Kiprah Agama dalam Konsep Alam Semesta

Agama sesungguhnya tidak lagi memiliki JANGKAUAN tentang dien (sistem alam) apalagi kemampuan tentang penegakan dien itu sendiri.

APA ITU KONSEP ALAM SEMESTA

Alam semesta (disebut pula jagat raya atau universum ) merupakan ruang waktu kontinue tempat kita berada, dengan energi dan materi yang dimilikinya pada pertengahan pertama abad ke-20. Usaha untuk memahami pengertian alam semesta dalam lingkup ini pada skala terbesar yang memungkinkan, ada pada kosmologi, ilmu pengetahuan yang berkembang dari fisika dan astronomi.

Model-model ilmiah awal untuk Alam semesta dikembangkan oleh para filsuf Yunani kuno dan filsuf India kuno dan bersifat geosentris, menempatkan Bumi di pusat Alam semesta. Selama berabad-abad, pengamatan astronomi yang lebih tepat membuat Nicolaus Copernicus mengembangkan model heliosentris dengan Matahari di pusat Tata Surya. Dalam mengembangkan hukum gravitasi universalSir Isaac Newton berdasar pada karya Copernicus serta pengamatan oleh Tycho Brahe dan hukum gerak planet Johannes Kepler.

Konsep maupun alam semesta yaitu konsep universal system, atau bisa juga disebut konsep DIEN yang haq  yang di mana kita meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta (segala apa yang di langit dan di  bumi –benda-benda planet, tumbuhan, hewan dan manusia) pada hakekatnya telah berserah diri (suka maupun terpaksa) kepada hukum-hukum Alam.

Apakah seluruh mahluk telah beraktifitas sesuai dengan kaidah hukum alam itu sendirià yaitu menuju suatu realitas kesetimbangan—harmony satu sama lain ? Apakah yang terjadi justru sebaliknya ?

Terjadinya ketidak setimbangan di bumi dimana tempat manusia berada, pasti akan mempengaruhi kesetimbangan di langit. Kalau hukum alam sudah dilanggar (tidak ditegakkan lagi) lantas, apa yang semestinya dilakukan ? Renungkan!

Kiprah Agama dalam Konsep Alam Semesta

Jika kita hidup di suatu negara, maka kita harus mengikuti hukum yang berlaku di negara tersebut. Jadi, kalau kita berada di alam semesta, kita juga harus mengikuti hukum alam semesta. Hukum tersebut akan melindungi kita supaya kita tidak jatuh ke dalam tingkat kesadaran yang lebih rendah.

Sebagai contoh, ketika kita berada di suatu negara, dan kita melakukan semacam kriminalitas atau melanggar hukum, pasti kita akan dipenjarakan atau terkena semacam denda.

Sekarang jika kita tinggal di alam semesta ini dan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum alam semesta, maka kita juga harus ditempatkan di semacam keberadaan lainnya yang sangat tidak menyenangkan bagi kita. Itulah yang dinamakan karma, hukum akibat. “Apa yang kau tabur, maka itulah yang akan kau tuai.”

Dengan demikian, apabila kita ingin hidup secara serasi dan tidak ingin mengalami situasi yang tidak menyenangkan bagi diri kita maka kita wajib mengikuti sistem alam semesta ini

Disitulah kelemahan agama-agama yang ada saat ini yang masih terkotak-kotak satu sama lain, menganggap dialah kebenaran tunggal, dan yang lainnya adalah sesat-menyesatkan. Sehingga yang terjadi adalah pertarungan antar agama, saling curiga yang akhirnya mewujudkan disharmoni antar manusia beragama.

Agama sesungguhnya tidak lagi memiliki JANGKAUAN tentang dien (sistem alam) apalagi kemampuan tentang penegakan dien itu sendiri.

Karena itu saat ini. kita harus membicarakan alam yang konkrit bukan alam yang tidak menentu. Inilah sesungguhnya yang dicari oleh para filosof. Mereka merenungi apa yang terjadi dibalik alam semesta ini sejak ribuan tahun yang lalu

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermamfaat bagi manusia apa yang di turunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu di hidupkannya bumi setelah mati (kering) dan Dia tebarkan di dalam nya bermacam  macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang di kendalikan antara langit dan bumi,( semua itu) sungguh merupakan tanda tanda (kebesaran Allah) bagi orang orang yang mengerti ..(Qs. Al baqarah ayat 164)

Ketika kita melihat hukum manusia, hukum tersebut berbeda dari negara yang satu dengan negara lainnya, bahkan ketentuan moral berbeda dari negara yang satu dengan negara lainnya. Sehingga sulit untuk mengatakan kepada orang dalam suatu negara agar menerima hukum di negara lainnya.

Bandingkan dengan hukum alam semesta selalu dan senantiasa sama. Sebagai contoh, di Alkitab dikatakan bahwa, “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri. Kasihilah tetanggamu, kasihilah musuhmu, dsb…” Hal-hal seperti ini tidak akan berubah.

Kita kembali kepada filsafat dunia yaitu Plato (filsafat idealism) dan Aristoteles (filsafat materialisme). Filsafat Idealism melahirkan pemahaman transenden yang mewujud menjadi AGAMA sementara Filsafat materialism melahirkan Negara.

