Sejarah Dunia Zaman Sebelum Masehi

Dalam peradaban manusia, kita tidak lepas dengan namanya sejarah, karena sejarah adalah membentuk karakter kita, maka, ketika kita tidak mengenal sejarah para Nabi dan Rasul,

yang mengajarkan tentang cara bagaimana mengabdi kepada Tuhan, dan memperkenalkan tentang bagaimana ajaran Tuhan, bisakah kita disebut sebagai orang-orang beriman,

baik beriman kepada Allah maupun kepada para Nabi dan Rasulnya, dan memahami konsep kebenaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul tersebut ?

Begitulah yang seharusnya menjadi bahan renungan kita, sebagai umat beragama saat ini, kita adalah penganut kepercayaan dari ajaran para Nabi dan Rasul,

pertanyaan buat kita, sudahkah kita mengenal sejarah mereka ? Seandainya kita hanya meyakini mereka sebatas mengimani mereka, bahwa mereka seorang Nabi dan Rasul,

tapi tidak mengetahui apa sebetulnya yang mereka perjuangkan, pantaskah kita disebut pengikutnya ?

Kemudian, hal yang juga perlu kita pahami, karakter dari para Nabi dan Rasul adalah mereka berjalan dalam jalan kebenaran, tanpa sedikitpun memikirkan pemikiran manusia,

yang mereka pedulikan hanyalah pemikiran Tuhan, mereka tidak membutuhkan pujian dari manusia,

karena keinginan untuk di puji, dihargai, disanjung, dan semacamnya,

bentuknya adalah sesuatu yang sia-sia di mata Tuhan, karena segala pujian hanya diperuntukkan kepada Tuhan Semesta Alam.

Dari sejarah mereka, kita mengenal bahwa dalam peradaban manusia, ada peradaban yang haq (benar) dan peradaban yang bathil (salah),

sehingga dalam hal mempejari sejarah, kita menjadi paham apa yang menjadi seharusnya menjadi pilihan hidup kita,

apakah berjalan di jalan Tuhan, dengan memperjuangkan sistem hidup yang benar, yaitu melaksanakan hukum Tuhan, ataukah kita pasrah dengan kondisi yang ada,

dengan mengambil hukum selain hukum Tuhan, yang kita berlakukan dalam hidup dan kehidupan kita ?

Mari kita pelajari sejarah para Nabi dan Rasul, mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Musa as, yang hadir ditengah-tengah manusia sebelum zaman Masehi !

  1. Sejarah Nabi Adam as

Sebagai umat Islam maupun umat Yahudi dan umat Nasrani, pasti mengenal dengan namanya Nabi Adam as, dan pemahaman umat beragama saat ini, mengatakan bahwa Nabi Adam as, adalah manusia pertama, benarkah hal demikian ?

Faktanya, di dalam Al Qur’an tidak pernah membahas tentang Nabi Adam as sebagai manusia pertama, melainkan sebagai Khalifah yang memimpin dalam sebuah Khilafah (QS.2:30).

Maka, perkara siapa yang menjadi manusia pertama, tidak perlu menjadi bahasan dalam memahami sejarah Nabi Adam as, walaupun begitu,

dalam Al Kitab memang menerangkan tentang bagaimana Tuhan menjadikan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya, setelah Tuhan menciptakan langit dan bumi beserta isinya,

agar menyempurnakan ciptaannya (Kej.1:26-28), dalam hal ini peristiwa tersebut adalah bentuknya perumpamaan dalam hal kebangkitan Khilafah atau pendirian Khilafah,

proses dimana Tuhan menciptakan manusia menjadi  berkarakter dirinya, atau memiliki sifat Asmaul Husna dalam dirinya,

dalam Al Kitab disebut sesuai gambar dan rupa-Nya, dimana dalam penciptaan manusia tersebut, manusia diciptakan terakhir dari segala ciptaannya.

Langit adalah gambaran kekuasaan Tuhan yang hadir di bumi, yang melingkupi kekuasaannya di seluruh bumi, mencakup segala isinya dibumi,

termasuk manusia itu sendiri dan letaknya diatas, sedangkan bumi adalah masyarakat yang dipimpin oleh Kekuasaan Allah atau Khilafah itu sendiri, dan letaknya dibawah (QS.3:190).

