Penting Membaca Alquran Menggunakan Akal

Dalam kehidupan ummat beragama, tentu kita sering mendengar pernyataan dari kalangan agama yang mengatakan bahwa ajaran yang berkaitan dengan keimanan kepada Tuhan,

hanya perlu diimani tanpa perlu dikritisi atau dikaji lebih dalam mengenai kebenarannya, sebagai pembuktian dari keimanan manusia kepada sang pencipta -Nya

Mereka menganggap bahwa ajaran Tuhan berlepas diri dari sains atau ilmu pengetahuan,

dimana mereka berkeyakinan bahwa ajaran Tuhan adalah ajaran yang mengandung mukjizat di dalamnya,

sehingga bagi seseorang yang memeluk agama yang menurut keyakinannya paling benar,

harus lah meyakini bahwa mukjizat tersebut adalah bukti keluarbiasaan Tuhan, walaupun mukjizat tersebut bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Hal tersebut terjadi dikarenakan setiap agama mengklaim agama mereka yang paling benar, sehingga sifat fanatisme yang membabi buta tersebut,

tanpa disadari sebagian besar umat beragama saat ini, telah melumpuhkan akal fikiran yang sehat, yang sejatinya dipergunakan untuk memahami kebenaran yang terdapat dalam Kitab Suci.

Padahal, akal fikiran yang sehat tersebut sejatinya merupakan anugerah yang Tuhan berikan kepada makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan nya yang lain.

Lalu pertanyaannya sekarang, apakah benar menurut kacamata Kitab Suci, bahwa ajaran tentang kebenaranNya, tidak perlu mempergunakan akal dalam mempelajarinya ?

Faktanya, Al Qur’an sendiri pun secara jelas menerangkan bahwa penggunaan akal sehat sangat penting dalam memahami ajaran yang terkandung didalamnya,

seperti halnya diterangkan pada kedua surat di bawah ini.
Pertama, pada surat Ibrahim [14] ayat 15, diterangkan bahwa Al Qur’an adalah penjelasan bagi manusia,

yang dapat diambil pelajaran bagi orang yang berakal atau yang mempergunakan akalnya.

Al Qur’an surat Ibrahim [14] ayat 52. :

Dan (Al-Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.

Kedua, pada surat Shad [38] ayat 29 diterangkan bahwa Al Qur’an dipergunakan oleh orang-orang yang berakal sehat untuk dijadikan pelajaran.

Al Qur’an surat Shad [38] ayat 29 :

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.

Dari keterangan kedua surat diatas, kita dapat simpulkan, bahwa Al Qur’an hanya bisa dipelajari oleh orang-orang yang mempergunakan akal sehatnya dalam memahami kebenaran yang terkandung didalamnya.

Selanjutnya, pada kedua ayat dibawah ini, juga diterangkan bahwa selain Kitab, baik itu Taurat, Injil, maupun Al Qur’an,

Tuhan juga menurunkan hikmah (ilmu kebijaksanaan) kepada utusanNya,

dimana dia memberikan kemampuan dalam memahami hikmah tersebut kepada orang-orang yang mempergunakan akalnya.

Al Qur’an surat Al-Baqarah [2] ayat 151 :

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah , serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

Al Qur’an surat Al-Baqarah [2] ayat 269. :

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.

Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Sejatinya, dalam hal ini, berbicara tentang Al Qur’an bukan hanya berbicara tentang petunjuk bagi ummat Islam, tapi berbicara tentang petunjuk bagi manusia,

artinya, semua manusia, tidak peduli latar belakangnya, berkewajiban untuk menjadikan Al Qur’an sebagai pelajaran bagi mereka, selaku makhluk ciptaan TSA.

Dimana jika kita pahami makna kata Al Qur’an secara etimologis, maka secara bahasa, Al Qur’an mengandung pengertian satu-satunya bacaan, artinya disini,

hanya Al Qur’an lah satu-satunya bacaan dalam hidup dan kehidupan manusia.

