Pengertian Qalbu Secara Istilah

Tentu di zaman Now saat ini, kita sering sekali melihat lambang hati dimana-mana, baik di media sosial, di kemasan-kemasan produk makanan, di pakaian, dll.

Apalagi di saat hari kasih Hari Valentine (Hari Kasih Sayang), hampir disemua tempat kita temukan ‘lambang hati’ di hari tersebut.

Sebetulnya, jika kita mau kepo atau mau tau banget tentang bagaimana asal muasal kata hati tersebut sehingga menjadi salah satu kata dalam bahasa yang dipergunakan di Indonesia,

kita akan menjadi paham bahwa penyimbolan “hati” dalam menerangkan kasih sayang, cinta, dan perasaan terdalam manusia tersebut, tidak punya alasan yang kuat dalam penyimbolan tersebut.

Dikarenakan, kata ‘herth’ tersebut pada mulanya berasal dari dunia barat, yang berarti ‘jantung’, sehingga lambang “perasaan terdalam” itu digambarkan dalam bentuk menyerupai jantung.

Lalu mengapa di indonesia malah melambangkan “perasaan terdalam” tersebut dengan hati, hal ini lah yang sampai saat ini, menjadi sesuatu yang mengherankan bagi kita yang mau kepo tentang hal tersebut.

Tampaknya, hal ini juga mempengaruhi penerjemah Al Qur’an, dalam mengartikan qalbu sebagai hati, padahal seperti kita tau, secara ilmiah,

fungsi hati adalah menetralisir racun dalam tubuh, sehingga tidak ada kaitannya sama sekali dengan perasaan manusia, seperti halnya ketika seseorang sedang di mabuk cinta atau kasmaran,

maupun sedang patah hati, tentu kita paham betul, bukan hati yang bereaksi dalam kondisi tersebut, melainkan ketidakstabilan dalam kejiwaan (fikiran) kita,

yang di kontrol oleh kerja ‘otak’ sehingga mempengaruhi hormon dalam tubuh, kemudian menimbulkan kecemasan, dll.

Seperti kita ketahui bersama, sistem organ dalam tubuh kita adalah kesatuan antara satu organ dengan lainnya, ketika salah satu organ kita bermasalah maka berdampak juga dengan organ tubuh yang lain.

Wajar jika kondisi stress harus diatasi dan dihilangkan segera dari dalam diri kita, karena bisa menimbulkan kerja sistem organ dalam tubuh kita terganggu, biasanya,

sinyal dari seseorang yang mengalami stress adalah aktivitas jantungnya meningkat dari kondisi normal.
Begitupula yang terjadi ketika seseorang sedang ‘feeling in love’ atau jatuh cinta,

orang tersebut pasti merasakan detak jantungnya bergerak lebih cepat dari biasanya. Maka, hal yang wajar sebetulnya jika ‘perasaan terdalam’ tersebut juga diistilahkan dengan ‘jantung’,

karena jantung juga ikut terdampak jika seseorang sedang dalam kondisi yang menyebabkan kegalauan dalam dirinya.
Hal ini lah alasan mengapa sampai saat ini kita menggunakan kata hati, dalam bahasa kita sehari-hari,

walaupun hal tersebut merupakan sesuatu yang aneh (mengherankan) jika kita renungi, tapi dikarenakan sudah menjadi kebiasaan,

maka hal tersebut sudah menjadi kata dalam bahasa keseharian kita,

yang tidak mudah untuk dihilangkan di zaman Now saat ini.
Baiklah, sudah jelas sebetulnya bagi kita semua bahwa kata hati tersebut kurang tepat untuk mewakili organ tubuh yang berperan dalam mengontrol (mengatur) perasaan manusia.

Faktanya, tentu kita sangat paham bahwa otak lah yang berfungsi untuk mengontrol (mengatur) perasaan manusia tersebut.
Mengapa makna ‘qalbu’ ini harus kita luruskan ?