Jadi sudah jelas bahwa, Nabi Adam as bukanlah manusia pertama, melainkan hanya Khalifah dalam sebuah Khilafah.

Dalam sejarah Nabi Adam as, di Al Kitab diceritakan bahwa Nabi Adam as tinggal di sorga (surga) atau taman Eden,

itu adalah gambaran kehidupan di bumi seperti halnya di sorga (surga), kerajaan seperti di surga (surga) hadir ditengah-tengah manusia atau di bumi,

artinya Nabi Adam as dan Hawa, sedang berada dalam kondisi menang, Khilafah sudah berhasil berdiri dalam kepemimpinan Nabi Adam as,

lalu disebabkan karena Iblis atau setan, yang merupakan gambaran dari apa dan siapa saja yang menjauhkan manusia dari kebenaran, maka Nabi Adam as akibat tipu daya Iblis menjadi tergelincir,

dalam artian, sudah mengadopsi hukum selain hukum Tuhan dalam Khilafah yang dipimpinnya.

Kemudian, Tuhan lalu mengampuninya karena dia tulus bertaubat kepadaNya (QS.2:37) dan memberikan Nabi Adam as kekuasaanNya kembali,

dengan menerima pemberian kurban atau sebuah bentuk pengabdian dari anak Nabi Adam as, yaitu Habel (Habil) (QS.5:27),

namun anak Nabi Adam as tersebut dibunuh oleh saudaranya, Kain (Qabil), disebabkan karena dirinya hendak ‘berkuasa atasnya’, dalam hal kekuasaan yang diberikan Nabi Adam as,

dan menginginkan berkuasa atas saudaranya, prihal kekuasan itu sendiri (Kej.4:3-8), Masalah kecemburuan akibat kekuasaan sebenarnya adalah kejadian yang berulang,

ketika Nabi Yakub as, dipilih oleh Nabi Ishak as, sebagai penerusnya atau hak kesulungan diberikan kepadanya, Esau, Bapak dari Bani Edom,

selaku saudara Nabi Yakub as, merasa cemburu dengan hal tersebut, hatinya panas dan marah, menyangkut kekuasaan yang diberikan Nabi Ishak as kepada Nabi Yakub as (Kej.27:42-45).

Akhirnya, Tuhan pun memberikan Nabi Adam as, anak lain, selain Habel (Habil), bernama Set,

dan digambarkan dirinya seperti gambar dan rupa-Nya, barulah pada saat itu orang-orang mulai memanggil nama Tuhan (ajaran Tuhan) (Kej.4:25-26) dan dari keturunan Set lah, nantinya,  lahirlah Nabi Nuh as (Kej.5:29).

Sepeti itulah, sejarah yang bisa digambarkan secara singkat, dalam kacamata Khilafah atau Kekuasaan Allah yang diberikan Tuhan kepada Nabi Adam as,

artinya, dalam hal ini membuktikan bahwa sejarah Nabi Adam as diceritakan dalam Kitab Suci, adalah sebagai Khalifah, bukanlah sebagai manusia pertama.

  1. Sejarah Nabi Nuh as

Lanjutan dari sejarah Nabi Adam as, Nabi Nuh as adalah keturunan dari Nabi Adam as, selaku Bapak dari seluruh umat manusia.

Nabi Nuh as adalah sosok yang memperjuangkan Khilafah berdiri dimuka bumi, dengan keterangan pada Al Qur’an surat Yunus [10] ayat 73,

membuktikan dia berhasil membawa pengikutnya menjadi Khalifah (pengganti; pemimpin).

Perjuangannya dia lakukan melalui proses dakwah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan (QS. 71:8-9), baru kemudian azab Tuhan turun kepada kaumnya yang disebut dalam Al-Qur’an,

kaum Nuh, maupun orang-orang kafir yang hidup di muka bumi (QS.71:26-27), tapi sebelumnya dia berhasil keluar dan selamat dari azab tersebut, dan berhasil mendirikan Mezbah bagi Tuhan,

dan dalam hal kekuasaan yang diberikan Tuhan kepada Nabi Nuh as, tercatat dalam Al Kitab,

selama 601 tahun, dia berjuang sebelum air bah datang, dan dia pun mendirikan Mezbah bagi Tuhan (Kej.8:13-20),

selama 350 tahun dia masih bersama-sama pengikutnya, dan dalam kurang lebih 950 tahun, Nabi Nuh as, hidup bersama-sama dengan mereka (Kej.9:28-29).