Berbicara Al Qur’an bukan berarti hanya berbicara tentang Kitab Suci yang diturunkan kepada Muhammad, melainkan juga berbicara tentang Kitab Suci lainnya,

yang diturunkan Tuhan kepada utusanNya yang lain, dikarenakan Al Qur’an sendiri berisikan tentang ajaran yang terkandung dalam Taurat maupun Injil,

yang sama-sama mengajarkan tentang Din Al Islam, yakni sistem hidup dan kehidupan dalam rangka ketundukpatuhan manusia kepada satu-satunya pengaturnya,

satu-satunya penguasanya, dan satu-satunya yang ditaati bagi manusia.

Dalam hal ini, Al Qur’an adalah Kitab yang membenarkan Kitab-kitab sebelumnya, bukan berarti bahwa Kitab sebelumnya berisikan sesuatu yang salah,

sehingga Al Qur’an dipergunakan Tuhan untuk merevisi Kitab-kitab sebelumnya.

Lalu apa yang dimaksud membenarkan disini ? Yang dimaksud membenarkan disini adalah, Al Qur’an dijadikan Tuhan sebagai penggepan (perwujudan) dari apa yang telah dinubuahkan (diprediksi) oleh Kitab-kitab sebelumnya,

bahwa Tuhan mengutus seorang Rasul kembali setelah Rasul sebelumnya, sesuai dengan nubuah (prediksi) Rasul sebelumnya tersebut, berdasarkan wahyu yang turun kepada mereka.

Pertanyaan bagi kita sekarang, apakah ayat-ayat di dalam Taurat dan Injil juga disebutkan dalam Al Qur’an atau satu-satunya bacaan hidup dan kehidupan bagi manusia ? Jawabannya adalah ayat-ayat dari Kitab-kitab tersebut sejatinya adalah sama.

Seperti kita ketahui bahwa, Taurat dan Injil, kita kenal dengan sebutan Al Kitab, juga berati satu-satunya Kitab atau ketetapan dariNya,

yang menunjukkan fungsi yang sama dengan Al Qur’an, sehingga dari hal tersebut, membuktikan kepada kita, bahwa semua Kitab tersebut nilainya sama, ajarannya sama, dan hukum-hukum yang diajarkan juga sama,

yakni sama-sama berasal dari Tuhan Semesta Alam, pencipta langit dan bumi, yang mengajarkan bahwa satu-satunya bacaan hidup dan kehidupan, berasal dari firman-firmanNya.

Hanya saja yang membedakan isinya hanyalah sejarah yang diceritakan dalam Kitab-kitab tersebut, seperti halnya Taurat, menceritakan tentang sejarah Nabi Musa as,

Injil menceritakan sejarah Nabi Yesus (Isa as), begitu pula Al Qur’an menceritakan sejarah Nabi Muhammad saw.

Sehingga, prihal mengenai julukan dari masing-masing Kitab Suci tersebut, sejatinya bukan sebuah alasan bagi kita untuk tidak menyatukan pandangan kita,

bahwa kebenaran satu-satunya berasal dari Tuhan, tidak peduli agama kita berasal, dikarenakan ‘isi’ dari Kitab tersebut sama, jadi mengapa kita masih tidak bisa bersatu atau tetap berpecah belah,

dengan meyakini kebenaran yang bukan berasal dari Tuhan ?
Seperti halnya, teori tentang kebenaran bahwa bumi ini bulat, pada awalnya banyak sekali pertentangan tentang teori tersebut,

tapi pada akhirnya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Selanjutnya, bagaimana pandangan Al Kitab mengenai fungsi akal sehat atau akal budi tersebut dalam memahami ajaran kebenaran tentangNya ?

Pada Kitab Amsal yang diterangkan dibawah ini, menunjukkan kesamaan dalam keterangan Al Qur’an,

yang menunjukkan bahwa akal budi (kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah) adalah sumber kehidupan bagi manusia yang mau mempergunakannya.