Hal ini dimaksudkan agar supaya kita dapat memahami Al Qur’an secara jelas dan mendalam, tidak lagi berdasarkan prasangka, yang jauh dari kebenaran.

Dikarenakan kata ‘qalbu’ (otak) ini sangat sering kita temui dalam ayat Al Qur’an, begitu pula organ penyusunnya.

Secara bahasa, kata qalbu berasal dari kata qalaba yang berarti membalik, karena sifatnya memang berbolak-balik atau berubah-berubah. Terkadang gembira, kemudian sedih, dahulu senang kemudian benci,

terkadang galau kemudian konsisten (tetap pendirian), dan seterusnya.

Mari kita cermati beberapa surat dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang qalbu, beserta organ penyusunnya berikut ini !

Pertama, Al Qur’an surat Al-A‘rāf [7] ayat 179 ;

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,

mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),

dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak,

bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Sudah jelas dalam keterangan surat di atas menunjukkan kepada kita bahwa organ tubuh yang berfungsi untuk belajar dalam rangka memahami ayat-ayat Allah adalah otak, dimana dalam Al Qur’an menyebutnya dengan kata ‘qalbu’.

Dikarenakan bukan fungsi hati untuk memahami ayat-ayat (firman-firman) Allah tersebut, melainkan otak lah yang berfungsi dalam hal tersebut.

Kedua, Al Qur’an surat Al-Isrā’ [17] ayat 36 dan Al Qur’an surat Al-Mu’minūn [23] ayat 78 ;

Al Qur’an surat Al-Isrā’ [17] ayat 36 :
ا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati (fu’ad) , semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Al Qur’an surat Al-Mu’minūn [23] ayat 78 :

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati (af’idah). Amat sedikitlah kamu bersyukur.

Tentu dari keterangan surat tersebut, bagi kita yang mau berfikir, pasti merasa heran mengapa fu’ada (bentuk tunggal) dan af’idah (bentuk jamak) juga diartikan hati,

sama halnya dengan qalbu, padahal sudah sangat jelas kata dalam Al Qur’an tersebut berbeda, kenapa diartikan sama ?

Sebetulnya fu’ad atau af’idah tersebut adalah organ penyusun dari otak itu sendiri, yakni otak besar (cerebrum),

yang digunakan manusia untuk berfikir, analisis, logis, bahasa, kesadaran, pencernaan, memori jangka panjang, dan visual, dimana kecerdasan manusia dipengaruhi oleh kualitas cerebrum (otak besar).

Organ inilah yang membedakan manusia dengan binatang, dalam hal diberikan akal (otak), yaitu kemampuan untuk berfikir, dan membedakan mana yang benar, dan mana yang salah.

Dalam hal ini, jika kita perhatikan kata tersebut selalu dikaitkan dengan organ pendengaran dan penglihatan, yang merupakan organ yang berfungsi untuk menangkap informasi agar dapat dipahami oleh otak,

dimana hal ini sebetulnya sudah sangat jelas menunjukkan kepada kita, organ apa yang dimaksud dalam kedua surat tersebut.

Ketiga, Al Qur’an surat [114] ayat 5 :

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada (shudūr) manusia,
Pada surat di atas, sekali lagi kita menemui kata yang kurang tepat dalam menunjukkan organ tubuh manusia yang berperan dalam hal menangkap informasi dari luar,

dikatakan bahwa ‘dada’ lah yang berperan dalam hal tersebut, padahal sudah jelas organ yang berfungsi dalam hal tersebut adalah otak.

Dalam hal ini, kata shudūr adalah bentuk jamak dari kata shadr yang berarti kesadaran, pemikiran dan dada.

Dimana, jika kita mau berfikir, kata tersebut lebih tepat jika diartikan dengan kesadaran, bukan dada, karena kejahatan muncul dari kesadaran manusia,

bukan berasal dari akal atau fikiran manusia, karena namanya akal pasti bisa memahami bahwa kejahatan bukanlah sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi manusia, melainkan keburukan.

