kemusyrikan adalah kezaliman yang besar

kemusyrikan adalah kezaliman yang besarDalam hal apa pun manusia dilarang untuk melakukan kalau tidak berdasar ilmu, pada tulisan ini saya akan mencoba mengurai makna KEMUSYRIKANini sangat penting untuk kita fahami, mari kita mencari berdasarkan sumber ilmuNya yaitu Kitab Suci Al Quran.

1. Pengabdian tidak sama dengan menyembah

QS Adz-Dzariyat 51:56

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Konteks menyembah hanyalah sebatas ritual-ritual penyembahan dan pemujaan, sedangkan mengabdi adalah mencakup semua aktivitas dan waktu. Contoh; orang bisa dikatakan mengabdi pada negara ketika orang tersebut bekerja untuk negara, segala aktivitas yang dilakukan ditujukan untuk negara, mentaati hukum-hukum dan aturannya.

Orang tidak bisa dikatakan warga negara atau pengabdi negara yang baik ketika orang tersebut  tidak mentaati hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam negara tersebut. Begitu pula manusia bisa dikatakan mengabdi pada Allah ketika manusia itu melakukan aktivitas hanya untuk Allah, mentaati hukum-hukum dan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Dari ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk mengabdi kepada Allah, manusia  tidak boleh mengabdikan diri selain pada Allah. Hanya hukum dan aturan Allah sajalah yang harus ditaati oleh makhluk-Nya termasuk manusia. Nah, apakah sekarang ini  kita sudah benar-benar mengabdikan diri kita pada Allah? Apakah manusia sekarang ini dalam hal mengabdi pada Allah sudah dikatakan benar?

Dalam hal mengabdi pada Allah, sudahkah menggunakan pedoman serta petunjuk yang telah diturunkan Allah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab karena mengabdi pada Allah tidak boleh asal-asalan, tidak boleh hanya menggunakan konsep imajinatif dan kreatifitas pola pikir sendiri, apalagi dengan konsep warisan atau keturunan.

Perbuatan Musyrik adalah Najis

Secara umum, mengabdi kepada Alloh haruslah berdasarkan ilmu, sebagaimanaya dinyatakan dalam QS Al Israa

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

17:36. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Dalam hal apa pun manusia dilarang untuk melakukannya kalau tidak berdasar ilmu, apalagi urusan mengabdi pada Allah. Manusia sudah dibekali kemampuan untuk mendengar, kemampuan untuk melihat dan kemampuan untuk berfikir. Ketiga   potensi itu  diberikan Allah untuk manusia supaya dikerahkan untuk mencari ilmu.

Lantas apa ilmu  yang dijadikan dasar untuk mengabdi? Yang harus dijadikan landasar atau dasar adalah Al Quran. Allah telah menurunkan Al Quran untuk manusia sebagai pedoman serta petunjuk pengabdian pada Allah dan semua isinya harus diikuti.

Lantas bagaimana Al Quran memberikan petunjuk pengabdian yang benar? Darimana manusia bisa faham ilmu pengabdian tersebut? Tentunya Al Quran memberikan jawaban  serta memberikan cara-cara agar manusia benar dalam pengabdiannya.

Namun demikian, Al Quran adalah kitab suci yang tidak sembarang orang bisa memahami, dan karena Al Quran itu suci, maka Allah selau menjaga kemurniannya. Dalam hal menjaganya Allah menguncinya dengan firman-Nya  dalam QS 56:77-79

إِنَّهُۥ لَقُرۡءَانٞ كَرِيمٞ ٧٧  فِي كِتَٰبٖ مَّكۡنُونٖ ٧٨ لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ ٧٩

Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”

Makna kata tidak menyentuh di dalam ayat ini tentunya bukan menyentuh secara fisik (fisik Al Quran), karena ketika ayat ini turun Al Quran belum dimushafkan (dibukukan) dan dicetak dalam bentuk buku. Lagipula walaupun orang dalam keadaan kotor, mushaf Al Quran (buku) masih bisa disentuh bahkan dipegang pun masih bisa  oleh siapapun yang memegangnya.