Amsal 16:22 :

Akal budi adalah sumber kehidupan bagi yang mempunyainya, tetapi siksaan bagi orang bodoh ialah kebodohannya.
Selain itu, pada Kitab di bawah ini juga menerangkan bahwa isi (hukum) dari Taurat,

yang mendasari ajaran Nabi Yesus (Isa as), yakni,”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu,” yang mana hal ini adalah hukum pertama dalam ajaran Nabi Yesus (Isa as).

Maka hal ini sebetulnya menunjukkan kepada kita, bahwa baik Nabi Musa, Nabi Yesus (Isa as), dan Nabi Muhammad saw, mengajarkan kepada segenap manusia untuk mempergunakan akalnya dalam memahami ajaran-ajaran Tuhan,

baik itu berkaitan dengan moral atau mengatur tingkah laku manusia, secara pribadi maupun secara sosial (hubungan antar sesama),

maupun berkaitan dengan Hukum-hukumNya.
Selain itu juga diterangkan mengenai pengunaan hati (perasaan), jiwa (perasaan yang dalam;Ruh;energi) yang terletak dalam qalbu (otak) manusia,

untuk dipergunakan sebagai media untuk mengasihi Tuhan, dimana hal ini pun berlaku dalam hal mengasihi manusia seperti halnya mengasihi diri mereka sendiri.

Artinya disini, penggunaan qalbu dalam melaksanakan hukum-hukum Tuhan, adalah sebuah keharusan bagi manusia, jika manusia tersebut mau untuk kembali kepadaNya. Mari kita perhatikan firman Tuhan dibawah ini

Matius 22:36-40 :

(36) “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (37) Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

(38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.(40) Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para Nabi.”

Pada ayat 40, yang diterangkan pada Kitab Matius di atas, terdapat keterangan bahwa kedua hukum tersebut adalah isi dari seluruh hukum Taurat dan Kitab para Nabi,

artinya disini, semua Kitab para Nabi berisikan tentang dua hal tersebut, maka hal ini sangat jelas membuktikan kepada kita, bahwa semua Kitab para Nabi adalah sama, sama-sama memiliki ajaran yang sama,

bersumber dari Tuhan Semesta Alam.
Lalu pertanyaannya bagi kita sekarang, berperankan penggunaan akal dalam kehidupan umat beragama saat ini ?

Tentu bagi kita yang mau untuk menggunakan akal sehat kita, kita pasti memahami dengan baik kondisi saat ini,

bahwa akal tidak dipergunakan dalam memahami ayat-ayatAllah, baik itu memahami Al Quran, maupun Al Kitab, dikarenakan ada pemahaman yang mengakar dalam kehidupan umat beragama, bahwa keyakinan kepada Tuhan hanya perlu diimani,

disebabkan ketidakmampuan mereka dalam memahami perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam Kitab Suci.
Hal ini lah sebetulnya yang menjadi jurang pemisah antara penggunaan akal dan ajaran-ajaran Tuhan,

sehingga manusia-manusia yang meyakini ajaran nenek moyangnya paling benar, tidak dapat menemukan jalan untuk menghubungkan antara penggunaan akal dengan ajaran-ajaran Tuhan tersebut.
Sejatinya,

kondisi saat ini adalah sesuatu hal yang sangat wajar, dikarenakan pada dasarnya manusia takut untuk keluar dari dogma yang selama ini menjadi penjara bagi akal fikiran mereka,

hal itulah yang mengakibatkan sampai saat ini, manusia tetap mempertahankan keyakinan dari nenek moyangnya.
Mengapa manusia takut untuk keluar dari dogma yang mengungkungnya ?

Hal itu dikarenakan manusia takut untuk menghadapi resiko-resiko yang ada, jika mereka keluar dari keyakinan yang membelenggu mereka. Padahal sejatinya,

semua manusia pada dasarnya menolak segala sesuatu yang irasional atau bertentangan dengan akal sehat, dikarenakan semua manusia diberikan oleh Tuhan,

akal fikiran, sehingga dengan akal fikiran ini lah, manusia dapat menilai sesuatu, apakah pengetahuan yang mereka dapat itu benar atau sebaliknya.