Disebabkan karena proses ‘refleks’ atau kesadaran manusia inilah yang biasanya menyebabkan kejahatan terjadi, seperti pernah kita dengar slogan dalam acara TV yang berhubungan dengan berita kriminal,

‘Kejahatan bukan hanya timbul karena niat pelaku, tapi karena ada kesempatan’.

Lalu, organ apakah yang lebih tepat dalam hal ini ? Tentu saja organ yang berfungsi dalam hal tersebut adalah otak, lebih tepatnya lagi organ penyusun dari otak,

yakni otak kecil (cerebellum), yang berfungsi untuk menyimpan dan melaksanakan gerakan otomatis (refleks) pada tubuh manusia.

Keempat, Al Qur’an surat Yusuf [12] ayat 53 :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Rabb (Pengatur) -ku. Sesungguhnya Rabb (Pengatur) -ku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Pada surat diatas, kita temui kata nafs, yang diartikan kebanyakan orang dengan nafsu, yang berkaitan dengan perasaan ingin makan, minum. melakukan hubungan suami istri, dll,

yang jelas nafs ini berkaitan dengan perasaan atau emosi manusia yang terdapat dalam qalbu (otak) manusia.

Lalu pertanyaannya, dimana nafs itu berada ? Nafs atau perasaan manusia terdapat pada hipotalamus, yakni organ penyusun otak yang berhubungan dengan sistem limbik manusia.

Faktanya dalam hal ini, nafs tersebut selalu condong kepada kejatatan, mengapa demikian ? Hal ini dikarenakan nafs (nafsu) lah yang mendasari segala keinginan manusia yang mengarah pada kepuasan duniawi,

baik itu meliputi tahta, harta, dan wanita (pasangan), dimana ketiga hal inilah lah yang dicari oleh manusia kebanyakan. Maka sudah sewajarnya jika pada surat diatas menyebutkan bahwa nafs selalu condong kepada kejahatan.

Seperti kita ketahui, bahwa kecintaan duniawi yang dikejar oleh seluruh manusia,

antara lain ; wanita-wanita (pasangan-pasangan), anak-anak, harta yang banyak, kuda pilihan (kendaraan), binatang ternak (pengikut), sawah ladang (perniagaan), yang diterangkan pada surat di bawah ini.

Al Qur’an surat Ali-Imran [3] ayat 14 :

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.

Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Sehingga wajar jika semua manusia mencari enam hal tersebut, dikarenakan Tuhan menciptakan manusia, sejatinya memerlukan enam hal tersebut.

Namun kecintaan-kecintaan tersebut bisa menjadi bomerang bagi manusia itu sendiri, jika kecintaan tersebut sudah diluar batas atau melebihi kecintaan manusia kepada sang penciptaNya,

Dikarenakan kecintaan-kecintaan tersebut dianalogikan dalam firman Tuhan yang terdapat dalam Kitab Suci seperti halnya seseorang yang sedang merasakan kehausan, lalu dirinya meminum air di lautan,

dimana hal tersebut bukan malah mengobati rasa hausnya, melainkan malah membuat dirinya semakin kehausan, seperti itulah gambaran kecintaan duniawi,

semakin dikejar maka semakin tidak membuat seseorang merasa cukup, selalu ingin lebih dan lebih.

Tapi, hal ini bukan berarti, nafs tidak bisa dipergunakan untuk hal-hal yang mengarah kepada kebaikan, karena pada dasarnya, nafs bisa ditundukkan dengan firman-firman (ajaran-ajaran) Tuhan.

Lalu bagaimana caranya manusia dapat menundukkan dirinya dari nafs ? Satu-satunya jalan adalah dengan cara mengkaji secara mendalam ayat-ayat Allah di dalam Kitab Suci,

dan menjadikannya sebagai tolak ukur dalam hal mengambil segala keputusan hidupnya, sehingga ketika dia mengalami permasalahan hidupnya,

dia selalu mengambil keputusan berdasarkan firman Tuhan. Hal ini yang dimaksud dengan nafs dalam diri manusia tersebut, telah menjadi rahmat bagi manusia.

