WAHYU SEBAGAI MERIAM KEHIDUPAN

Wahyu berasal dari kata dalam bahasa arab: Hayya; yang artinya hidup. Orang yang dapat memahami wahyu dapat hidup bergerak untuk bekerja bagi kepentingan Nya. Tahu tugasnya, dan tahu tujuannya diciptakan oleh Dia. Wahyu merupakan peluru bagi manusia dalam menjalankan tugasnya.

Uraian berikut sebagai jembatan dalam memahami apa yang dimaksud Wahyu itu.

Maka ia harus bersifat logis, dapat dibuktikan, dan memiliki ukuran yang metric dalam pengujian kebenarannya.

Ketika Michael Faraday menemukan teori kelistrikan pada tahun 1821, ia tidak pernah membayangkan seperti apa efek dari penemuan itu dan tidak pernah melihat sebab akibat dari listrik yg dapat dimanfaatkan oleh berjuta bahkan bermilyar manusia setelahnya. Tapi ada sesuatu yg “berbicara” dalam benaknya, ada sebuah kalimat yg teruntai dengan tertata rapi. Ia mendikte Faraday untuk mengambil magnet, jarum, kawat, pena, kertas, dan alat peraga demi membuktikan kata-kata yg mengalir dalam kesadarannya. Cara kerja dan manfaat hukum listrik yg (kemudian disebut hukum Faraday) itu pada akhirnya berhasil ia kemas dalam bahasa yg difahami oleh manusia umum untuk dapat dipergunakan oleh umat manusia.

Pada saat itu bukan hanya Faraday yg berfikir tentang tantangan sebuah hukum yang efisien dan efektif untuk kemudahan hidup. Ada puluhan, bahkan ratusan ilmuan yg berfikir dengan modus yg sama. Tidak sedikit ilmuan yg memiliki dana, kesempatan, dan otak yg brilian sedang menggali hal yg sama pada saat yg sama pula.

Tetapi mengapa Michael Faraday yang miskin justru menemukannya? Itu karena Sang Pengatur “MemilihMichael Faraday sebagai jembatan kata-kata Nya, sebuah sifat Pengasih yg akan diberikan kepada umat manusia. Kata “Memilih” hendaknya tidak disandarkan seperti kita sedang memilih seseorang diantara beberapa orang. Tetapi itu adalah bahasa Fragmentasi untuk menunjukan perilaku Nya dalam menentukan seorang manusia sebagai jembatan bagi sifat “Pengasih” Nya.

Tak bisa dibayangkan bagaimana jika listrik tidak ditemukan untuk menjadi manfaat bagi banyak aplikasi dalam kehidupan. Kita akan hidup seperti di zaman batu tanpa adanya kemajuan yg berarti. Hari ini tidak ada satu manusiapun yg tidak menggunakan listrik.

Bahkan suku Baduy di Banten pun kini telah mulai menggunakan aplikasi listrik sebagai sarana kemudahan dalam hidup. Kata-kata yg menjadi pembimbing dalam kesadaran Michael Faraday kepada penemuan listrik itulah yang dapat disejajarkan dengan bekerjanya sebuah wahyu.

Wahyu tidak berbentuk dan tidak memenuhi ruang dan waktu.

Contoh: Ketika Teori tentang atom ditemukan oleh John Dalton pada th 1803, ia sendiri tidak pernah melihat apa bentuk atom itu. Dan pada saat itu belum ada teknologi untuk menyaksikan besar, bentuk, sifat atom. Tetapi teori itu membentang dengan jelas dalam kepalanya dan menjadi momen yg sangat besar bagi kemajuan teknologi dalam kehidupan. Ilmu tentang atom yang bekerja dalam kesadaran John Dalton itulah yang dapat diparalelkan dengan pemahaman turunnya Wahyu.

Dengan wahyu manusia bisa bergerak hidup secara komunal, bergerak untuk mendarma baktikan kemampuan yang dimiliki bagi kebaikan umat manusia. Dengan ditemukannya listrik, menjadi awal ditemukannya penemuan-penemuan lain yg berbasis dari penemuan hukum listrik yang monumental itu.

Dengan kata lain, wahyu listrik turun kepada Michael Faraday, wahyu teori atom turun kepada John Dalton. Bagaimana dengan orang yang merasa mendapat wahyu dan dapat berefek besar bagi kehidupannya. Tinggal dilihat motif dan pengaruh dari yang diklaim sebagai wahyu itu. Apakah dapat memberikan solusi pada permasalahan manusia secara umum, atau hanya berlaku bagi sekelompok orang tertentu secara eksklusif.

Mari kita lepaskan pemahaman bahwa wahyu adalah sebuah perintah dalam bahasa etnik tertentu yg otoriter, mengekang dan tidak memerlukan pemahaman sarana berfikir manusia. Tetapi ia adalah bentuk Kasih dan Sayang Nya kepada manusia. Tentu wahyu ini memerlukan akal sehat dan pemikiran logis dalam menjalankannya.

Apabila ada sesuatu yang diklaim adalah wahyu, tetapi tidak memerlukan pemahaman untuk masuk ke dalam kesadaran yang menjalankannya, itu bukan wahyu. Tetapi lebih mengena jika disebut klenik atau Mantera yang bersifat dogmatis. Dipercaya, didengar, tetapi tak dapat dibuktikan oleh kesadaran manusia sebagai pelakunya. Adalah sesuatu yang mustahil jika Dia menurunkan perintah tanpa dapat dipahami oleh akal manusia. Padahal akal manusia diciptakan untuk dapat memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip yang terkandung dalam wahyu.

