Sejarah Dunia Zaman Masehi

Dalam memahami sejarah Nabi dan Rasul, kita tidak bisa lepas dari catatan sejarah yang terdapat pada Kitab Suci mereka, sehingga merupakan sebuah keharusan mempelajari Kitab Suci, jika kita hendak meneliti kebenaran perjalanan Para Nabi dan Rasul dalam memperjuangkan hukum Tuhan di muka bumi

di dalam sebuah wadah atau institusi yang disebut dengan Khilafah atau Kerajaan Allah (Yerusalem;Darusalam), yang pernah hadir ditengah-tengah manusia, semenjak zaman Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad as.

Memang hal ini jika tidak dilakukan, maka kita sebagai umat beragama, selalu akan berselisih paham tentang kebenaran yang di bawa para Nabi dan Rasul Allah, karena bagaimanapun,

Kitab para Nabi dan Rasul, bercerita tentang sesuatu kejadian yang menjelaskan tentang bagaimana kejadian yang akan terjadi setelah perjalanan mereka sampai dengan kemenangan, kemudian runtuh, lalu diteruskan oleh utusanNya yang lain

kemudian Kitab setelahnya membenarkan atau menggenapi kebenaran dari Kitab sebelumnya bahwa telah datang yang dinubuahkan atau diperediksikan dari Kitab sebelumnya,

dan utusan itu pun kemudian membuat Kitab Suci mereka seperti yang dilakukan oleh utusan sebelumnya dan mereka pun menceritakan kelanjutan dari misi mereka

dengan menubuahkan dalam Kitab mereka kedatangan utusan lain setelah mereka,

begitulah kejadian yang terus berulang, yang disebut dengan Sunnatullah atau kebiasaan Allah.

Sehingga kita menjadi paham, mengapa sebagai makhluk ciptaanNya, begitu penting mempelajari Kitab Suci,

karena merupakan satu-satunya cara agar kita mengenal Allah, dengan memahami bagaimana cara Tuhan memberikan rahmat berupa kasih sayangNya, kepada manusia, berupa datangnya Khilafah atau Kerajaan Allah (Yerusalem;Darusalam)

Baiklah, mari kita pelajari sejarah para Nabi dan Rasul semenjak Nabi Yesus (Nabi Isa as) dan sampai dengan Nabi Muhammad as.

  1. Sejaran Nabi Yesus (Nabi Isa as)

Seperti kita ketahui bersama, Nabi Yesus (Nabi Isa as), adalah pokok dari ajaran Nasrani, dia adalah sosok yang paling diagung-agungkan oleh pengikutnya, dan dia juga merupakan tokoh yang sangat penting dalam sejarah peradaban dunia.

Walaupun banyak yang tidak mengetahui kebenaran bahwa dia berhasil mendirikan Kerajaan Allah atau Kota Terang Allah atau Yerusalem Kedua,

seperti halnya Nabi Musa as, dan kerajaan yang berhasil dia bangun seperti halnya Kerajaan Daud, yang merupakan leluhur dari Nabi Yesus (Nabi Isa as).

Hal yang harus kita luruskan adalah, pemahaman bahwa Nabi Yesus (Nabi Isa as) adalah Tuhan, Tuhan adalah sang pencipta, Nabi Yesus adalah ciptaanNya (QS.4:171), dia diciptakan seperti halnya Nabi Adam as (QS.3.59)

bicara penciptaan mereka dengan prinsip ‘jadilah maka jadilah’, bukanlah seperti ‘abrakadabra’ atau sesuatu yang terjadi sekejap mata, melainkan hal tersebut adalah kejadian yang berproses, sampai kepada kesempunanan.

Semua manusia berasal dari tanah, maksudnya adalah sumber makanan manusia berasal dari tanah dan menumbuhkan tumbuhan,

dan tumbuhan adalah rantai makanan pertama bagi makhluk hidup, baik di darat dan di laut

yang mana kandungan dari sel sperma dan sel telur berasal dari apa yang manusia makan yang bersumber dari tanah tersebut dan penciptaan mereka (manusia) tersebut sama-sama dari pertemuan antara sel telur (ovum) dari perempuan dan sel sperma dari laki-laki (QS.22.5)

mengapa dalam memahami sejarah perjuangan Nabi Yesus (Nabi Isa as) berubah menjadi sejarah yang ‘irrasional’ atau kental dengan sesuatu yang diluar dari penerimaan akal sehat kita ?

Bagi kita yang mau berfikir, mengapa Tuhan memberikan kita akal, jika tidak kita gunakan untuk memahami ajaranNya dalam Kitab suci ?

Bukankah dengan akal kita bisa membedakan mana yang benar atau sesuai dengan kebenaran ilmiah dan alamiah, maupun yang salah atau bertentangan dengan kedua prinsip tersebut.