Memang kedengarannya merupakan hal yang tidak masuk akal, dikatakan Nabi Nuh as,

selama 950 tahun hidup bersama-sama dengan mereka (pengikutnya) (QS.29:14), hal ini adalah berkenaan dengan umur umat, dalam hal ini pergantian peradaban yang digambarkan dengan pergantian siang dan malam,

yaitu pergantian peradaban yang haq (siang), dan pergantian peradaban bathil (malam), yang lamanya satu hari tersebut, dijelaskan Tuhan dalam Al Quran,

selama 1000 tahun menurut perhitungan kita (QS.22:47), artinya umur 950 tahun tersebut menunjukkan umur umat dari umat Nabi Nuh as,

dan dari keterangan Al Kitab, perlu waktu 601 tahun, baru umat Nabi Nuh as selamat (Kej.8:13),

dan jika kita merujuk pada satu orang, atau umur Rasul itu sendiri, maka kita pun akan menjadi terheran-heran dengan umur Nabi Nuh as yang melebihi umur manusia biasa, kurang lebih 120 tahun (Kej.6:3),

hal ini berkaitan dengan sistem atau ajaran yang dibawa oleh Nabi Nuh as, masalah fisik berupa jasad,

bisa saja pergi meninggalkan umatnya, tapi ajaran tetap akan terus hidup ditengah-tengah umatnya, jika umatnya tersebut mau memperdengarkan dan setia dengan ajaran Nabi Nuh as.

Dalam perjalanan kerasulannya, dia tidak berhasil menyelamatkan anaknya, tapi disisi yang lain kedua orang tuanya berhasil diselamatkannya dari azab Allah (QS. 71:28),

namun ada hal yang harus kita luruskan dalam pemahaman kita, Nabi Nuh as bukanlah membangun kapal secara fisik,

karena kapal yang dimaksud maupun hewan-hewan yang dimaksud adalah bentuk perumpamaan dari bahasa Kitab Suci yang mengandung hikmah di dalamnya.

Kapal Nabi Nuh as adalah bentuk dari sarana atau wadah atau tempat dimana Nabi Nuh as, mengkader, membina, dan mengelola umatnya,

agar menjadi gambar dan rupaNya, sehingga setelah umatnya tersebut dicelup oleh ajaran  Allah (sibgah Allah) (QS.2:138),

maka mereka pun layak dan pantas memimpin dalam Khilafah atau Kerajaan Allah (QS.7:64).

Sedangkan, maksud dari hewan-hewan yang diangkut oleh Nabi Nuh as adalah gambaran dari umat Nabi Nuh as,

yang terdiri atas berbagai karakter maupun suku, yang mana, baik dalam Al Qur’an maupun Al Kitab,

sangat sering ditemui istilah hewan ternak, domba, dll, yang menggambarkan umat itu sendiri (QS.11:40 & QS.3:14).

Dalam hal ini, Nabi Nuh as adalah nahkodanya atau imam bagi pengikutnya, dan pengikutnya, adalah awak kapal,

yang perannya sebagai orang-orang yang tunduk dan patuh kepada sang nahkoda atau imam mereka, yaitu Nabi Nuh as,

dan pada akhirnya, kapal tersebut akan membawa mereka ke tujuan mereka dalam rangka memperjuangkan hukum Tuhan berlaku ditengah-tengah manusia,

dengan dijadikan mereka sebagai Khalifah yang memimpin Khilafah, jadi sudah jelas, sejarah Nabi Nuh as,

berkaitan dengan Khilafah atau Kerajaan Allah yang hadir ditengah-tengah manusia.

  1. Sejarah Nabi Ibrahim as

Selanjutnya, bagaimana sejarah Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as), yang merupakan pokok anggur Allah, sebutan baginya dalam Al Kitab (Yoh.15:1-8),

hal tersebut adalah bentuk alegoris, yang menunjukkan bahwa dari ajarannya lah, sumber atau pokok dari ajaran ketiga keturunannya, baik itu Nabi Musa as, Nabi Yesus (Nabi Isa as) dan Nabi Muhammad saw.

Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) adalah keturunan Nabi Nuh as, dari garis keturunan Sem,

dan dia lahir dari Bapaknya Terah, yang diterangkan dalam Al Kitab (Kej.11:1-26),

sedangkan dalam Al Qur’an menyebutkan Bapak nya adalah Azar, yang jelas, bukan masalah nama,

melainkan apa pelajaran yang dapat diambil, dalam sejarah Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as), bapaknya selaku pembuat patung atau gambaran dari undang-undang yang dibuat oleh Bapak-nya (QS. 6:74),

dalam artian, Bapak-nya adalah seseorang yang duduk dalam pemerintahan di masa Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) hidup,

dan dakwahnya ditentang keras oleh Bapak-nya sendiri, walaupun begitu dia tetap mendoakan Bapak-nya,

tapi hal tersebut adalah bentuknya kesalahan di mata Tuhan, sehingga dia diingatkan oleh Tuhan mengenai hal itu (QS.9:114).

Selanjutnya, dari proses dakwah, akibat dari banyaknya penolakan, dia pun meninggalkan negerinya, yaitu Ur Kasdim (Kej.11:31),

ketempat yang dijanjikan Tuhan kepadanya, yaitu Tanah Kanaan (Kej.17:8),

dan kaumnya termasuk kaum yang di azab oleh Allah, dalam Al Qur’an menyebutnya, kaum Ibrahim (QS. 9:70).

Dalam perjalanannya dia pernah menyinggahi negeri Mesir, dan disana dia mendapatkan Bunda Hagar (Siti Hajar),

yang dia jadikan sebagai istri keduanya nantinya, dan melahirkan Nabi Ismail as baginya (Kej.16:11),

lalu dalam perjalanannya, dia pun memperoleh anak dari istri pertamanya, yaitu Bunda Sara atau Sarai (Siti Sarah), di masa tuanya, anak kedua baginya, yaitu, Nabi Ishak as (Kej.17:19),

yang merupakan Bapak dari  Nabi Yakub as, yang merupakan Bapak dari Bani Israel, yang terdiri dari 12 Bani (12 suku), dia (Nabi Ishak as) lahir setelah Nabi Ismail as,

yang dalam sejarahnya Nabi Ismail as berhasil mendirikan Baitullah atau rumah Allah di tanah Arab, bersama-sama dengan Nabi Abraham (Nabi Ibrahim as) (QS.2:127).

Singkat cerita, dari keturunan-keturunannya inilah, yang dijanjikan Tuhan diberikan KekuasaanNya atau KerajaanNya atau Khilafah,

dan bisa kita lihat buktinya saat ini, Nabi Musa as, Nabi Yesus (Nabi Isa as), dan Nabi Muhammad Saw,

berhasil membawa ajaran mereka keseluruh dunia, mengabarkan tentang ajaran yang mereka bawa.

  1. Sejarah Nabi Musa as

Nabi Musa as, adalah keturunan dari Bani Israel (Israil), dia lahir dari garis keturunan Bani Lewi,

yang dalam Al Kitab menceritakan tentang karakter dari Bani ini, yaitu bertindak dengan alat kekerasan (Kej.49:5).

Kisah Nabi Musa as berawal dari sejarah Nabi Yakub as, Nabi Yakub as memperanakkan kedua belas Bapak leluhur dari Bani Israel (Israil),

dikarenakan iri hati, Bapak-bapak leluhur mereka menjual Nabi Yusuf as, anak yang diberikan kekuasan oleh Tuhan setelah Nabi Yakub as, ke tanah Mesir,

tetapi Allah menyertai dia, dan melepaskannya dari segala penindasan serta menganugerahkan kepadanya kasih karunia dan hikmat,

ketika ia menghadap Raja Fir’aun, Raja Mesir. Raja Fir’aun mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir dan atas seluruh istananya (menjadi benaharawan di Mesir).