Pada kenyataannya, nafs inilah akar masalah dari segala aspek kehidupan manusia, baik melingkupi permasalahan keluarga, maupun permasalahan bangsa dan negara.

Dalam hal ini, nafs tersebut sejatinya atau fitrah (fungsi) -nya selalu condong kepada kejahatan, tapi itu bukan berarti tidak bisa ditundukkan oleh manusia, dikarenakan manusia berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya,

manusia diberikan akal utuk dipergunakan sebagai alat untuk berfikir maupun sebagai alat untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Akal inilah yang menjadi penentu, apakah manusia tersebut sama nilainya seperti binatang ? Ataukah lebih tinggi derajatnya dari binatang ?

Maka, sudah seyogyanya kita selaku manusia ciptaan Tuhan, mempergunakan akal kita untuk memahami firman-firman Tuhan di dalam Kitab Suci,

agar supaya kita menjadi manusia yang dirahmati, bukan malah sebaliknya. Dikarenakan pada dasarnya, sifat alamiah manusia condong kepada kejahatan, sehingga diperlukan penguasaan ilmu-ilmu Tuhan dalam hal menundukkan nafs tersebut,

agar dapat dikendalikan dengan ajaran-ajaran Tuhan, yang sejatinya adalah petunjuk bagi manusia untuk menjadikan diri mereka menjadi manusia seutuhnya atau manusia-manusia sebaik-baiknya, diantara makhluk ciptaannya yang lain.

Hal tersebut bisa terjadi apabila manusia tersebut mau kembali kepadaNya, dengan cara menundukkan nafs -nya dengan Ruhul Qudus atau ilmu Tuhan yang menghidupi kesadaran manusia,

sehingga dalam segala aktivitas hidupnya mendapatkan berkat darinya, dan orang lain disekitarnya,

bukan malah sebaliknya, keberadaan dirinya tersebut hanya mendatangkan sesuatu yang buruk, bagi dirinya, keluarganya, bahkan bangsa dan negaranya.

Baiklah, dari penjelasan-penjelasan yang diterangkan diatas, membuktikan kepada kita, bahwa qalbu tersebut bukan hati, dimana kata hati tersebut hanyalah sebuah kata yang sudah menjadi bahasa keseharian ditengah-tengah kita,

walaupun pada kenyataannya, kata hati tersebut tidak bisa mewakili dari apa yang dimaksud dalam pemaknaan hati itu sendiri.

Sehingga, faktanya, dari penjelasan yang telah diuraikan tersebut, kita seyogyanya menjadi paham, mengapa qalbu (otak) di dalam Al Qur’an diartikan sebagai hati, selain itu juga,

kita pun sejatinya menjadi paham, bahwa di dalam Al Qur’an bukan hanya menyebutkan tentang qalbu (otak), tapi juga menyebutkan tentang fu’ada, shudur, dan nafs, yang merupakan organ penyusun dari qalbu (otak).

Dimana, fu’ada berfungsi sebagai alat untuk digunakan manusia untuk berfikir dan membedakan mana yang benar dan salah, shudur berfungsi untuk mengatur (mengelola) kesadaran manusia,

dan nafs berfungsi sebagai pusat dari perasaan (emosi) manusia.
Maka, pertanyaannya sekarang ? Masih relevan kah qalbu dikatakan sebagai hati ? Dikarenakan hati bukan organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai alat untuk berfikir, mengatur kerja refleks,

maupun pusat perasaan (emosi), melainkan organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai penetralisir racun,

yang tidak ada kaitannya dengan fungsi-fungsi dari qalbu, yang diterangkan di dalam Al Qur’an.

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x