Kekhalifahan di masa adam AS

Sebelum kita kupas tuntas masalah fakta kekhalifahan di masa Nabi Adam As marilah kita letakkan dahulu pemahaman dan doktirn yang selama ini kita dapat.

Sekarang marilah kita lihat fakta sejarah yang benar melalui sudut pandang kitab suci baik itu Taurat, Injil maupun Al-Quran.

Tuhan Memilih Adam menjadi Khalifah Bukan Manusia Pertama

Sejalan dengan peringatan Tuhan semesta alam dalam Al-quran surat Yusuf [12] ayat 111

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

bahwa kisah para Nabi dan Rasul Allah SWT bukanlah cerita yang di buat-buat;dongeng akan tetapi sebagai pelajaran bagi setiap manusia

begitupun cerita tentang Adam as tentunya bernilai pelajaran bagi manusia setelahnya didalam memurnikan pengabdian kepada sang penciptaNya.

Sesungguhnya, baik didalam Taurat maupun Al-Quran Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan dimuka bumi

Penciptaan Nabi Adam as dan Nabi Isa as

Karena rumus penciptaan dari Tuhan Semesta Alam adalah sama yaitu benih dari laki-laki dan benih dari perempuan atau dalam Al-Quran disebut dzakar dan unsta,

walaupun dalam kitab Taurat dan Al-quran tidak menceritakan Ibu dan Bapaknya Adam as

tapi bukan berarti Adam a.s tidak mempunyai bapak atau ibu cerita ini juga selaras dengan cerita Nabi Musa as yang juga diceritakan ibunya saja begitu pula dengan Nabi Isa as (Yesus)

karena ibu mereka yang mendapat firman dari Allah SWT.

Firman Allah SWT diperuntukkan bagi manusia yang berakal (berfikir) sehingga kita bisa mengerti bahwa sebelum Adam a.s diciptakan dan diangkat sebagai Nabi

Bumi sudah dihuni oleh banyak manusia yang sudah hidup berkelompok, bersuku dan berbangsa.

Kisah Adam as bukan cerita tentang penciptaan manusia tetapi kisah tentang “Pengangkatan” atau “Penjadian” Adam as sebagai khalifah atau pemimpin ummat manusia pada masa itu.

Bukti ini bisa kita lihat dalam Taurat, Kejadian 4 ayat 8-17

4:8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

4:9 Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”

4:10 Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.

4:11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.

4:12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.

4:13 Kata Kain kepada TUHAN: “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung.

4:14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku. 

4:15 Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.  Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia.

4:16 Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.

4:17 Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.

Al-quran surat Al-Baqarah [2] ayat 30

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Sesungguhnya dialog di sini adalah Bahasa kiyasan atau fragmentasi dari suatu peristiwa yang berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Sebelum Nabi Adam as diangkat menjadi khilafah atau pemimpin ummat manusia, pada saat itu kehidupan sedang kacau penuh kezaliman dan penindasan.

Manusia berperang dimana-mana membuat kerusakan baik di alam maupun dalam tatanan sosial manusia.

Malaikat, menurut Bahasa kitabiyah, adalah orang-orang saleh yang hidup berdasarkan aturan Tuhan semesta alam, mengabdi dan mensucikan Dia.

Para imam agama di istilahkan sebagai malaikat (lihat Kitab Wahyu pasal 2-3) merasa heran dengan rencana Allah. Keheranan mereka adalah.

Mengapa khilafah atau pemimpin itu tidak ditunjuk dari kalangan mereka?

Kenapa yang dipilih justru dari kalangan manusia biasa yang sering berbuat kerusakan dan pertumpahan darah.

Menanggapi protes dari malaikat atau pemimpin agama itu, Allah SWT menyatakan;

Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”.

Allah Tuhan Semesta Alam memilih Adam as sebagai khilafah atau pemimpin karena Dia lebih tahu siapa yang lebih pantas untuk mengemban tugas tersebut

Ini dijelaskan Allah Tuhan Semesta Alam dalam Al-Quran surat Al-An’am [6] ayat 124.

Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan percaya (beriman) sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.”
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.
Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan.

Bagaimana cara Allah Tuhan Semesta Alam “menjadikan” Nabi Adam as yang dianggap malaikat sebagai golongan yang sering melakukan kerusakan dan peperangan?

Caranya adalah dengan mengajarkan kepadanya asma-a kullaha, nama-nama dari segala sesuatu.

Asma” atau nama adalah kata lain dari “Sifat”, yang Allah ajarkan kepada Nabi Adam as adalah sifat-sifat-Nya dalam mengatur dan mengurus seluruh mahkluk ciptaan-Nya atau tradisi Allah Tuhan dalam menata alam semesta.

Sehingga ilmu tersebut yang akan digunakan Nabi Adam as dalam menata kehidupan sosial manusia yang pada saat itu mengalami kebuntuan.

Cara Allah Memilih Manusia untuk dijadikan Khalifah

Dengan manajemen yang diajarkan oleh Allah SWT. Sehingga Adam as berhasil mewujudkan kehidupan yang teratur damai dan sejahtera dibawah naungan kepemimpinan khilafah yang diberikan kepadanya.

Setelah Adam memahami ilmu manajemen kepemimpinan yang diajarkan-Nya, Allah SWT memerintahkan Adam as untuk memperlihatkan manajemen tersebut kepada para malaikat

maka setelah diberitahukan Adam as seluruhnya, Allah Tuhan Semesta Alam berfirman:

Bukankah sudah Aku katakan kepadamu (wahai para malaikat) bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan juga menegetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan

Maka Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk tunduk dan sujud dibawah kepemimpinan (khilafah) Adam as

Maka tunduklah para malaikat, kecuali ada diantara mereka yang menentang yaitu Iblis.

Iblis bukanlah makhluk diluar malaikat

Iblis adalah “penamaan” atau personifikasi malaikat yang tidak mau taat kepada perintah Allah untuk tunduk dan patuh kepada khilafah Adam as

Jadi, jika seseorang taat kepada perintah Allah dan RasulNya maka manusia tersebut disebut malaikat

akan tetapi ketika tidak taat kepada perintah Allah dan Rasulnya maka manusia tersebut disebut iblis atau setan, iblis atau setan esensinya adalah manusia.

Dalam Al-kitab juga disebutkan orang yang menentang kehendak Allah yang digenapi oleh Nabi atau Utusan Allah disebut keturunan iblis atau ular beludak ( lihat injil matius 3:7 dan matius 23:33).

Bukti lain bahwa Adam as bukan manusia pertama Ia hanya manusia yang “dipilih” oleh Allah Tuhan Semesta Alam dari suatu komunitas atau suku bangsa, dapat kita lihat dalam al-Quran surat Ali-imran [3] ayat 33.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)

Setiap sesuatu yang “dipilih” berarti sesuatu tersebut berjumlah banyak bukan satu.

Adam as dipilih dari sekian banyak manusia pada saat itu untuk menjadi khilafah atau pemimpin Dunia.

Kiranya dengan bahasan ini bisa membuka wawasan baru kita dalam menyikapi tentang Adam as karena dia bukanlah manusia pertama.

Prev 1 of 9 Next
Prev 1 of 9 Next
4 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x