Maka datanglah bahaya kelaparan menimpa seluruh tanah Mesir dan tanah Kanaan serta penderitaan yang besar,

sehingga nenek moyang Bani Israel (Israil) tidak mendapat makanan. Tetapi ketika Nabi Yakub as mendengar, bahwa di tanah Mesir ada gandum,

ia menyuruh nenek moyang Bani Israel (Israil) ke sana. Itulah kunjungan mereka yang pertama,

dan pada kunjungan mereka yang kedua Nabi Yusuf as memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya, lalu ketahuanlah asal usul Nabi Yusuf as kepada Raja Fir’aun.

Kemudian Nabi Yusuf as menyuruh menjemput Nabi Yakub as, ayahnya, dan semua sanak saudaranya.

Lalu pergilah Nabi Yakub as ke tanah Mesir. Di situ ia meninggal, Dia dan nenek moyang Bani Israel (Israil),

dan hal ini lah cerita awal mulanya Bani Israel (Israil) berada di tanah Mesir (Kisah Para Rasul 7:1-17)

Lalu, dalam sejarahnya, diceritakan Nabi Musa as, diambil oleh putri Fir’aun dan dijadikan seperti anaknya sendiri,

dalam perjalanan kenabiaannya, dia membunuh penduduk asli Mesir, untuk membela Bani Israel,

akibat dari perbuatannya dia menjadi pelarian dan tinggal di Tanah Midian, dan dia pun menikah dengan anak Nabi Yitro (Nabi Syuaib),

selaku imam Midian, yang berasal dari Bani Ketura dan melahirkan dua anak dari anaknya tersebut (Keluaran 2:11-22).

Barulah dia mendapatkan wahyu, bahwa dirinya adalah seseorang yang dipilih oleh Tuhan sebagai Rasul,

dan dia pun pergi ke Mesir untuk membebaskan Bani Israel (Keluaran 3:1-22),

dengan proses dakwah secara sembunyi-sembunyi yang bertujuan mengumpulkan umat atau Bani Israel (Israil)

agar mau keluar dari perbudakan di Mesir dan kemudian secara terang-terangan dia berdakwah kepada petinggi-petinggi di Mesir,

maupun kepada penguasa Mesir saat itu, yaitu Raja Fir’aun, dan dari proses dakwah yang telah dia lewati, dia pun berhasil mengeluarkan Bani Israel dari Mesir (Keluaran 18:1-12).

Sebelum hal itu terjadi dia menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah berupa ajaran Tuhan Semesta Alam kepada Raja Fir’aun, tapi Raja Fir’aun menolak keras ajakan Nabi Musa as,

dia menganggap Nabi Musa hanya berusaha menipu orang-orang dengan tipu muslihatnya,  dikarenakan terdapat kejadian dimana tukang-tukang sihir Raja Fir’aun,

membenarkan perkataan Nabi Musa as, dalam hal adu tongkat (adu pemahaman kebenaran), tukang-tukang sihir (ahli-ahli dalam menipu tentang kebenaran) kalah dan menyerah dengan apa yang disampaikan Nabi Musa as (QS. 7:123).

Maka, di karenakan banyak tanda yang sudah ditunjukkan oleh Nabi Musa as,

sebagai bukti bahwa Tuhan tidak berlaku zhalim terhadap manusia, yang di dalam Al Kitab digambarkan tanda (tulah;azab) itu sebanyak 10 kali,

barulah Nabi Musa as beserta pengikutnya keluar dari negeri Mesir, dikarenakan Raja Fir’aun berbaik hati kepada Nabi Musa as (Keluaran 12:31),

setelah keluar dari Negeri Mesir, sebelumnya, Nabi Musa as dan pengikutnya bertahan dahulu di perbatasan negeri Mesir, Bani Israel sementara waktu tinggal di sana,

sebelum berjalan di jalan kering pada lautan (Keluaran 14:16), kemudian Tuhan mengeraskan hati Raja Firaun, dia pun mengejar Nabi Musa as dan pengikutnya (Keluaran 14.8),

saat itulah azab penghabisan menimpa Raja Firaun dan sekutunya, hal itu terjadi setelah jalan kering dilautan sudah sangat jelas terlihat.