Dalam kita memahami sejarah Nabi Yesus (Nabi Isa as), kita harus pahami bahwa dia adalah Nabi yang lahir dari ibu yang mengandung Ruhul Qudus (Ruh Suci:Ruh Kebenaran;Ilmu Allah yang menghidupi) dalam dirinya

kekuatan Ruhul Qudus di dalam dirinya lah mampu menghidupi Nabi Yesus (Nabi Isa) dari semenjak dia masih kecil (buaian) (QS. 5:110), sampai dengan dirinya siap menjadi utusan Allah.

Dia adalah anak Allah, artinya dari kecil dia sudah paham akan kebenaranNya, hidupnya suci dan tidak pernah terkotori dengan pemahaman diluar dari ajaran Tuhan

kebenaran sudah dia ketahui semenjak dia kecil, bukan melalui proses pencarian seperti para Nabi dan Rasul selain dirinya.

Latar belakang ibunya, yaitu Bunda Maria (Maryam) adalah perempuan pilihan yang dipilih oleh Allah, dia di tuduh berbuat zina (QS.19:20) dan berbuat keji (QS. 4:156), padahal latar belakang keluarganya tidak demikian, keluarganya berasal dari keluarga Imran (QS.19:28)

berzina disini bukan lah dimaksud dengan berzina secara fisik, melainkan melakukan perbuatan musyrik atau menduakan Allah (ajaranNya),

dalam hal ini, ahli Taurat tidak mengimani kedatangan Nabi Yesus (Nabi Isa as), dalam pemahaman mereka tidak mungkin Tuhan mengutus setelah Nabi Musa as, seorang utusan kembali, di tengah-tengah Bani Israel (Israil),

sehingga ketika Bunda Maria  (Maryam) membawa anaknya yang masih dalam buaian atau dalam pendidikan

dan menyuruh mereka bertanya tentang kebenaran yang di bawa anaknya, mereka menganggap Bunda Maria (Maryam) membawa sesuatu yang sangat mungkar (QS.19:27-34).

Dalam Al Qur’an secara khusus menceritakan tentang keluarga Imran,  Imran dikaruniai anak oleh Tuhan, yaitu, Bunda Maria (Maryam), yang pernah disesali ibunya mengenai jenis kelamin anak yang dilahirkannya

walaupun begitu dia tetap mendoakan anak dan keturunannya (cucunya) terlindung dari setan yang terkutuk atau segala sesuatu yang menjauhkan keturunannya dari kebenaran (QS. 3:36), dan saudara dari Imran

yaitu Nabi Zakaria as, istrinya melahirkan anak bernama Nabi Yohanes (Yahya as) (QS:19:7), dan Nabi Yohanes sang pembaptis (Yahya as) inilah pembuka jalan bagi Nabi Yesus as (Isa as)

Kemudian, setelah dirinya dibaptis oleh Nabi Yohanes (Yahya as), atau dalam Al Qur’an menyebutnya diambil perjanjiannya (QS.33:7 & QS.3:81), barulah mereka menjadi saksi Allah atau utusan Allah (QS.61:6)

yang membenarkan segala ajaran yang diwahyukan atau disampaikan kepada mereka, tentang keesaan Allah, bahwa yang menjadi tuan manusia adalah Allah, dan dialah satu-satunya yang harus ditaati oleh manusia.

Sebelumnya, yang harus kita pahami, Nabi Yesus (Isa as) adalah Nabi yang telah dinubuahkan oleh Nabi-nabi sebelumnya

sebelum kedatangan Nabi Yesus (Isa as), seperti halnya Nabi Yeremia menubuahkan tentang apa yang akan terjadi terhadap Bani Israel (Israil)

digambarkan bahwa Bani Israel (Israil) dua kali mereka berbuat jahat, mereka meninggalkan Tuhan, sumber air yang hidup atau sumber dari ajaran satu-satunya yang menghidupi

dengan menggali kolam mereka sendiri, yang berarti mereka mengambil tuan-tuan lain selain Tuhan Yang Maha Tinggi

dengan membuat aturan sendiri, padahal kolam atau tempat mereka menampung ajaran Tuhan (Khilafah;Kerajaan)

bocor, atau tidak bisa mempertahankan air mereka dalam wadah tersebut, air berkenaan dengan Ruhul Qudus itu sendiri (Yeremia 2:13)

dalam sejarah peradaban yang terjadi di dunia, tidak bisa dipungkiri kenyataannya, bahwa Tuhan mengutus dua orang Rasul dari Bani Israel (Israil), yaitu Nabi Musa as, dan Nabi Isa as.

Dalam hal perjuangannya, sama halnya dengan Nabi-nabi sebelumnya, yang dilakukan selama enam hari (tahapan;fase). Seperti apa penjelasan hari-hari yang dilalui para utusanNya menurut sudut pandang Al Kitab dan Al Qur’an ?