Jika kita mau berfikir dengan fikiran yang jernih, maka yang dimaksud menyentuh adalah menyentuh pemahamannya. Dan tentunya sarana yang bisa memahami adalah fikiran, sehingga jika fikiran (pola fikir) manusia dalam keadaan kotor atau najis, maka dia tidak akan mampu untuk memahami Al Quran.

Mengenai siapa yang kotor atau najis, Allah menerangkannya dalam QS 9:28.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ وَإِنۡ خِفۡتُمۡ عَيۡلَةٗ فَسَوۡفَ يُغۡنِيكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦٓ إِن شَآءَۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٞ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Tentunya dapat dipahami pula bahwa yang dimaksud najis bukanlah pada fisiknya, melainkan pada pola fikirnya. Dapat disimpulkan, bahwa Al Quran hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang bebas dari kemusyrikan. Kalau hanya sekedar mengetahui artinya, dan tata bahasanya -banyak yang bisa menguasai tata bahasa Arab-, namun yang dibutuhkan adalah pemahamannya, sehingga ketika orang itu faham maka dia  bisa mengikutinya.

Dan Allah akan memberikan pemahamannya hanya  pada orang-orang yang bebas dari musyrik. Selama orang itu masih musyrik, maka tidak akan mampu untuk memahami Al Quran, sehingga bisa dipastikan ibadahnya salah karena ibadah yang benar adalah ketika sesuai dengan Alqur’an. Jadi, dalam hal ibadah  yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah tentang kemusyrikan itu sendiri. Untuk mengetahui apakah kita termasuk orang yang berbuat syirik atau tidak, bisa  kita bahas dalam materi ini.

2. Paham Kemusyrikan

Syirik atau mempersekutukan Allah adalah perbuatan yang paling dibenci Allah, syirik merupakan dosa yang paling besar. Allah akan sangat murka apabila ada makhluk-Nya yang menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dalam ayat Al Qur’an, kita dilarang menyekutukan Allah karena mempersekutukan Allah adalah kezhaliman yang amat besar.

Hal ini Allah jelaskan dalam QS 31:13.

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Jadi, dalam hal ibadah, yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah tentang kemusyrikan itu sendiri. Kita harus bisa mengenali kemusyrikan dengan Al Quran sebagai bashoir (kacamata) yang tepat  sehingga  nilai kebenaran yang didapatkan adalah kebenaran yang mutlak. Untuk mengetahui apakah kita termasuk orang yang berbuat syirik atau tidak, bisa  kita bahas dalam materi ini.

Syirik berasal dari kata syaroka yang berarti menduakan, menyamakan, atau mempersekutukan. Manusia dapat dikatakan syirik pada Allah ketika manusia tersebut menyamakan, menduakan, menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Contoh-contoh perbuatan syirik adalah menyembah pohon besar, patung, benda pusaka, dukun, dan lain-lain.

Contoh-contoh syirik di atas adalah yang umumnya dipahami manusia kebanyakan hari ini. Jika ditinjau dari makna syirik yang berarti menyamakan, maka orang yang memahami menyembah pohon adalah berbuat syirik, hal ini berarti orang tersebut menyamakan Allah dengan benda yang dijadikan sekutu tersebut.

Manusia Menggantikan Peranan ALLAH

Padahal Allah tidak serupa dengan ciptaan-Nya, hal tersebut bisa dilihat dalam QS  42:11.

فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.

Ayat tersebut mengatakan bahwa Allah yang menciptakan semua yang ada di alam semesta, namun Allah tidak serupa dengan ciptaan-Nya. Contoh perilaku musyrik di atas bukan berarti menyamakan Allah dengan pohon besar dan lain-lain, tetapi ada yang disamakan di balik pohon tersebut, yaitu Peran Allah.

Menyamakan Peran Allah dengan peran si dukun, pohon besar, benda pusaka dan lain-lain, dengan menganggap benda-benda tersebut mampu memberikan apa yang manusia minta seperti halnya tentang jodoh, kelancaran rizki dan lain-lain. Namun, sebenarnya Peran Allah tidak hanya sebagai pemberi rizki, jodoh, dan yang serupa dengan itu, tetapi ada Peran Allah yang tidak boleh disekutukan oleh makhluk-Nya. Peran Allah tersebut adalah seperti tercantum dalam QS Al Faatihah 1: 2, 4, 5.