Diceritakan, sebelum Raja Fir’aun berusaha mengejar Bani Israel, di perbatasan tersebut, pengikut Nabi Musa as,

bersungut-sungut kepada Nabi Musa as, setelah mereka berhasil keluar dari negeri Mesir,

mereka menyalahkan Nabi Musa as atas penderitaan mereka, jikalau mereka masih berada di Mesir, tentu mereka masih makan kuali yang berisi daging (Keluaran 16:3),

artinya, dalam hal ini pengikut Nabi Musa as bukanlah diperbudak seperti gambaran pemahaman umat beragama saat ini,

maksud diperbudak disini adalah, mereka tidak  bisa melaksanakan hukum Tuhan dengan leluasa, Bani Israel adalah bagian dari kerajaan Mesir,

mereka berperan penting dalam kemajuan Mesir, termasuk ahli-ahli di kerajaan Mesir, saat kejadian pengejaran Raja Fir’aun dan sekutunya,

Bani Israel bersungut-sungut menyesali mengikutinya, menganggap Nabi Musa as, membawa mereka kepada kematian mereka (Keluaran 14:11-12).

Kemudian pada akhirnya, berhasilkah mereka melintasi lautan, dalam Al Kitab menyebutnya, lautan Teberau, dan mereka pun  bersiap-siap pada tahapan yang selanjutnya,

mereka menunggu sampai perintah turun kepada Nabi Musa untuk menyerang Yerikho, sebelum perintah tersebut turun pengikut Nabi Musa as, pernah disesatkan oleh Samiri (QS.20:85),

dengan mengambil ajaran lain selain ajaran Tuhan Yang Maha Esa, digambarkan pengabdian mereka kepada patung berbentuk anak sapi (QS.20:88),

yang menggambarkan mereka mengambil ajaran lain selain ajaran Tuhan Semesta Alam.

Pada tahapan itu, setelah mereka berhasil melintasi lautan Teberau, kemudian turunlah manna (mann) dan salwa (QS. 2:57), dan juga mengenai sabat (Keluaran 16:1-36),

pada saat itu terdapat kejadian yang terjadi di padang gurun Sin, tempat yang disinggahi setelah dari lautan Teberau dan Elim, yang disebut dengan Masa dan Meriba,

saat itu Bani Israel mencobai Tuhan (Keluaran 17:1-7), dalam hal meminta air kepada Nabi Musa as,

karena mereka kehausan, dan di tahapan itu juga (keluaran) Yitro mendengar kabar gembira bahwa Nabi Musa as berhasil keluar dari negeri Mesir, dengan membawa keluarga Nabi Musa as,

mengunjunginya, saat itu dia mengajarkan bagaimana caranya mengelola umat, dengan mengangkat imam-imam (Keluaran 18:1-27),

Dalam proses perang yang dilalui mereka, sebagian besar dari mereka membangkang, mereka tetap saja mencobai Tuhan,

dan hal inilah hal penghabisan, Tuhan sudah tidak mengampuni Bani Israel (Israil) (Bilangan 14:22-23),

disebutkan 10 suku yang menolak menyerang Yerikho, dan hanya Yosua dan Kaleb, pemimpin dari dua suku Bani Israel (Israil) yang mengikuti perintah Nabi Musa as tersebut (Bilangan 14:1-38),

dan mereka pun ditunda kemenangannya selama 40 tahun, akibat pembangkangan tersebut,

dan orang-orang yang membangkang tersebut sudah tidak ada lagi sampai waktunya Yosua dan Kaleb memenangkan perjuangan mereka (Bilangan 32:13),

dalam misi mereka menegakkan Khilafah atau Kerajaan Allah (Yerusalem) dan pada akhirnya di tangan Yosua dan Kaleb lah,

tembok Yerikho runtuh (Yosua 6:20), dan Yerusalem pertama berhasil ditegakkan oleh mereka.

Seperti itulah gambaran singkat, tentang sejarah Nabi Musa as, dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi Bani Israel (Israil),

yang pada akhirnya mereka mendapatkan kemenangan, dalam artian, Khilafah atau Kerajaan Allah (Yerusalem),

berhasil ditegakkan di zaman Nabi Musa as, dan sampai zaman Millenial, ajarannya tetap diyakini oleh umat Yahudi, yang mengimani Kitab yang bersumber darinya.

 

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ariyo Arinsa Putra
Ariyo Arinsa Putra
1 year ago

Mantab maju terus

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x