistem Kerajaan Allah atau Khilafah yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw, yang merupakan hasil dari mengambil teladan dari ajaran Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as), kemudian dia berlakukan di tanah Arab, sampai dengan diberlakukannya ke seluruh penjuru dunia, diberlakukan pada kondisi saat ini?

Hal inilah yang menjadi renungan kita bersama, mengenai seperti apa konsep Khilafah yang benar dalam pandangan Kitab-kitabNya maupun pandangan para utusannya atau pembawa risalahNya.

Konsep Khilafah yang benar menurut kacamata Kitab-kitabNya adalah konsep sistem hidup dan kehidupan yang mengatur segala sendi hidup dan kehidupan manusia (peradaban), yang mengajarkan sistem ketundukpatuhan kepada sang pencipta, yaitu Tuhan Semesta Alam, dan dalam sistemNya tersebut hanya memberlakukan sistem TSA, yang sifatnya menundukkan hawa nafsu atau kebebasan manusia dalam hal mengutamakan perasaan atau hawa nafsu yang bertentangan dengan aturan-aturan yang telah Tuhan Semesta Alam kepada manusia, sehingga kebebasan manusia dalam bertindak diluar hukum TSA akan diatur sebagaimana mestinya, agar tidak merusak kehidupan di alam semesta, termasuk manusia di dalamnya, karena bagaimanapun, manusia harus memiliki aturan dalam hidupnya, ketika manusia tidak hidup sesuai aturan yang benar sesuai kehendak sang penciptanya, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan, ketidakharmonisan, pertumpahan darah atau perang bangsa melawan bangsa, pertikaian tidak berujung, kecemasan dan ketakutan yang selalu menghinggapi segala sendi kehidupan, tidak ada keamanan dimanapun berada, dll.

Seperti itulah kondisi yang terjadi apabila tidak menggunakan sistem yang benar dari sistem yang TSA tetapkan pada manusia, karena manusia adalah makhluk ciptaanNya, maka hal yang sangat wajar apabila Dia satu-satunya yang berhak memutuskan hukum apa yang merupakan hukum terbaik bagi manusia, walaupun hukum tersebut adalah sesuatu yang dibenci oleh manusia.

Bencana yang terjadi baik itu sosial maupun alam, adalah bagian dari ketidakseimbangan alam akibat dari ulah manusia yang sudah melampaui batas dari apa yang seharusnya mereka lakukan dalam mengelola alam semesta, ketika terjadi ketidaksetimbangan maka alam akan menyeimbangkan dirinya sendiri, maka tidak mengherankan datangnya bencana, baik itu gempa bumi, Tsunami, letusan gunung berapi, wabah penyakit, dll, adalah bentuk dari kehendak TSA menyetimbangkan alam, ketika bumi ini diisi oleh manusia yang melebihi batas dari kemampuannya, maka akan dihilangkan sebagian, agar bumi ini setimbang, hal ini lah yang banyak tidak diketahui oleh dunia saat ini, mengenai prinsip kesetimbangan di alam, Alam adalah hasil ciptaan Tuahan Semesta Alam, yang tidak lepas dari kontrolNya, sehingga apapun yang terjadi di alam adalah hasil dari kehendakNya, sehingga, bagi kita yang menganut ajaran samawi, yang bersumber dari ajaran satu, yaitu ajaran dari Nabi Abraham (Nabi Abraham), pantaskah kita mengambil konsep hidup yang lain, selain konsep Khilafah, yang merupakan konsep hidup sejati atau konsep hidup yang telah diundang-undangkan Tuhan Semesta Alam kepada manusia ?

No comments:

Powered by Blogger.