Syarat Berdirinya Khilafah

Berbicara tentang Khilafah dalam kondisi saat ini seperti makan buah simalakama, memang dalam kenyataannya Syarat Berdirinya Khilafah sulit sekali gagasan tentang sistem Khilafah diberlakukan dalam kehidupan manusia

walaupun di tanah Arab sekalipun, yang merupakan peninggalan dari kejayaan Nabi Muhammad saw, tapi tetap saja

kerajaan yang berada di tanah Arab saat ini bukan lah Kerajaan seperti Kerajaan atau Khilafah yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya

dalam hal kekuasan yang menguasai dunia saat ini, bukan lah seperti di zaman para sahabat Nabi, atau kekuasaan mutlak, atau superpower

tidak berada di tangan Kerajaan Arab saat ini, Kerajaan Arab saat ini, dikenal sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah haji

bukan lagi tempat yang penuh kuasa dari Allah SWT untuk membantu dan organisasi bangsa-bangsa, agar senantiasa tunduk kepada Hukum Tuhan.

Negara VS Khilafah

Dalam kondisi saat ini, sudah barang tentu kita tahu bahwa bukan di tangan negara Islam atau negara yang berpenduduk kuat Islam, yang memiliki kuasa penuh untuk membantu bangsa-bangsa

atau sebutan yang lebih tepat adalah bukan negara Islam lah yang saat ini menguasai dunia, atau menjadi negara adidaya.

Hal tersebut adalah merupakan ketetapan Tuhan, karena kekuasaan selamanya-mata datangnya dari Allah SWT, maka tidak ada sistem Khilafah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw

kemudian diberlakukan di zaman para sahabat Nabi berlaku selamanya, seperti diterangkan pada ayat di bawah ini

bahwa terdapat pergiliran kekuasaan antara sistem yang mendatangkan kemuliaan dan sistem yang mendatangkan kehinaan bagi manusia.

Al Quran Ali-Imran 3:26

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Sehingga, bagi yang kita yang memahami betul, bahwa syarat berdirinya Khilafah adalah memiliki aturan yang harus ditegakkan (aturan atau Hukum Allah), penegak-penegak Khilafah (Khalifah),

negara atau daulah dalam menjalankan sistem Khilafah, dan terakhir umat atau masyarakat yang tunduk patuh kepada sistem Khalifah tersebut

maka, seharusnya kita menjadi sadar dengan kondisi saat ini, bahwa Islam atau Khilafah yang dibawa oleh Nabi Muhamad saw

sudah tidak sama dengan sebelumnya atau ketika para sahabat Nabi berkuasa

kondisi sekarang adalah kondisi dimana hukum Tuhan sedang berada di bawah hukum bangsa-bangsa atau hukum buatan manusia

 

atau istilah lebih ringkas adalah Islam sedang dalam kondisi runtuh

sehingga perlu ditegakkan, seperti halnya tugas orang-orang beriman adalah mendirikan atau menegakkan shalat, seperti itulah seharusnya dilakukan umat Islam saat ini

dalam shalat ada imam yang memimpin shalat, lambang dari pemimpin dalam Khilafah,

dan ada jamaah atau umat yang mengikuti sistem Khilafah, dan dikatakan juga

setiap shaff atau barisan dalam melakukan shalat harus dalam kondisi rapat agar tidak diganggu oleh iblis atau setan

yang mana shaff tersebut merupakan simbol dari struktur dalam kekhalifahan (kepemimpinan) dalam Khilafah (kekuasaan;kerajaan),

artinya, setiap penegak dalam Khilafah atau Kerajaan Tuhan haruslah berjalan dengan komando yang tersusun rapi dan teratur, taat dengan segala komando yang dikomandoi oleh Imam.

Sahabat Pembaca Syarat Berdirinya Khilafah, Maka, wajarkah atau sebuah kesalahan kah, jika kita menganggap, bahwa shalat saat ini hanyalah ritual

atau bukan lagi seperti di zaman kekhalifahan yang dibangun para Nabi dan Rasul, semenjak dari Nabi Adam?

Seperti yang diterangkan dalam Al Qur’an sendiri, dengan tegas menyatakan bahwa Nabi-nabi yang diceritakan dalam Al Qur’an adalah muslim atau berideologi Islam

padahal jika kita melihat sejarah, Nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw tersebut tidak ada meninggalkan aturan seperti hal nya Nabi Muhammad saw

dalam melakukan ritual shalat saat ini, sebagai bukti atau ukuran kacamata dari umat Islam saat ini bahwa mereka Islam.

