Fenomena dua model kehidupan Kekuasaan

Sesungguhnya Allah hanya menciptakan dua model peradaban bagi ummat manusia dalam kehidupannya didunia ini, dari sejak Adam sampai hari ini dan seterusnya, yaitu model kehidupan sistem langit dan sistem bumi. Kehidupan sistem langit adalah satu sistem hidup yang berdasarkan wahyu.

Wahyu sebagai Penerang

Wahyu adalah Rububiyah dari Robbul ‘Alamin, wahyu yang dikodifikasikan dalam bentuk kitab (mushaf) esensinya adalah firman Allah, sehingga barang siapa yang tidak sependapat dengan makna yang haq dari suatu ayat Al Quran berarti tidak beriman kepada Allah, dan sebaliknya mereka yang menerima Al Quran sebagai kebenaran disebut Mu’min atau orang yang menyakini. (QS. 2/2-5).

Sesunggunya kumpulan wahyu yang disebut Al Quran itu adalah satu konsepsi yang utuh dalam arti, satu sistem yang seharusnya dijadikan hudan (petunjuk) bagi manusia dalam kedudukannya sebagai syahid Allah di muka bumi ini. Oleh sebab itu secara aktual orang yang menentang Rasul, nabi atau Mu’min dalam jihadnya mentegakkan kekuasaan Allah itu adalah musuh Allah :

Al Mumtahanah 60:1 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; Padahal Sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Robmu

Dari sini, bertolak dari generasi Adam, ummat manusia secara aktual terpecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok orang-orang yang berjuang mentegakkan kekuasaan Allah dalam wujud Daulah Islam atau Daar Al Islam dan kelompok orang-orang yang menentang nya dengan cara mentegakan kekuasaan pula.

yaitu sistem kekuasaan yang ditegakkan atas dasar kemauan manusia melalui berbagai bentuk sistem, dari monarki, diktator, dan sistem modern yang disebut demokrasi. Dari abad ke abad kedua sistem ini silih berganti menguasai dunia. Kisah para Nabi Rasul yang termaktub di dalam Al Quran tidak lain adalah satu ungkapan sejarah pergumulan antara dua model kekuasaan tersebut di atas.

Al Mulk 67:2 Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan dengan tujuan sebagai satu ujian agar dalam segala kondisi kehidupan, baik disaat zhulumat, seorang mu’min konsis melakukan perbuatan yang mardhotillah, yaitu ahsanu ‘amala.

Kelengahan ummat mausia hari ini adalah kebutaannya di dalam –membaca– kondisi kehidupan dunia, baik secara nasional, regional, maupun international. Ibarat orang buta, wajar jika tidak dapat membedakan gelap dan terang. Menuntut diberlakukannya aturan-aturan Islam didalam alam kekuasaan yang nyata-nyata tidak berdasarkan Nur Allah yaitu Al Quran Sunnah, sama seperti orang buta yang tidak mampu membedakan siang dan malam.

Dimata seorang Mujahid, dicoretnya tujuh kata yang termaktub di dalam preambul Undang-undang Dasar 1945 adalah satu bukti dari wahyu Allah yang menyatakan “Walaa talbisul haqo bil bathil”(QS.2/42). Fenomena itu adalah pertanda bahwa Allah tidak ridho syariatNya diberlakukan pada tempat yang tidak suci, tidak bersih. Dengan kata lain, itu merupakan bayyinah bahwa kekuasaan pada waktu itu bukan Sabil Allah.

Dien Konsep Hidup

Tugas mu’min yang utama adalah mengaktualisasikan dien, yaitu Dien Al Islam ciptaan Allah. Tugas mentegakkan Dien Al Islam bukan saja menjadi tugas para Nabi dan Rasul sebagaimana yang dipahami orang selama ini. Islam adalah fitrahnya manusia sejak awal keberadaan manusia yaitu dulu, sekarang dan yang akan datang. Dien itu tidak pernah berubah dan selalu relevan.

ArRum 30/30 : Maka hadapkanlah tujuan hidupmu kepada Dien itu dengan setepat-tepatnya. Dien Ciptaan Allah yang menciptakan manusia diatas prinsip Dien itu. Suatu Dien ciptaan Allah yang tidak pernah mengalami perubahan apapun, itulah Dien yang benar, namun sebagian besar manusia tidak menyadarinya.

Masalah penting yang perlu diperhatikan dalam ayat tersebut adalah fungsi Dien sebagai fitrah manusia, artinya manusia harus menjalani hidup diatas garis fitrah itu agar dirinya maupun ummat manusia secara keseluruhan dapat meningkatkan kualitas dirinya tahap demi tahap menuju tujuan akhir yaitu sebgai –makhluq rahmatan lil ‘alamin-.

Berbagai aspek peraturan hukum yang ada dalam dien itu yang berupa perintah dan larangan bukan untuk membatasi kebebasan manusia, tetapi justru untuk menjaga agar manusia jangan sampai keluar atau menyimpang dari garis fitrahnya. Penyimpangan terhadapa fitrah itu akan berakibat fatal bagi kehidupan ummat manusia, yaitu satu perilaku atau adab yang mematikan nilai perilaku manusia yang sejati.

Penyimpangan garis fitrah itu membawa ummat manusia menjadi satu model kehidupan fasad fil ard, yaitu kehidupan free fight, kebebasan berkompetisi yang berlandaskan hukum rimba yang kuat diatas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin, yang berkuasa menindas yang lemah.

Model kehidupan yang demikian bukan fitrahnya manusia, bahkan alam materi, nabati dan hawani sekalipun tidak menggunakan pola kehidupan yang demikian. Pantaslah jika Allah mengidentifikasikan kehidupan free fight liberalism itu dengan istilah asfala saafilin, yaitu satu model kehidupan yang nilainya dibawah derajat makhluq yang paling rendah.