Lantas apa bedanya wahyu yang turun kepada Nabi/Rasul dengan para penemu-penemu ilmu alam?

Alam semesta adalah perwujudan sifat-sifat Nya yang Maha Agung. Agung karena sifat-nya itu tetap eksis dan bekerja walau manusia menolaknya, walau manusia mendustakannya. Para inventor yg menemukan ilmu-ilmu yg sangat berguna bagi kemaslahatan umat manusia adalah orang-orang yg mampu menangkap wahyu pada alam. Di dalamnya mengandung ilmu berguna untuk menghidupkan manusia kearah yg lebih baik dari sebelumnya. Dan para penemu itu menjadi pilihan Nya sebagai jembatan bagi sifatnya yang Maha Pengasih kepada umat manusia.

Sedangkan para nabi dan rasul adalah orang-orang yg dapat menangkap karakter dan sifat Nya dengan mengambil pelajaran dari sifat-sifat nya yg terkandung pada alam. Bahwa penciptaan alam semesta adalah sebangun-seirama dengan penciptaan komunitas manusia. Bahwa umat manusia harus mentaati Nya dengan menyelaraskan gerak dan tekad sebagaimana alam.

Lihat bagaimana seorang nabi pada abad ke 7 dapat menjelaskan proses penciptaan alam semesta yang dimulai dari penciptaan kabut (dughon), kemudian ditaati dengan dikelilingi oleh anggota-anggotanya sebagai sebuah komunitas. Prinsip ini berlaku pula pada lingkungan yang lebih kecil seperti tata surya dengan planet-planet nya, bahkan kepada bumi dengan bulannya. Teori ini baru pada tahun 1929 dipublikasikan oleh Edwin Hubble sebagai teori Big Bang.

Pertanyaannya, siapa yang mengajarkan nabi untuk mengemukakan teori yg sekarang disebut teori big bang? Bukankah mulai dari abad ke 5 sampai dengan abad 14 Eropa masih dikungkung oleh abad kegelapan? Siapa yang mengajarkan nabi ilmu perbintangan seperti itu? Tetapi orang yg disebut nabi itu tidak mempunyai visi untuk melahirkan para astronom, bukan pula ahli nujum.

Lihat pula bagaimana seorang nabi pada abad ke 7 dapat mengemukakan ilmu tentang Embrio dengan tahapan-tahapan jelas, tentang tumbuhnya janin di perut ibu hingga dapat lahir ke bumi. Dimulai dari penjabaran tentang sperma yg bertemu dengan sel telur, kemudian ia bertaut dalam satu ikatan, kemudian menjadi sebuah organisme lunak yg berjalan menuju dinding rahim untuk membina uterus (pusat sebagai saluran bahan makanan), kemudian janin itu mengembangkan tulang sebagai pembentuk tubuh, kemudian membentuk daging yg menempel pada tulang, sampai pada saatnya janin itu sempurna dan keluar dari vagina ibunya.

Sedangkan Karl Ernst von Baer -sebagai bapak embriologi- baru diakui dunia pada awal abad 19 dengan teori serupa dengan yang diungkapkan pada abad ke 7.

Siapa yang mengajarkan nabi itu tentang embriologi? Dan nabi itu ternyata tidak menjadi dukun beranak dengan embriologi yang dipaparkannya?
Lantas, apa hubungan wahyu penciptaan alam dan embriologi yang diterimanya dengan permasalahan psychosocial yang dihadapinya?

Nabi dan atau Rasul bukan menjadikan ilmu-ilmu alam itu sebagai peluru utama dalam pekabarannya. Tetapi dialah orang yang dapat menyimpulkan dan mengabarkan pada umat manusia. Bahwa ada hubungan antara penciptaan alam dengan komunitas manusia. Bahwa umat manusia harus sebangun perjalanan peradabannya dengan perkembangan alam.

Bahwa jika manusia memiliki pola hidup yg berlawanan dengan alam, maka komunitas manusia itu akan punah ditebas oleh dahsyatnya dinamika alam dan hiruk pikuk manusia itu sendiri. Bahwa Manusia harus menjadikan alam sebagai soko gurunya.

Maka jika ingin melihat kebenaran dari wahyu yang dipaparkannya, silahkan lihat alam. Karena pada alam terdapat pembuktian (syahid) dari kebenaran kata-kata Nya. Dan Wahyu ini harus dapat diterima oleh akal sehat dan logika manusia, karena manusialah sebagai penembak wahyu yang menjadi meriam dalam menjalankan fungsi sebagai alat Nya.

BACA JUGA : Penjelasan Dien tidak sama dengan agama

Namun sayang, hari ini manusia kebanyakan memperlakukan meriam itu layaknya barang pajangan. Dirawat, dipoles, dibersihkan, tapi moncongnya tak pernah memuntahkan amunisi yang dapat membangunkan kesadaran manusia.
Besar, gagah, Keramat, namun hanya mengundang decak kagum yang melihatnya tanpa pernah dapat dibuktikan ketangguhannya.

 

Red @Rasy

Prev 1 of 9 Next
Prev 1 of 9 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x