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢

Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam

مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥

Hanya Engkaulah yang kami Mengabdi, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan

Dalam ayat ini, Allah berperan sebagai Robb. Kedudukan Allah di ayat ini adalah Allah yang berperan memelihara dan mengatur semua aspek kehidupan di alam semesta, termasuk kehidupan peradaban manusia. Maka, hanya Allah yang mempunyai hak mutlak mengatur semuanya dengan ketetapan-ketetapan, aturan-aturan, atau hukum-hukum yang  Allah miliki.

Dalam ayat ini Allah berperan sebagai Yang Diabdi (Ma’bud) oleh semua makhluk-Nya, termasuk manusia. Hanya aturan-aturan, hukum Allah sajalah yang ditaati dan hanya di bawah kekuasaan Allah sajalah semua makhluk-Nya seharusnya berlindung dan mengabdi.

Ketiga peran Allah inilah yang tidak boleh disekutukan oleh manusia, manusia tidak boleh menggunakan aturan, hukum lain selain hukum Allah, tidak boleh berlindung di bawah kekuasaan lain selain kekuasaan Allah, serta tidak boleh tunduk dan mengabdikan dirinya selain pada aturan dan kekuasaan Allah tersebut.

Ketiga Peran Allah inilah yang disebut sebagai Illah. Kemudian wujud atau manifestasi daripada Illah adalah Dien. Tentu Dia Allah selaku Robb atau Pengatur memiliki rububiyah ‘aturan’, Allah selaku Malik atau Penguasa memiliki mulkiyah ‘kekuasaan’, dan Allah selaku Ma’bud atau Yang Diabdi memiliki ubudiyah ‘pengabdian’. Rububiyah, mulkiyah dan ubudiyah –seringkali disebut juga dengan Uluhiyah– inilah yang dinamakan dengan Dien. Salah satu ayat yang menyinggung tentang Dien ini adalah QS Ali Imran 3:83.

أَفَغَيۡرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبۡغُونَ وَلَهُۥٓ أَسۡلَمَ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا وَإِلَيۡهِ يُرۡجَعُونَ

Maka apakah mereka mencari Dien yang lain dari Dien Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan

Dalam ayat ini Allah  menerangkan bahwa apa-apa yang ada di Langit dan di Bumi telah tunduk-patuh (aslama) terhadap Dien Allah, silahkan baca artikel sebelumnya tentang DIEN). Namun, Allah masih bertanya pada manusia, “Apakah manusia itu (mereka) masih mencari DIEN lain selain DIEN Allah?”

Apakah manusia masih mencari  aturan, kekuasaan dan pengabdian yang lain, selain kepada aturan, kekuasaan, serta pengabdian kepada Allah? Dengan melihat ayat tersebut, berarti memang ada manusia yang masih menggunakan Dien selain Dien-Nya Allah. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan yang ada dalam QS An Nisaa 4:60

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓاْ إِلَى ٱلطَّٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوٓاْ أَن يَكۡفُرُواْ بِهِۦۖ وَيُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُضِلَّهُمۡ ضَلَٰلَۢا بَعِيدٗا

60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya

Dengan ayat ini kita bisa melihat banyaknya orang yang terjebak dalam kondisi, dimana mereka ini mengaku iman terhadap kitab Allah (Al Quran), mengaku iman terhadap hukum-hukum yang ada di dalamnya, namun pada kenyataannya ketika memutuskan perkara bukannya menggunakan hukum Al Quran, tapi malah menggunakan hukum selain hukum Allah yaitu hukum Thaghut.

Kata thogut dalam ayat di atas adalah satu akar kata dengan kata thogho, yaitu melampaui batas, sehingga thogut artinya adalah tiap-tiap yang melampaui batas, sebagaimana dinyatakan dalam QS An Naziaat 79:17.

ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ

“Pergilah kamu kepada Fir´aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas

Yang dimaksudkan bahwa Firaun dalam ayat tersebut melampaui batas adalah melaksanakan peranan yang seharusnya hanya Allah saja yang dapat bertindak demikian, yakni:

  • Sudah jelas peranan Allah sebagai Robb (pengatur) dengan aturan-Nya, tetapi dia juga hendak menjadi pengatur dengan aturan yang dia buat,
  • Sudah jelas peranan Allah sebagai penguasa dengan kekuasaan-Nya, dia hendak pula menjadi penguasa dengan kekuasaan yang dia bentuk
  • Sudah jelas peranan Allah sebagai satu-satunya yang diabdi, dia juga menginginkan untuk diabdi pula.