Kitab Suci bercerita tentang Sejarah Perjalanan Para Rasul

Dalam hal ini Islam yang dibawa oleh Nabi-nabi sebelumnya, adalah sistem hidup, bukan tentang agama, yang dibawa adalah sistem hidup yang aslama atau berserah diri atau tunduk patuh kepada segala hukum Allah

yang diterangkan baik dalam Kitab Taurat, Kitab Zabur, Kitab Injil, dan Kitab Al Qur’an, karena semua isi dari Kitab-kitab tersebut sumbernya satu, yaitu berasal dari Allah SWT

hanya saja, kisah perjalanan hidup dari setiap Rasul atau utusanNya lah yang membedakan isi dari setiap Kitab tersebut

Kitab-kitab tersebut berisikan sejarah atau perjalanan para Rasul tersebut dalam menjalankan misi menegakkan Khilafah atau Kerajaan Allah seperti hal nya di surga di muka bumi.

Maka, sudah barang tentu, isinya berbeda, karena cara mereka berdakwah, berhijrah atau eksodus, maupun berjihad atau berperang, tidak serta merta sama

walaupun mereka membawa misi yang sama, tetap saja, karena aktor-aktor yang berperan, baik di pihak yang sejalan dengan misi Khilafah maupun yang tidak sejalan

memiliki karakter yang belum tentu sama atau berbeda dengan aktor di zaman Nabi sebelumnya

dan kondisi sosial (peradaban) maupun kondisi alam ketika masing-masing Nabi tersebut diutus belum tentu sama, juga wilayah tempat Nabi tersebut diutus juga berbeda

yang sama hanyalah visi dan misinya, selebihnya belum tentu sama, dari sejarah atau kisah para Nabi tersebut

hanyalah sebagai dasar untuk dijadikan pelajaran tentang mengenal Allah SWT, agar segala yang dilakukan berhasil, tapi walaupun begitu, keberhasilan adalah buah dari proses

di mata manusia mungkin banyak kesalahan yang pernah dilakukan para Nabi dalam berdakwah, seperti halnya Nabi Abraham as, yang mendoakan bapak nya yang sudah jelas-jelas adalah musuh Allah

namun dari situ, kita menjadi paham bahwa karakter Abraham (Nabi Ibrahim as) memiliki sifat yang lembut dalam hatinya,

bukan pribadi yang keras, dan pendendam, memiliki rasa kasih sayang yang tinggi dalam dirinya, begitu pula kesalahan Nabi Yunus as yang tidak sabar dengan umatnya, sehingga dia terjun ke laut

dan kemudian dimakan oleh ikan, kisah-kisah tersebut mengandung bahasa perumpamaan dan hikmah bagi murid-murid para Nabi atau orang-orang beriman.

Semua hal itu bertujuan untuk menjadi pelajaran bagi manusia atau pengingat bagi manusia bahwa Tuhan tidak pernah lengah terhadap apapun yang diperbuat manusia di dunia.

Sahabat Pembaca Syarat Berdirinya Khilafah, Maka, tidak bisa menyimpulkan, kesalahan adalah sesuatu yang sia-sia dan alasan untuk takut berbuat karena ketakutan berlebihan berbuat salah

ketika perintah Tuhan turun kepada para Nabi tidak berbicara benar atau salah, apabila itu adalah perintah

maka pengikut Nabi Muhammad saw, menjalankan hal tersebut tanpa perdebatan, secara garis besar perintah Allah SWT adalah melaksanakan apapun yang telah ditetapkannya

untuk menguji manusia, dan menilai siapa yang paling bertakwa diantara manusia, jadi segala sesuatu yang dianggap manusia sebuah kesalahan dan masalah

adalah bentuk ujian, atau yang seharusnya Allah SWT perbuatan atau kerja Allah SWT untuk menyempurnakan ciptaanNya

agar tercipta manusia-manusia pilihan yang berkarakter seperti halnya dirinya, berkarakter Asmaul Khusna (manusia paripurna).

Nabi Muhammad SAW di utus untuk membangun Khilafah

Namun, apabila berbicara teknis atau cara memimpin, apabila kita meneliti sistem Khilafah di zaman para sahabat Nabi, secara teknis bisa berbeda

etika masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib

bisa ada perbedaan di dalamnya dalam menjalankan roda kepemimpinan, karena situasi dan kondisi dari permasalahan yang terjadi, sewajarnya pasti berbeda

tapi secara rule, mereka tetap menjadikan Al Qur’an atau wahyu atau ajaran Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pondasi dasar dalam menentukan arah kebijakan dalam kekhalifahan mereka

maka, bagi kita yang iman dengan kebenaran yang datang dari Tuhan, tidak sepantasnya cepat menilai apa yang terjadi dengan pemikiran yang sempit atau tidak menyeluruh

karena segala sesuatu berproses atau berjenjang, dikarenakan prinsip ilmu adalah berjenjang, atau bertahap, tidak bisa diturunkan sekaligus

seperti halnya perlu waktu berpuluh-puluh tahun, baru Nabi Muhammad berhasil menyempurnakan akhlak para pengikutnya

proses tersebut yang biasanya manusia tidak paham dan tidak sabar dalam menjalaninya, sehingga cepat mengambil kesimpulan dan memutuskan sesuatu dengan tergesa-gesa

padahal apabila kita sadar bahwa sejatinya, hidup kita diperuntukan untuk Tuhan, maka sudah seharusnya kita bersabar atau menjadi pribadi yang gigih dan ulet

bukan pasrah dengan segala masalah dan kondisi, dalam menyikapi segala yang terjadi dalam kehidupan kita saat ini.