Hari pertama dalam Al Kitab menunjukkan tahapan dakwah secara sembunyi-sembunyi (tahapan kejadian) yang berfungsi untuk mengajak dan mengumpulkan Bani Israel agar kembali kepada ajaran Taurat yang murni, hari kedua menunjukkan tahapan dakwah secara terang-terangan (tahapan kejadian),

yang merupakan lanjutan tahapan sebelumnya, sebagai cara untuk menguatkan aqidah (keimanan) pengikutnya

dengan menguji mereka, dalam hal, mampukah mereka menyampaikan kebenaran tanpa merasa takut sedikitpun secara terang (jelas) kepada orang-orang.

Proses dakwah secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan oleh Nabi Yesus (Isa as) yang di gambarkan dalam Al Kitab, dari pernyataan Nabi Yesus (Isa as)

Jika ada yang menampar pipi kanan-mu, berilah juga pipi kiri-mu” (Matius 5:39), artinya dakwah pada saat itu

belum saatnya untuk melawan, harus tiarap atau gerakan secara underground (bawah tanah) terlebih dulu, proses ini dilakukan untuk mengumpulkan orang-orang menjadi murid-muridnya

dalam rangka penguatan aqidah atau keimanan murid-muridnya

dan ketika keimanan mereka sudah menghujam, dan sudah terlihat, maka mereka siap untuk ketahapan selanjutnya, dakwah berlanjut ke tahapan dakwah secara terang-terangan

yang ditandai dengan pernyataan Nabi Yesus (Isa as), beritakanlah dalam terang, dari atas atap rumah, artinya segala sesuatu yang disampaikan Nabi Yesus as (Isa as) harus disampaikan secara terang-terangan (Matius 10:27).

Dakwah Nabi Yesus as bertujuan menyembuhkan segala penyakit yang berasal dari batin manusia, baik itu kusta,

perumpamaan dari penyakit musyrik atau mengabdi kepada dua tuan, orang yang dulu nya mati atau tidak mengetahui tujuan hidupnya lagi, dihidupkan kembali,

dan mata yang dulunya buta akan kondisi menjadi paham akan kondisi yang terjadi (QS.3:49), selain itu, telinga yang dulunya tuli atau tidak mendengar ajaran Tuhan menjadi sembuh dan dapat memahami ajaranNya

dahulu lumpuh bisa berjalan lagi, dalam artian, dahulu tidak mempunyai jalan hidup yang benar

menjadi mengetahui akan jalan yang bisa menjadi semangat hidup mereka, mengusir setan-setan atau segala sesuatu yang menjauhkan dari kebenaran (Matius 11:5 & Matius 4:23-25).

Selanjutnya, setelah tahapan dakwah selesai mereka lalui, sampailah kepada tahapan selanjutnya, yaitu tahapan hijrah atau eksodus

memang tidak disebutkan tentang proses dalam tahapan ini yang dilalui oleh Nabi Yesus (Isa as), kata kunci nya disini adalah hari ketiga atau tahapan ketiga

yang menunjukkan tahapan keluaran di dalam ajaran Taurat, sedangkan dalam Al Qur’an disebut dengan hijrah (eksodus), yang jelas apa yang dilakukan oleh Nabi Yesus (Isa as) mencontoh apa yang dilakukan Nabi Musa as

ketika tahapan keluaran dilalui Nabi Musa as maka dia pun mengikuti proses tersebut dalam perjuangannya membebaskan Bani Israel, yang menunjukkan bahwa di tahapan tersebut dirinya dan pengikutnya harus keluar dari kaumnya.

Dalam keterangan Al Kitab menyebutkan bahwa Nabi Yesus diolok-olok, disesah, disalib, dan dibangkitkan di hari ketiga (Matius 20:19), hal ini adalah bentuk akibat dari dakwah yang mereka lakukan secara terang-terangan

disalib disini bukan berarti seperti pemahaman kita saat ini

disalib adalah sebuah bentuk kondisi dimana gerakan Nabi Yesus sudah di ikat dalam sebuah hukum yang melarang pergerakan mereka

sehingga mereka tidak leluasa mewartakan kebenaran tentangNya, dalam hal ini, Nabi Yesus (Isa as) dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku

bukan hukum yang tidak manusiawi seperti yang digambarkan saat ini dan pada saat itu, penguasa maupun rakyat yang tidak mengimaninya, menganggap bahwa Nabi Yesus (Isa as)

telah mati gerakannya, dan dianggap mereka, bahwa Nabi Yesus as sudah mereka bunuh (secara fisik)

padahal mereka sebetulnya meragukan kebenaran peristiwa pembunuhan tersebut, yang dibunuh oleh mereka bukanlah Nabi Yesus (Isa as), melainkan seseorang yang diserupakan dengannya (Yudas) (QS. 4:157).