Firaun dikatakan melampaui batas karena dia mengaku sebagai pengatur yang paling tinggi, sebagaimana dinyatakan dalam QS An Naziyaat 79:24. Thoghut dalam ayat ini yang dituju adalah tentang masalah hukum (hakama). Dan thoghut ini muncul akibat dari orang-orang yang thogho (melampaui batas tersebut). Dengan ayat ini pula kita bisa memperhatikan dan bisa membaca kondisi sekarang, apakah manusia sekarang  ini diatur oleh hukum Allah atau  hukum Thoghut? Apakah saat ini thoghut sudah tidak ada lagi? Serta kita dapat mengetahui keberadaan (posisi) kita sekarang, apakah kita termasuk  orang-orang yang terjebak di dalamnya (dalam sistem thogut) atau tidak.

Menurut ayat tersebut, ketika manusia diatur dengan hukum selain hukum Allah, maka manusia tersebut  tersesat sejauh-jauhnya (dholalan baida). Hal ini dijelaskan dalam surah An Nisaa 4:116.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١١٦

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang dikatakan orang yang tersesat sejauh-jauhnya adalah orang musyrik.

Jadi sangat jelas kalau kita lihat berdasarkan wahyu Alloh, bahwasanya  orang yang mengaku telah beriman kepada Al Quran, tetapi dalam hukum masih diatur oleh hukum manusia (thagut), maka orang tersebut telah berada dalam kondisi kesesatan yang sejauh-jauhnya atau kondisi  musyrik, masalah atau hal yang sekarang ini sudah tidak disadari oleh manusia lagi.

3. Wujud Konkrit Musyrik kepada Allah

Seharusnya Al Quran  dijalankan fungsinya sebagai hukum yang harus ditaati, tapi pada prakteknya manusia cenderung lebih memilih menggunakan hukum selain Al Quran sehingga ketika manusia sudah melupakan ajaran Al Quran, maka orang cenderung memandang Al Quran dari sudut yang salah, sehingga secara aplikasinya pun salah.

Dan dari aplikasi yang salah tersebut, maka akan membawa dampak yang cukup luas, yakni manusia ingin menjadi pengatur, ingin berkuasa atas aturannya, sehingga dia ingin memiliki pengikut yang banyak. Dan akhirnya terbentuklah pecahan dan golongan-golongan yang mempunyai sistem serta tujuan yang berbeda-beda, cara pandang terhadap Al Quran pun berbeda-beda.

Jadi, sebagai akibat syirik kepada Allah adalah manusia pasti akan hidup dalam kondisi yang berpecah-pecah tau bergolong-golongan, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam QS Ar Ruum 30:31-32.

۞مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٣١ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ

Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Biarpun  bertaubat, taqwa, dan sholat bukan jaminan akan terhindar dari kemusyrikan karena kemusyrikan sulit kita kenali kalau tidak menggunakan sudut pandang Al Quran, sehingga banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya  sedang berada dalam kondisi kemusyrikan.

Kalau kemusyrikan yang bersifat pribadi seperti halnya menyembah pohon, benda-benda pusaka, ke dukun, dan lain-lain, tanpa dengan Al Quran pun manusia bisa melihat dan bisa menghindarinya, namun kemusyrikan yang bersifat kelompok atau jamaah ini yang manusia sulit untuk menghindarinya dan memaksa manusia untuk berada dalam kondisi tersebut.

Islam yang dibawakan oleh Rosulullah adalah Islam yang satu, yang tunduk dan mengabdi hanya pada aturan dan kekuasaan Allah. Namun, Islam sekarang adalah Islam yang terpecah-belah, Islam yang bergolong-golongan, tiap-tiap golongan merasa memiliki dan bangga terhadap golongannya, mereka  mempunyai aturan dan bendera serta slogan yang berbeda-beda.  Mereka cenderung tidak mau bersatu. Itulah bagian dari bentuk kemusyrikan.