Plato mengatakan ide dulu, dari yang tidak ada menjadi ada. Aristo bilang bermula dari matter (alam dulu baru yang lain ada)

Pemikiran Aristoteles yang akhirnya membentuk BERBAGAI ideologi-ideologi di dunia. Kita banyak mengenal ideologi materialism yang mendominasi dunia tersebut seperti liberalism, komunisme maupun sosialisme yang mendominasi saat ini.

Intinya semua hakekat tujuan dan kebahagiaan di dunia ini adalah materi . Materilah tempat kita kembali. Bagaimana Pandangan Kita tentang Materi? Bagaimana hubungan materi dengan Tuhan Semesta Alam?

Jika dilangit sudah tunduk dan patuh pada hukum alam yang bekerja, maka yang terjadi adalah kondisi yang harmoni, damai dan sejahtera di langit. Maka begitu juga dibumi, jika manusia sudah tunduk dan patuh pada hukum alam yang bekerja, maka yang terjadi adalah kondisi yang harmoni, damai dan sejahtera di bumi. Qs. 59/23.

Pertanyaannya, apakah hukum alam (hukum yang berasal dari Tuhan Semesta Alam) sudah ditegakkan di langit dan di bumi ? Pandangan Einstein menyatakan bahwa alam bukanlah produk yang sudah selesai, tidak berubah, diciptakan sekali untuk seterusnya. Alam adalah kenyataan dalam gerak maju.  Alam semesta bukanlah sebuah benda melainkan perbuatan, aliran dari chaos ke kosmos (Maitre, 1985: 65).

Pandangan Einstein telah merubah fisika kuno yang cenderung ke arah materialisme, substansi sebagai sesuatu yang padat, dengan substansi fisika relativitas yang merupakan sistem peristiwa yang saling berjalin, menurut Whitehead teori ini telah menukar pengertian “materia’ dengan pengertian “organisme” (Iqbal, 1966: 45)

Iqbal berpandangan bahwa realitas pada akhirnya bersifat ruhani atau spiritual. Ruhani menampilkan diri dalam kehidupan alami, material, maupun duniawi. Oleh karena itu segala sesuatu yang bersifat bendawi pada akhirnya bertopang pada akar ruhani.

Materi saja tidak mungkin memiliki substansi apabila tidak berakar pada dunia ruhani (spiritual). Tidak ada dunia profan dalam arti tidak bersumber pada Tuhan. Materi merupakan ruang lingkup bagi perealisasian diri ruh (Saiyidain, 1981: 65).

Setiap atom dari energi Ilahi, walaupun rendah dalam suatu wujudnya adalah suatu diri, dan derajat kedirian tertinggi dicapai oleh manusia karena manusia dapat menyebut “Aku ada”. Tujuan dari diri (ego) adalah selalu berjuang untuk mengukuhkan individualitasnya.

Usaha ini tidak terbatas pada manusia, namun gejala ini nampak pada segala organisme (Saiyidain, 1981: 25). Seperti telah disebutkan di atas, Iqbal berpendirian bahwa alam semesta itu merupakan organisme yang selalu tumbuh dan terbuka bagi ciptaan baru Tuhan.

Berdasarkan Fisika Quantum, tubuh dapat diurai sebagai berikut : awalnya tubuh kita dalam bentuk padat (tulang dan daging), kemudian diurai menjadi sistem-sistem (Persarafan, Kardiopulmonar, Gastrointestinal, Perkemihan, Hematologi, Endokrin), lalu organ-organ (Otak, Jantung, Paru, Ginjal, Hati, Pankreas), lalu jaringan (Epitel, Penyambung, Muskular, Saraf), kemudian sel-sel (Protoplasma, Sitoplasma, nukleus), lalu menjadi molekul (Misalnya air atau H20) sebagaimana prosesnya Tuan semesta alam membangkitkan satu JIWA yaitu MANUSIA.

Kemudian unsur-unsur (Misalnya O, H), lalu menjadi atom-atom (Elektron, Proton, Neutron), dan akhirnya menjadi energi murni (quanta) Law of Attraction bekerja berdasarkan daya tarik menarik di inti atom dan di tingkat quanta yang merupakan penyusun dasar seluruh makhluk (benda mati maupun makhluk hidup). Jika Law of Attraction berlaku bagi benda-benda mati di alam semesta, maka juga berlaku bagi manusia.

Energi yang paling halus adalah energi pikiran. Energi ini lebih halus dibanding energi quanta yang dipelajari dalam Ilmu Fisika. Energi pikiran bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Energi pikiran diproduksi oleh pikiran kita, dikendalikan oleh imajinasi kita, dan dibentuk oleh keyakinan-keyakinan kita.

LALU apa yang menjadi dasar tulisan ini mengemuka? Simple tentunya manusia juga bagian dari alam semesta harus mampu menjalankan ketaatan dan ketunduk patuhan sebagaimana alam semesta lainnya jalankan. Manusia saat ini sudah memahami bagaimana kehidupan yang saat ini mereka jalani mengalami ketidaklarasan terhadap alam sekitarnya.

Prev 1 of 9 Next
Prev 1 of 9 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x