Setelah kejadian dimana, Yesus diserahkan kepada majelis persidangan, yaitu, mahkamah agama, dia dihadapkan dengan para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat (Lukas 22:63-71)

kemudian Nabi Yesus (Isa as) dihadapkan kepada Pilatus (Lukas 23:1-7)

selanjutnya, dia pun dihadapkan kepada Raja Herodes (Lukas 23:8-12), dan dikarenakan tidak ditemukan kesalahan pada diri Nabi Yesus (Isa as), dia dihadapkan kembali kepada Pilatus

karena desakan orang banyak, maka Nabi Yesus (Isa as) dihukum atas kesalahan yang tidak ditemukan pada dirinya.

Setelah peristiwa dimana Nabi Yesus (Isa as) telah disalib, maka dianggap dirinya telah mati, hal tersebut sesuai dengan keinginan rakyat

maka pada saat itu lah gerakan Nabi Yesus (Isa as) tidak tercium lagi oleh khalayak ramai, mereka menganggap gerakannya maupun fisik nya telah dibunuh

baru kemudian di hari ketiga dia dibangkitkan, dalam hal ini dia sudah berhasil keluar dari kekejaman Raja yang berkuasa saat itu, yaitu, Raja Herodes, yang digambarkan dalam bahasa Al Kitab tentang peristiwa tersebut, Yesus bangkit dari kematiannya (gerakannya) (Matius 28:1-10)

tapi sebelumnya ada kejadian yang menggoncangkan, sesuai dengan kebiasaanNya atau sunnahNya, dalam sejarah Nabi Yesus (Isa as) berupa gempa bumi yang terjadi ketika kebangkitan Nabi Yesus (Isa as) (Matius 24:3-14), seperti halnya yang terjadi pada Nabi Musa as (QS.7:155)

gempa disini adalah kegoncangan atau ketidakstabilan (politik) dalam Kerajaan Herodes kala itu, kemudian, digambarkan dalam bahasa Al Kitab (perumpamaan)

pada saat itu, dia telah bangkit dari kubur atau kematiannya, beserta orang-orang Kudus (suci) atau alegoris dari pengikutnya (muridnya) (Matius 27:45-56), jika kita berfikir bahwa itu adalah sesuatu yang benar

maka kita pasti merasa hal tersebut sesuatu yang aneh atau tidak masuk akal, mana mungkin Tuhan menghidupkan orang mati (secara fisik)

dan Tuhan melanggar sistem keteraturan yang dia buat, hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip penciptaan yang dia tetapkan, tidak mungkin sesuatu yang sudah mati bisa hidup kembali

karena organ-organ dan sel-sel dalam tubuhnya sudah tidak berfungsi, bagaimana caranya hal tersebut bisa terjadi ? Tidak ada satupun ilmu pengetahuan saat ini, yang dapat membuktikan kebenaran hal tersebut.

Sebetulnya, itu adalah perumpamaan, kebangkitan Nabi Yesus (Isa as), di hari ketiga (tahapan Keluaran), tentu saja hal tersebut menggemparkan, dan sesuai dengan Sunnah atau kebiasaan Tuhan, tahapan keluaran (hari ketiga) yang dilakukan oleh para utusannya

selalu disertai dengan azab-Nya, baik azab yang datang dari alam maupun sosial, hal tersebut merupakan sa’ah-nya atau batas waktunya (QS.7:34), waktu dimana datangnya azab bagi umat (masyarakat) yang menentang tersebut, dan saat itu tidak ada satupun manusia yang dapat menghindar darinya (azabNya) (QS.2:165).

Maka, pada hari ketiga yang disebut dengan tahapan keluaran, Bani Israel (Israil) berhasil keluar dari belenggu yang menjeratnya, dalam artian, tidak bisa melaksanakan hukum Tuhan secara totalitas

dan saat itulah tahapan Imamat atau pengangkatan imam-imam dilakukan seperti yang diajarkan dalam Kitab Taurat, karena segala tindak tanduk Nabi Yesus (Isa as) berasal dari Kitab Taurat.

Selanjutnya, setelah Nabi Yesus bangkit, maka yang dia lakukan adalah melanjutkan ketahapan untuk mendapatkan kemenangan, dengan cara mengakader umat atau murid-muridnya agar siap menjadi tentara-tentara Allah dalam perjuangan mereka merebut Yerusalem kembali

dalam hal menata, mengelola, dan mengatur pasukan (tentara) yang digambarkan sebagai hari keempat atau tahapan bilangan, dalam hal ini tentara yang dimaksud bukan hanya yang terlihat tapi juga yang tidak terlihat (azab Tuhan) (QS.9:26).

Maka, di hari kelima (tahapan kelima), Nabi Yesus (Isa as), akhirnya berhasil memperoleh kemenangan, dengan ditandai dengan ‘Kedatangan Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa dan datang di atas awan-awan di langit’ (Matius 26:64), dan saat itulah hari raya bagi mereka

dan mereka diberikan hidangan langit atau ajaran dari Tuhan melalui perantaraan Nabi Yesus (Nabi Isa as) (QS.5:114).