Konskuensi dari Perbuatan Musyrik

Ternyata Allah tidak membiarkan orang yang syirik begitu saja, ada hukuman dari Allah terhadap orang yang menyekutukan-Nya. Yakni lenyapnya nilai amal yang telah dilakukannya dan yang lebih parah lagi adalah bahwa syirik adalah sesuatu yang tidak Allah ampuni, sebagaimana dijelaskan secara berturut-turut dalam QS Al An’am 6:88 dan An Nisaa 4:48.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar

Tentu saja, ketika kondisinya demikian, maka orang bersangkutan tempatnya adalah Neraka Jahanam.

Solusi ketika Manusia dalam Kemusyrikan

Setiap ada permasalahan pasti ada solusi untuk menyelesaikannya. Demikian juga ketika manusia terjebak dalam kondisi kemusyrikan, ketika manusia sadar dan mau mengembalikan semuanya pada Allah, maka Allah pasti akan memberikan solusi atau jalan keluarnya, sebagaimana dijelaskan dalam QS Ali Imran 3:31.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Hanya ada satu cara agar manusia diampuni dosa-dosanya, yaitu kembali bertaubat dengan jalan mengikuti Rasul (=menguswah atau mencontoh Rasul). Hal ini dilakukan karena dalam surah atau ayat yang lain dikatakan bahwa terdapat suri tauladan yang hasanah pada diri Rasul Allah QS Al Ahzab 33:21.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Apakah bentuk mencontoh Rasul yang harus dilakukan agar kita terhindar dari kemusyrikan? Mengikuti Rasul bukanlah mengikuti Rasul secara fisik, melainkan mengikuti keteladanan yang telah dicontohkan, yaitu dengan cara masuk Gua (=uzlah), sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Kahfi 18:16.

وَإِذِ ٱعۡتَزَلۡتُمُوهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأۡوُۥٓاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقٗا ١٦

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Robbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.”

Apabila mau meninggalkan mereka, yaitu orang-orang musyrik dan apa-apa yang mereka abdi yaitu thoghut, maka  Allah perintahkan untuk mencari tempat berlindung di dalam gua, maksudnya adalah mengamankan aqidah iman dari campur tangan Paham musyrik.

Yang dimaksud meninggalkan dalam ayat ini adalah meninggalkan secara Paradigma,  secara fisik  masih tetap berhubungan dengan mereka, namun secara Paradigma sudah berbeda dengan mereka. Ini yang disebut dengan selemah-lemahnya iman.

Rasul pernah bersabda: “Apabila kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, tapi kalau tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu, apabila tidak mampu maka cegahlah dalam qolbumu, itulah selemah-lemah iman.

Berdasarkan hadits tersebut, maka upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan menjauhi dari segi Paradigma dulu. Inilah yang dinamakan Merubah Sudut Pandang (=uzlah), dari Pemahaman musyrik (yang dulunya hanya mengaku iman) menuju Pemahaman yang iman (benar-benar beriman).

Nah, tentang iman itu sendiri, dalam Al Quran dijelaskan tentang konsep iman, bahwa seseorang dikatakan iman apabila telah mendapatkan izin dari Allah QS Yunus 10:100.

وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تُؤۡمِنَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَجۡعَلُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ١٠٠

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”

Berdasarkan ayat ini, berarti manusia tidak gampang atau tidak mudah untuk menyatakan dirinya beriman, tetapi harus mendapatkan izin dari Allah terlebih dahulu. Apakah yang dimaksud dengan izin Allah? Maksud izin Allah ini dijelaskan dalam QS Al Hadiid 57:8.

وَمَا لَكُمۡ لَا تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلرَّسُولُ يَدۡعُوكُمۡ لِتُؤۡمِنُواْ بِرَبِّكُمۡ وَقَدۡ أَخَذَ مِيثَٰقَكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٨

Dan Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. dan Sesungguhnya dia Telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.

Berdasarkan ayat ini, berarti manusia baru akan dikatakan iman kepada Allah ketika sudah mengadakan perjanjian dengan Allah (=Mitsaq). Berarti, syarat manusia untuk beriman adalah harus melakukan mitsaq dengan Allah terlebih dahulu, seperti yang juga dilakukan oleh Rasul-Rasul dahulu, misalnya, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad) QS Al Ahzab 33:7.

وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مِيثَٰقَهُمۡ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٖ وَإِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۖ وَأَخَذۡنَا مِنۡهُم مِّيثَٰقًا غَلِيظٗا ٧

Dan (Ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan kami Telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.

Jadi, perintah Allah apabila manusia ingin dosanya diampuni adalah harus mengikuti Rasul, dan semua Rasul melakukan mitsaq kepada Allah. Berarti, jika manusia ingin dosanya diampuni, maka manusia harus mengadakan perjanjian pada Allah terlebih dahulu.

Hanya orang orang yang mengadakan janji pada Allah saja yang berhak mendapat syafaat dari Allah QS Maryam 19:87.

لَّا يَمۡلِكُونَ ٱلشَّفَٰعَةَ إِلَّا مَنِ ٱتَّخَذَ عِندَ ٱلرَّحۡمَٰنِ عَهۡدٗا ٨٧

Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang Telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.

Mereka (orang-orang yang masih musyrik) tidak akan ditolong Allah sebelum mereka mengadakan perjanjian kepada-Nya. Karena Allah akan memberi syafaat (pertolongan)-Nya hanya pada orang-orang yang mengadakan perjanjian dengan Allah.

Bentuk syafaat (pertolongan) Allah tersebut adalah;

  1. Orang tersebut akan Allah keluarkan dari kondisi kemusyrikan,
  2. Dosa-dosanya akan diampuni, dan
  3. Allah akan selalu menjaganya dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Allah.

Jika kita telah sanggup atau bersedia bermitsaq kepada Allah, lalu apakah isi dari perjanjian tersebut? Isi atau poin mitsaq itu dijelaskan dalam QS Al Mumtahanah 60:12.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ يُبَايِعۡنَكَ عَلَىٰٓ أَن لَّا يُشۡرِكۡنَ بِٱللَّهِ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَسۡرِقۡنَ وَلَا يَزۡنِينَ وَلَا يَقۡتُلۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ وَلَا يَأۡتِينَ بِبُهۡتَٰنٖ يَفۡتَرِينَهُۥ بَيۡنَ أَيۡدِيهِنَّ وَأَرۡجُلِهِنَّ وَلَا يَعۡصِينَكَ فِي مَعۡرُوفٖ فَبَايِعۡهُنَّ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُنَّ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١٢

Hai nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, Maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bagi yang mitsaq, mitsaq tersebut sebaiknya dilakukan berdasarkan suatu kesadaran untuk keluar dari pemahaman  yang dimurkai Allah menuju Pemahaman yang diridhoi Allah, karena sudah jelas mana yang benar dan mana yang salah QS Al Baqarah 2:185.

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Jadi, orang yang bermitsaq kepada AllAh sebaiknya atas dasar kesadaran karena telah jelas mana jalan Allah dan mana jalan yang salah. Ketika manusia mau beriman pada Allah, maka syaratnya harus mengkafiri Thaghut terlebih dahulu dan hal itu diikat dengan tali ikatan yang kuat, yang tidak akan pernah putus, yaitu mitsaq (dalam ayat itu disebutkan wutsqo, yang mana kata ini masih satu akar kata dengan kata mitsaq).

Begitulah Allah menerangkan ayat-ayatnya agar manusia mengikuti apa yang sudah diterangkan-Nya. Ketika manusia itu mau mengikuti petunjuk-keterangan tersebut, maka dia akan selamat. Tetapi, ketika ayat-ayat Allah sudah diterangkan dengan jelas, tetapi malah memperdebatkan dan mendustakannya, maka Allah tidak akan lupa kepada orang yang berbuat zholim dan orang yang mendustakan, dan merekalah orang yang sesungguhnya nyata-nyata tersesat dari jalan Allah.

Semoga dari apa yang dipahami dalam tulisan ini, memudahkan untuk memahami konsep-konsep kebenaran yang lainnya yang ada dalam Al Quran. Kemudian untuk terakhir kalinya saya sampaikan, sebagaimana yang terdapat dalam salah satu ayatnya, yang artinya sebagai berikut, yakni sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Robbmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu untuk mengikutinya.

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x