Prinsip ini perlu disadari oleh manusia. Hukum Islam pada esensinya bukan untuk mengekang atau menekan kebebasan mendiami dan tinggal dibumi milik Allah ini, namun itu berarti bebas tanpa batas. Keberadaan manusia dibumi ini ibarat orang yang tinggal dalam suatu negara.

Dia diizinkan hidup dinegeri itu selama dia mematuhi undang-undang yang berkuasa. Jika orang itu melakukan pelanggaran, maka dia berhak atau pantas untuk diberi peringatan atau hukum. Analogi ini tidak bisa dibantah, logis dan berlaku di semua daerah kekuasaan di dunia ini.

Tuntutan yang paling utama dalam Islam adalah agar manusia mengakui bahwa semua ini adalah milik Allah. Jika bumi milik Allah, maka pasti Dia yang berkuasa di alam/bumi ini. Dia yang menghidupkan dan mematikan segenap makhluq Nya, Dia yang menyediakan sumber-sumber rizqi, dan Dia juga yang mengeluarkan aturan-aturan dalam mencari rizqi itu.

Dia yang menciptakan manusia yang berada jenis kelamin dan Dia pula yang mensyariatkan (mengundangkan) tentang undang-undang pernikahan. Dia yang menciptakan manusia dan Dia pula yang membuat syariat/hukum tentang bagaimana cara manusia berhubungan dengan Allah (Hablum minallah) dalam bentuk ibadah mahdiyah (ritus).

Dia yang berkuasa secara mutlak (otoritas tunggal) dibumi ini dan Dia juga yang berhak untuk memberikan kekuasaanNya itu kepada siapa yang dikehendaki Nya. Dia yang menciptakan manusia maka Dia juga yang berhak dipuja dan dipuji, ditaati segala peraturannya. Tak ada pengabdian lain selain kepada Nya. Laa ilaaha illallah…itulah inti dari ajaran Islam.

Dien Al Islam adalah Dien ciptaan Allah dan menjadi Sunnah bagi Allah bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dengan ilmuNya. Ilmu adalah Qodar, yaitu ketentuan-ketentuan yang bersifat eksak atau pasti.

Tiga unsur Dien

Tiga unsur dasar atau tiga unsur yang menjadi syariat ilmu tentang dien, yaitu sistem kehiudpan yang ada dimuka bukti sepanjang sejarah peradaban manusia baik mu’min maupun non mu’min. Miqdarul Haq adalah sudut pandang ilmuwan (‘ulama) dalam menentukan sesuatu untuk sampai pada kesimpulan yang objektif ilmiah (haqul yakin) secara aktual (bayyinah).

Dalam hal ini, menarik kesimpulan yang dinyatakan oleh Albert Einstein dalam hal dunia materi (fisika), yaitu massa, ruang dan waktu. Sesuatu baru akan eksis (terwujud atau tegak) apabila memenuhi ketiga syarat tersebut. Dalam hal Allah sebagai Al’Alim (Yang Maha Berilmu), menciptakan segala makhluq-makhluqNya diatas prinsip dasar mabadi tsalatsa proses kesatuan antara tiga sifatNya yang utama, yaitu Dia (Allah) sebagai Rob, Malik, dan Illah.

  1. Allah sebagai Rob bagi ‘alamin disyahadahkan atau dibuktikan dalam wujud berlakunya Rububiyah Allah yang merupakan kekuatan-kekuatan yang membentuk dan mengendalikan kehidupan segenap makhluqNya di seantero jagad raya ini (‘alamin). Dalam hal ini pengendalian gerak, fikir, kata dan perbuatan manusia itu adalah wahyu atau Alquran sebagai Dien atau Undang-undang/internasional masyarakat manusia dimuka bumi ini.
  2. Dialah Allah sebagai Malik yaitu penguasa gerak kehidupan makhluqNya yang hidup dalam naungan kekuasaanNya diseluruh jagad raya sebagai teritorial kerajaan Nya, tidak boleh ada penguasa lain di jagad raya ini yang menyaingi kekuasaan Nya.
  3. Dia sebgai Ilah, yang mengatur dan menguasi segenap makhluqNya itu adalah Dia sebagai yang diibadati atau sentral pengabdian yang menjadi tujuan dari segenap aktivitas/amal perbuatan seluruh makhluq-makhluq Nya.

Dalam dunia kehidupan ummat manusia, aktualisasi Allah sebagai pengatur (rob) diwujudkan dalam bentuk menempatkan Rububiyah Allah yaitu hukum Allah sebagai dasar (hukum dasar) dari semua aturan kehidupan (ipo;eksosbudkamil).

Dalam kedudukan Allah sebagai Malik bagi manusia diejawantahkan dalam wujud Rasul yaitu pengemban kekuasaan di bumi (kholif Allah). Wujud nyata kekuasaan Allah yang ditegakkan oleh Rasul itu adalah struktur kepemimpinan yang disebut Mulkiyah atau Daulah atau State.

Yang ketiga, dalam kedudukan Allah sebgai ilah (sesembahan yang disembah, yang diibadati) dilimpahkan kepada ummat atau jami’atul Islamiyah atau khoirul Ummah yang mempunyai kekuatan hukum Syar’i sebgai Uluhiyah.

Dari hal yang demikian, berbicara Islam yang haq adalah Islam yang memenuhi ketiga unsur dien tersebut, yaitu hukum, kekuasaan dan Ummat.

Prev 1 of 9 Next
Prev 1 of 9 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x