Selanjutnya, pada hari keenam sempurna lah ciptaan Tuhan, dan Anak Manusia sudah menjadi Raja dalam Khilafah atau Kerajaan di bumi seperti halnya di sorga, dalam bahasa Al Kitab, gunung Sion kembali berada di atas segala bukit dan gunung-gunung, sesuai dengan nubuah dari Nabi Zakharia (Zakharia 8:3)

Terakhir, di hari ketujuh, Tuhan beristirahat, yang disebut sebagai hari Sabath, dan pada hari itulah, Tuhan berhenti mencipta, tapi bukan berarti berhenti dari mengurus umatnya

segala ciptaannya sudah sempurna, ditandai dengan manusia sudah menjadi gambar dan rupaNya

artinya, manusia sudah memimpin dalam Khilafah atau KerajaanNya, yang menandakan atau membuktikan bahwa Yerusalem kedua berhasil didirikan oleh Nabi Yesus (Isa as)

Kemudian, setelah kedua kalinya Tuhan memberikan kekuasaan kepada Bani Israel (Israil), sesuai nubuah para Nabi, Bani Israel sudah tidak dipercaya lagi dan digantikan dengan bangsa lain

yaitu batu yang dibuang, yang menggambarkan seseorang yang dibuang dalam alasan tertentu atau dijadikan hamba dari yang lainnya atau seseorang yang dulunya dianggap kecil atau hina (Matius 21:33-46), yang merujuk pada garis keturunan Nabi Ismail as (Kej.21:10).

Dalam hal ini, putri Sion (Bani Israel) menggambarkan umat yang berasal dari Bunda Sara atau Sarai (Siti Sarah) sudah digantikan dalam hal duduk dalam Khilafah (Kerajaan) yang dijanjikanNya kepada keturunan Nabi Abraham (Ibrahim as)

faktanya, digantikan oleh keturunan Nabi Abraham (Ibrahim as) yang lain

yaitu berasal dari Bunda Hagar (Siti Hajar), yang diusir ke tanah Arab, yang mana kekuasaan (Khilafah) diberikan kepada Nabi Muhammad saw, keturunan Nabi Ismail as (Bani Hasyim) (QS.61:6)

karena Bani Israel (Israil) sudah tidak setia lagi kepadaNya.

Seperti itulah, perjuangan Nabi Yesus (Nabi Isa as) dalam memperjuangkan tegaknya Khilafah (Kekuasaan;Kerajaan) di muka bumi

dan hal ini membuktikan fakta bahwa dia adalah manusia biasa, dan dia juga sudah berhasil atau menggenapi nubuah Nabi-nabi sebelumnya

bahwa dirinya diutus untuk mengembalikan Yerusalem di tangan Bani Israel, hal ini menandakan bahwa Tuhan sudah dua kali melakukan perbuatan baik kepada Bani Israel

dan mereka pun kembali tidak setia, maka sudah sepantasnya Tuhan Yang Maha Tinggi, tidak mempercayai lagi Bani Israel (Israil) menjadi Raja dalam Khilafah (Kerajaan;Kekuasaan) yang berasal dariNya atau sorga.

2. Sejarah Nabi Muhammad saw

Bagi umat Islam, tentu saja sejarah Nabi Muhammad saw, dalam memperjuangkan penegakan Khilafah atau KerajaanNya, sudah barang tentu hal tersebut diimani dan diyakini sebagai sebuah keluarbiasaan Allah dalam hal memenangkan Din-Nya (hukumNya) diatas segala Din (hukum) yang lain (buatan manusia),

tidak ada satupun manusia, yang dapat membantah tentang kebenaran bahwa Nabi Muhammad saw berhasil mendirikan Khilafah di tanah Arab, tanah yang menjadi peninggalan dari Nabi Abraham (Ibrahim as) dan Nabi Ismael (Ismail as), selaku leluhur atau Bapak-bapak mereka.

Dalam memahami sejarah Nabi Muhammad saw, tidak lepas dari visi dan misi yang di bawa oleh Nabi-nabi sebelumnya, semenjak Nabi Adam as, sampai dengan Nabi Yesus (Isa as).

Sehingga, perjalanannya pun, mencontoh apa yang dilakukan oleh para Nabi sebelumnya, yaitu, memiliki visi untuk menegakkan atau memenangkan Din (hukum;sistem) Allah, dan misinya adalah melakukan perjuangan selama enam hari (tahapan;fase) atau dari fase iqra’ hingga al-yawma

yang bertujuan untuk menjadikan Khilafah (Kerajaan;Kekuasaan) yang didirikannya menjadi rahmat (berkah;berkat) bagi alam semesta.