Sahabat Pembaca Syarat Berdirinya Khilafah, Dalam pemaparan tersebut, sebenarnya, kita sudah mengetahui dan paham bahwa segala sesuatu berproses

termasuk dalam pendirian Khilafah, yang saat ini belum terwujud dalam kehidupan manusia, dikarenakan syarat-syarat tersebut belum ada

dalam proses mejadikan syarat-syarat tersebut terpenuhi tersebut haruslah memiliki kesabaran,

dalam menghadapi segala kondisi, baik kondisi di dalam diri kita maupun diluar diri kita atau lingkungan

yang diterangkan dalam kedua surat dibawah ini tentang kewajiban orang-orang beriman untuk bersabar.

Al quran Ali-Imran 3:20

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Al quran Al-Insan 76:24

Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu, dan janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir (orang yang menolak kebenaran) di antara mereka.

Sehingga, dari penjelasan mengenai hal tersebut, maka kita menjadi paham bahwa pendirian atau penegakkan Khilafah, diperlukan proses yang tidak sebentar, dan banyak kesalahan yang mungkin di pandang manusia sebagai kesalahan,

atau cara berfikir manusia yang sempit, padahal kesalahan, sejatinya adalah sesuatu bentuk ujian bagi Allah SWT, karena Tuhan, menciptakan kesalahan atau masalah untuk memilah-milah,

manakah dari manusia-manusia yang dia ciptakan termasuk kedalam golongan orang-orang terjaga aktivitas pengabdiannya dalam beribadah kepada Tuhan (orang-orang bertaqwa)

Istilah Kafir dalam Khilafah

Selain pembahasan mengenai memerlukan kesabaran dalam pendirian Khilafah, hal yang terkadang kita temui dalam berbicara tentang Khilafah, kita dihadapkan dengan istilah orang-orang kafir

dalam menceritakan Khilafah, orang-orang mengidentikkan dengan kekerasan yang ditujuan terhadap orang-orang kafir, hal yang sensitif memang bagi kita untuk mengusik istilah ini, dikarenakan ada kasus atau kejadian yang menjadikan kita paham kondisi sosial masyarakat Indonesia,

yang terlalu sangat antipati terhadap orang-orang diluar Islam, seolah-olah mereka seakan-akan seperti najis atau sesuatu yang dianggap tidak ada nilainya, padahal dalam kemajuan di Indonesia, mereka pun berperan dalam memajukan bangsa dengan segala skill yang mereka punya.

Pada dasarnya, orang-orang kafir bukan hanya diperuntukkan untuk diluar dari yang menganut agama Islam, dari keterangan Al Qur’an menyebut dengan jelas pengertian dari yang termasuk kedalam kategori atau disebut sebagai orang kafir

yaitu, orang-orang yang menolak kebenaran, yang tidak mau berhukum dengan aturan atau hukum Tuhan Semesta Alam, sifatnya adalah sesuatu yang umum, jika dilihat dalam pengertian yang dirujuk dari keterangan dalam Al Qur’an.

Mengenai esensi atau pengertian dari hal tersebut, diterangkan pada Al Qur’an surat Al Maidah ayat 44

barangsiapa yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir, begitu pula pengertian dari orang-orang fasik dan orang-orang zhalim

yang diterangkan pada surat yang sama pada ayat 45 dan 47

yaitu, sama-sama tidak memutuskan perkara atau berhukum kepada apa yang diturunkan oleh Tuhan yang Maha Esa.

Maka, dalam kondisi sekarang, sulit memang berbicara tentang Khilafah, yang diidentikkan dengan kekerasan melawan orang kafir

memang kekhalifahan yang dulunya berdiri ditengah-tengah manusia sudah tidak ada dalam kehidupan manusia dan syarat-syarat dari Khilafah pun belum terpenuhi

tapi hal tersebut adalah ujian bagi manusia, agar Allah SWT melihat siapa diantara manusia yang termasuk kedalam golongan orang-orang yang mampu menjaga dirinya (orang-orang yang bertaqwa)

dari kehendak Iblis atau segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari kebenaran, yang menginginkan manusia tersesat dijalanNya,

yaitu dengan menjadikan tandingan Hukum Allah SWT sebagai hukum yang berlakukan ditengah tengah manusia

menggantikan sistem Khilafah yang haq atau benar atau sejatinya ditaati oleh manusia.

Prev 1 of 9 Next
Prev 1 of 9 Next
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x