Dogma Menjadi Penjara Berpikir Manusia

Dalam kehidupan ini manusia menyadari bahwa Alquran adalah petunjuk hidup dan jalan kebenaran, namun tetap saja manusia abai dengan hal itu. Manusia lebih suka untuk  praktis dan mengikuti apa-apa yang telah mereka dapatkan secara estafet dari leluhur mereka tanpa pernah mempertanyakan keabsahan pemahaman dan tradisi tersebut.

Hal ini kemudian terus berlanjut hingga era milenial saat ini. Bagaimanapun, kesadaran dan praktik keagamaan (spiritual) seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, masyarakat, dan bangsanya. Pendidikan spiritual dari orang tualah yang akan menjadi pondasi dari segalanya. Pertanyaannya,  bagaimana nasib mereka yang terdidik dan besar dari keluarga yang tidak mengenal Allah?

Paradigma Umum

Banyak doktrin agama yang cenderung mengajak manusia kembali berpikir mistis sehingga menjadi penghalang utama untuk dapat berpikir kritis dengan mendayagunakan anugerah yang diberikan kepada manusia, yaitu akal pikiran. Pada puncaknya, dogma menjadi penjara berpikir, yang mengungkung segala cara berpikir dan bertindak manusia. Dalam surat Al-Isra (17) ayat 36 allah berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm, innas-sam’a wal-baṣara wal-fu`āda kullu ulā`ika kāna ‘an-hu mas`ụlā”

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemahaman dan aktivitas spiritual keagamaan umat manusia sangat dipengaruhi oleh tradisi dan budaya nenek moyang yang turun-temurun, tidak terkecuali umat Islam di Indonesia. Bahkan masuknya Islam ke Nusantara dengan berbagai ajaran dan doktrin di dalamnya, disebarkan juga melalui pendekatan budaya setempat.

Dengan kata lain, kemurnian ajaran dan doktrin spiritual yang dipahami oleh umat Islam saat ini, sedikit banyak sudah bercampur dengan ajaran-ajaran yang “tidak suci” lagi.

Paradigma Rasul Allah

Jika merujuk kepada sejarah awal misi Risalah Allah yang dibawa oleh para Rasul-Nya, khususnya Muhammad saw, kedatangannya justru untuk mengajak masyarakat musyrik Mekah dan sekitarnya untuk meninggalkan agama dan tradisi nenek moyang mereka.

Prinsip dakwah yang dilakukan oleh beliau adalah dakwah yang Furqan, yakni prinsip dakwah yang dengan tegas membedakan mana ajaran yang benar dan mana yang batil, karena kebenaran tidak boleh bercampur dengan kebatilan, seperti tradisi dan doktrin nenek moyang yang tidak jelas dasar ilmunya.

Ketika Rasulullah Muhammad berdakwah kepada masyarakat bangsanya, mereka lebih memilih apa yang telah mereka dapatkan dari nenek moyang mereka. Hal ini tergambar jelas dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 170 berikut ini :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Di dalam pemahaman kaum agamis, ada satu adagium yang menyesatkan, “Semakin sesuatu itu tidak masuk akal, semakin sesuatu itu harus diimani”. Padahal yang membedakan manusia dengan makhluk binatang lainnya adalah manusia dikaruniai akal pikiran.

BACA JUGA Fungsi Alquran Bagi Manusia

Jika manusia lebih suka memilih dan meyakini sesuatu yang tidak ilmiah (tidak masuk akal), untuk apa mereka memiliki akal pikiran. Bukankah Rasulullah Muhammad pernah bersabda, bahwa “Din al-Islam itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berakal”, yakni mereka yang ingin memaksimalkan akal pikirannya.

Bahkan Allah melarang manusia mengikuti dan melaksanakan sesuatu tanpa didasari oleh ilmu dan nalar (akal). Bagaimana mungkin seorang bisa memahami Din Allah tanpa menggunakan akal? Bagaimana caranya seseorang dapat mengimani Allah dan Rasul-Nya tanpa menggunakan akal? Akal adalah sarana utama yang harus difungsikan secara maksimal agar manusia memperoleh kebenaran hakiki. Untuk itu, logis jika esensi seorang manusia terletak pada akal budinya, bukan pada fisik biologisnya.

Apa yang menjadi renungan dalam tulisan ini adalah sesuatu yang sangat dekat dengan diri setiap manusia, khususnya yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulullah Muhammad, semua renungan tersebut dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana dan ringan, namun memiliki konsekuensi spiritual tersendiri. Pendekatan yang penulis gunakan murni kepada pendekatan Alquran. Jika ada rujukan di luar Alquran, sifatnya hanya sebagai pelengkap atau pembanding semata.

red @ebr

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x