Pada awal mulanya, sebelum dirinya diangkat oleh Allah menjadi Rasul, dia pun terlebih dahulu melakukan proses pencarian, sampai lah wahyu turun kepadanya, yang digambarkan dari catatan sejarah, Nabi Muhammad saw

merasa bahwa dirinya dalam kondisi kebingungan yang menyebabkan dia sadar bahwa ada sesuatu yang salah pada kondisi Mekkah saat itu, dan dia pun mengetahui bahwa dia tersesat dari jalannya, akhirnya dia pun seperti halnya Nabi-nabi sebelumnya melakukan mitsaq atau bai’ah atau janji setia kepada Tuhan untuk tidak mempersekutukannya (QS.33:7)

baru kemudian, pendukung setianya yaitu hawariyyun yang terlebih dulu beriman tersebut, membai’at orang-orang yang beriman kemudian (QS.48:10 & QS.57:8), agar Rasul menjadi saksi atas orang-orang beriman, dan orang-orang beriman menjadi saksi bagi segenap manusia yang mengimani Rasul tersebut (QS.60:12 & QS. 22:78)

hal tersebut dilakukan sampai lahirlah sebuah jemaah Mu’min (orang-orang beriman) yang di kader sendiri oleh Tuhan melalui RasulNya, supaya menjadi Khalifah di muka bumi di saat waktu yang telah ditetapkannya.

Dalam perjuangan yang dilakukannya, dia dan pengikutnya juga melakukan proses dakwah seperti halnya Nabi-nabi sebelumnya (QS.2:274), baik itu secara sembunyi-sembunyi (tahapan pertama;hari pertama)

yang ruang lingkupnya masih kerabat-kerabat terdekat (QS.26:214-215) dan secara terang-terangan (tahapan kedua;hari kedua), dalam kedua proses dakwah inilah, dikumpulkan lah umat yang mengimaninya, yang kebanyakan dari mereka adalah hina dina (kalangan atau strata terendah dari kaumnya), yang lekas percaya saja (QS.11:27), dan pada tahapan ini

orang-orang yang mengikutinya disebut orang-orang yang sabiq (kuat) di awal atau disebut dengan ‘as sabiquna al awwalun’ (QS.9:100), yang disebut dengan kader-kader pelopor (para sahabat Nabi).

Selanjutnya, menjelang tahapan hijrah atau eksodus, sebelumnya Nabi Muhammad saw, secara terang-terangan menyampaikan kepada penguasa di tanah Arab dan kaumnya (Bangsa Quraish), tentang kebenaran yang dibawanya bahwa dia adalah utusan Allah, hal itu tentu saja membuat Ahlul Kitab (Ahli dalam hal Kitab Suci)

maupun penguasa di Mekkah saat itu yaitu Amr bin Hisyam yang disebut Abu Jahal (Bapak kebodohan), terganggu dengan gerakan Nabi Muhammad saw, dan menurut catatan sejarah, dirinya mati ketika perang Badar.

Maka, dikarenakan sudah sangat jelas penolakan keras kaumnya terhadap dakwahnya, bentuknya berupa dihina, diolok-olok, penganiyaan dan bahkan diusir dari kampung halamannya (QS.14:13-14), sehingga, Nabi Muhammad saw, harus melakukan hijrah (QS.4:100)

dalam rangka untuk mencari tempat yang aman dan dapat melindungi hidup mereka atau hidupnya misi risalah Millah Abraham (Ibrahim) dan hidupnya iman pribadi mu’min yang mengikutinya (QS.44:51), agar mereka dapat beribadah atau mengabdi kepada Tuhan dengan benar, tanpa merasa takut, juga sebagai rangka penyelamatan aset Allah, berupa umatNya yang setia

dan juga sebagai sarana mukmin untuk berlepas diri dari musuh-musuh Allah yaitu orang-orang yang berada dijalan selain jalan Allah, baik itu orang tua, kerabat dekat, tetangga, dll, sebelum itu dilakukan, maka, selalu diawali dengan sa’ah atau azab yang menghinggapi kaum yang sudah jelas-jelas menolak ajakan para Nabi dan Rasul (QS.7:34)

dan di dalam Al Qur’an juga menerangkan tentang kewajiban orang-orang beriman untuk berhijrah, karena apabila orang-orang beriman tersebut tidak mau berhijrah, malah kembali kepada agama bangsanya yang kafir-musyrik tersebut, mereka ditempatkan oleh Allah ke dalam neraka jahanam (QS.4:97), dan Tuhan mengecam keras orang-orang yang tidak mau melakukan hijrah tersebut (QS.8:72).