Lalu pertanyaan nya sekarang, mengapa ketakutan tersebut bisa dengan mudah menjadi alasan bagi manusia untuk menolak mengabdi (beribadah) kepada Tuhan secara benar,

dikarenakan manusia memiliki nafs, sehingga apabila hal-hal yang berkaitan tentang kecintaan yang melingkupi kehidupan mereka terancam,

maka manusia lebih memilih untuk menolak kebenaran, padahal akal sehat di dalam dirinya, menentang hal tersebut.

Rasa takut sejatinya bukanlah sesuatu yang buruk, dikarenakan rasa takut tersebut juga merupakan ciptaan Tuhan, lalu, apa fungsi sebetulnya dari rasa takut tersebut ?

Rasa takut tersebut diciptakan Tuhan agar manusia takut terhadap azab dariNya, dimana azab darinya tersebut, adalah sesuatu yang pasti terjadi dan tidak bisa ditolak kedatangannya, bagi orang-orang yang menolak akan kebenarannya.

Oleh sebab itu, pantaskah kita merasa takut untuk keluar dari dogma yang selama ini mengungkung kita, untuk kembali kepada ajarannya yang hanif (lurus),

agar supaya kita tidak terkena azab dariNya, walaupun dalam hal ini, azab tersebut adalah sesuatu yang ghaib (belum terbukti tapi diyakini),

tapi hal inilah yang menjadi dasar keimanan kita kepadaNya, dikarenakan semua manusia adalah makhluk ciptaanNya, yang tidak bisa lepas dari kontrolNya,

sehingga apabila manusia berbuat dosa walaupun sebiji zarrah (atom) sekalipun, Tuhan tetap melakukan perhitungan terhadap dosa tersebut,

dengan memberikan sesuatu yang nilainya sama dengan dosa (kesalahan) yang manusia perbuat.

Faktanya, Tuhan memiliki sifat Maha Pencemburu, hal inilah yang banyak tidak diketahui oleh kita, dimana sebagian besar diri kita menganggap bahwa Tuhan Maha Pemaaf,

cukup melaksanakan ritual penyembahan, Tuhan sudah menghapus dosa atau kesalahn kita, padahal, dalam Al Quran sendiri menyebutkan bahwa Tuhan sangat membenci perbuatan musyrik atau mengambil illah-illah lain selain Allah,

dimana hal tersebut adalah perbuatan yang tidak bisa diampuni olehNya, dalam hal ini sudah menunjukkan dengan jelas kepada kita,

bahwa Tuhan Maha Pencemburu, artinya, bisa saja dia meninggalkan kita, jika Dia melihat bahwa diri kita sudah tidak setia kepadaNya, walaupun nilainya sekecil zarrah (atom) sekalipun.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita dapat mengabdi kepada Tuhan agar kita tidak termasuk kedalam golongan yang mendapatkan azab atau takdir buruk dariNya ?

Satu-satunya jalan hanyalah dengan mempergunakan akal sehat kita guna mendapatkan berkat (keberuntungan;rahmat) dariNya,

pertanyaannya lagi, lalu bagaimana jika kita tidak mau mempergunakan akal kita ? Tentu saja, kita akan dimasukkanNya kedalam neraka, yakni kondisi yang menyebabkan diri kita tidak pernah merasa tenang,

dan selalu ada saja masalah yang mengusik kehidupan kita, yang semakin memberatkan kita untuk mengabdi kepadaNya.
Terakhir,

dari penjelasan yang diuraikan diatas semakin mempertegas bahwa sangatlah penting menggunakan akal dalam memahami Kitab Suci, dikarenakan tanpa akal manusia nilainya sama dengan binatang, bahkan lebih rendah dari binatang.

Oleh sebab itu, seyogyanya manusia selalu melakukan daya dan upaya dalam memaksimalkan otaknya untuk dipergunakan sebagai alat untuk mempelajari, memahami, dan mendalami Kitab Suci,

agar supaya manusia tersebut menjadi hamba Tuhan yang benar, bukan malah sebaliknya,

menjadi tandingan Tuhan, dengan tidak mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan.

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x