Pada awalnya, Nabi Muhammad saw, melakukan hijrah ke Tha’if, namun ternyata tempat tersebut bukanlah tempat yang dapat memberikan perlindungan, sampai pada akhirnya, mereka menemukan tempat yang bisa menerima dan melindungi mereka, yaitu Yatsrib (Madinah)

dan disitulah awal mulanya, kebangkitan bagi Nabi Muhammad saw dan pengikutnya, proses untuk menjadikan Yatsrib (jazirah Arab) menjadi tempat yang bisa memberikan perlindungan kepada orang-orang beriman, tidaklah sebentar, diperlukan proses yang tidak sebentar

sebelumnya, menurut catatan sejarah, jemaah Khazraj dari Yatsrib yang sedang melakukan haji ke Mekkah,  menjadi sasaran dakwah dari Nabi Muhammad saw, pada akhirnya, mereka melakukan bai’at kepada Nabi Muhammad saw, yang telah mendengar dari orang-orang Yahudi tentang akan lahirnya seorang Nabi dalam waktu dekat

kemudian lebih dari enam orang kaum Khazraj yang telah beriman ini kemudian pulang dan berdakwah di Yatsrib, yang merupakan titik terang dalam misi perjuangan Nabi Muhammad saw yaitu misi risalah Millah Abraham (Ibrahim) atau Din Al Islam.

Setahun kemudian, ditahun ke-12 kenabian, dua belas orang laki-laki dan seorang wanita penduduk Yatsrib datang ke Mekkah pada musim haji untuk bertemu secara diam-diam dengan Nabi Muhammad di ‘Aqabah.

Di tempat inilah mereka melakukan baiat ‘Aqabah Ula (perjanjian ‘Aqabah yang pertama), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak, tidak akan memfitnah, dan tidak akan mendurhakai Nabi Muhammad saw (QS.60:12).

Lalu, setelah perjanjian petama dilakukan, dilanjutkan dengan perjanjian kedua, yang dinamakan dengan Bai’atul ‘Aqabah Ata-Tsaniyah (Perjanjian ‘Aqabah Kedua), yang diawali dengan peristiwa yang terjadi pada tahun ke-13 kenabian

rombongan kaum mu’min Yatsrib berangkat ke Mekkah menunaikan Haji, setelah melakukan ritual haji, mereka secara diam-diam berangkat menuju ‘Aqabah menemui Rasulullah Muhammad, jumlah mereka 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.

Tatkala Nabi Muhammad saw, melihat tanda-tanda positif tentang perkembangan dakwah di Yatsrib, disuruhnya lah para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Beliau berkata, “Sesungguhnya bagimu dan negeri itu sebagai tempat yang aman bagimu.”

Maka, dengan berpindahnya Nabi Muhammad saw dan pengikutnya dari Mekkah ke Yatsrib, selama kurang lebih 13 tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan, dan akhirnya melakukan hijrah,

hal itu menandakan periode pertama sejarah risalahnya, yang disebut  dengan periode Makkiyah (QS.8:30), yang menandakan tahapan ketiga (hari ketiga) sudah dilaksanakan.

Disana, mereka mempersiapkan diri, guna melanjutkan tahapan selanjutnya yaitu tahapan jihad atau perang (tahapan keempat;hari keempat) (QS.22:39-40), dengan komando Nabi Muhammad saw

perang pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw adalah perang Badar pada tanggal 17 Ramadhan 2 H, yang disebut dalam Al Qur’an dengan sebutan yaumil taqal jam’an (hari bertemunya dua pasukan) dan yaumul furqan (hari yang memisahkan antara haq dan bathil)

mukmin menang dalam perang tersebut, bukti dari pertolongan Tuhan, selanjutnya perang Uhud di bulan Sya’ban tahun ke-3 H yang menewaskan 70 orang sahabat, termasuk Hamzah, paman Nabi Muhammad saw, dilanjutkan dengan Perang Khandaq (dikenal dengan perang Al Ahzab) di bulan Syawal tahun ke-5 H

dan perang besar lainnya diantaranya perang Mu’tah (tahun ke-8 H) melawan pasukan Romawi yang menewaskan tiga jenderal; Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullaj bin Rawahah.

Selanjutnya, pada tanggal 10 Ramadhan 8 H, Rasullullah Muhammad beserta 10.000 orang laki-laki berangkat menuju Mekkah, dan orang-orang Quraisy yang mendengar berita tersebut gemetar saking takutnya menjadi putus asa

bahkan, Abu Sofyan (Pemimpin Quraisy) pergi mencari Nabi Muhammad Saw, menyusul dan menyatakan keimanannya, dan dari empat penjuru arah, Nabi Muhammad saw, memerintahkan pasukannya untuk memasuki Kota Mekkah, dan tanpa perlawanan sedikitpun

akhirnya, Mekkah jatuh kedalam kekuasaan kaum mu’min, dan mereka pun takluk di bawah kekuasaan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw. Inilah masa (fase; tahapan) kemenangan pasukan mukmin atas kekuasaan orang Mekkah (futuh Mekah;penaklukan Mekah), yang menandakan tahapan atau hari kelima perjuangan Nabi Muhammad saw.

Kemenangan mereka inilah yang menjadi dasar hari dimana mereka melakukan hari raya, dalam rangka memperingati hari dimana kemenangan mereka dapatkan, dan pada saat itu orang-orang berbondong-bondong masuk kedalam ajaranNya (QS.110:1-3), dan juga pada saat itu orang kafir sudah putus asa mengalahkan Din Allah (QS 5:3).

Dimana, dalam bahasa Al Kitab, di hari ini lah Tuhan telah menciptakan manusia sesuai gambar dan rupanya (Manusia Paripurna), yang dilakukanNya pada hari keenam (tahapan keenam), dan pada saat itu lah pengikut Nabi Muhammad saw, dikatakan sebagai orang-orang yang benar-benar beriman

karena sudah melalui fase iman, hijrah, dan jihad (QS.8:74), dan mereka itulah yang termasuk orang-orang yang mendapat kemenangan (QS.9:20).

Demikianlah, Din Allah (Din Al Islam) telah dapat merata diterima di jazirah Arab. Rasulullah Muhammad akhinya dapat menikmati buah dari hasil perjuangannya selama kurang lebih 23 tahun lamanya

Bangsa Arab yang semula bermusuhan dan berpecah belah, akhirnya, hidup bersatu di bawah satu Panji, yakni Khilafah Allah, negeri Madianah Al Munawwarah.

Setelah menjadi wilayah yang aman, dikuasai kaum mu’min, dan tempat berlakunya Din Al Islam, kota Yatsrib pun berubah nama menjadi Madinah, dan kota Madinah pun menjadi pusat atau basis bagi tegaknya Khilafah Allah, dan Din Al Islam menjadi sistem hukum yang berlaku di dalam wilayah kekuasaan Islam.

Maka, pada tanggal 25 Zulqaedah 10 H, Nabi Muhammad dan pengikutnya kurang lebih 10.000 orang, melaksanakan haji, dan pada tanggal 8 Zhulhijah 10 H (7 Maret 633 M)

disinilah Rasullullah Muhammad memproklamirkan tegaknya Din Al Islam sebagai sistem hukum bagi umat manusia, yang ditandai dengan tegaknya tata hukum Allah, tata pemerintahan, tata ummat, dan teritorial hukum Allah) (QS.5:3).

Kemudian, tak berapa lama waktu berselang, Nabi Muhammad saw pergi meninggalkan umatnya (jasadnya), tapi ajarannya maupun sistem yang dibuatnya dengan campur tangan Tuhan, tetap hidup dikesadaran para pengikutnya, setelah kepergiannya

maka, sesuai Sunnah atau kebiasaan-Nya, pengikut setianya dijadikan Tuhan berkuasa di dalam Khilafah (Kerajaan) yang berhasil didirikan oleh-nya di tanah Arab tersebut (QS.24:55).

Seperti kita ketahui, tentang bagaimana kebesaran Khilafah di tangan para sahabatnya, yang lebih dikenal dengan Khulafa Rasyidin atau Khilafah Rasulullah (632-661 M)

yaitu, pada masa Kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq (632-634 M), Kekhalifahan Umar bin Khatab (634-644 M), Kekhalifahan Utsman bin Affan (644-656 M) dan Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (656-661 M). Kemudian, Kekhalifahan dilanjutkan oleh Bani Umayyah (661-750 M) dan Bani Abbasiyah (750-1258 M), yang membuktikan kebesaran Tuhan hadir di tengah-tengah manusia

Setelah kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad dihancurkan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 Masehi, beberapa tahun muncullah Kekhalifahan Turki Utsmani (1281-1924 M) di Istanbul.

Bedanya, kalau pemerintah sebelumnya menggunakan istilah Khalifah untuk raja-rajanya, pada Kekhalifahan ini menggunakan gelar Sultan, dan jika kita melihat rentang waktu yang ada maka sudah jelas bahwa kekhalifahan ini bukanlah estafeta dari Kekhalifahan pada zaman Nabi Muhammad saw yang telah hancur di tangan Hulagu Khan.

Seperti halnya yang dilakukan Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw, setelah mendapatkan kemenangan, mereka juga melakukan ekspansi (perluasan wilayah),

dalam rangka menjadikan hukum Tuhan sebagai landasan dari setiap bangsa dan negara di dunia, dengan kekuatan mereka dan campur tangan Tuhan, banyak bangsa dan negara, yang takluk atau iman dengan apa yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Seperti halnya di Indonesia yang mayoritasnya menganut kepercayaan Islam, tidak lepas dari pergerakan misi Khilafah itu sendiri, dalam rangka membumikan ajaran Tuhan agar berlaku seluas-luasnya di muka bumi.

Seperti itulah sejarah singkat perjuangan Nabi Muhammad saw, dalam rangka menegakkan Khilafah di muka bumi, agar segala lapisan masyarakat yang ada di dunia, yang diawali dari bangsanya sendiri

menjadi paham dan mengetahui apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, yang disampaikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dan jelas untuk dipahami

supaya mereka memahami apa yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah sebuah kebenaran yang bersumber dariNya, sehingga, tidak ada satupun dari mereka yang dapat membantah kebenaran yang dibawanya tersebut.

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x