Din Tidak sama Dengan Agama

Din Tidak sama Dengan Agamapada artikel ini penulis akan mengurai makna sedetailnya tentang Din, apa yang di maksud dengan Din dan apa yang dimaksud dengan Islam, silahkan teman-teman yang ingin menanggapi tulisan ini bisa komentar pada kolom paling bawah paling bawah, atau jika teman-teman ingin berdiskusi dengan saya silahkan masukan nama dan email teman-teman.

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatu

Salam Sejahtera

Om Swastiastu

Apa itu Din dan Apa itu Islam?

Apa benar Din itu sama dengan Agama, dan Islam itu adalah “nama sebuah Agama” atau “nama sebuah golongan”?

Semua akan dibahas dalam materi ini.

Untuk mengawalinya, marilah kita buka QS Ali Imran 3:83.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa apa-apa yang ada di alam semesta, baik di langit maupun apa yang ada di bumi, seluruhnya sudah aslama (tunduk patuh, berserah diri) terhadap Din Allah, baik secara suka rela maupun terpaksa.

Maka apakah mereka mencari agama (din) yang lain dari agama (Din) Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan (aslama) diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan

Apa-apa yang ada di langit dan di bumi sudah tunduk patuh terhadap Din Allah, sudah menjadikan Allah sebagai Robb (pengatur), sebagai Malik (penguasa), dan menjadikan Allah sebagai Ma’bud (sentral pengabdian).

Mari kita berfikir, jika Din diartikan sebagai sebuah agama, berarti alam semesta ini diatur oleh agama. Nah, pertanyaannya adalah apakah mungkin alam semesta ini diatur oleh agama?

Jika misalnya jawabannya ya, lantas agama manakah yang mampu mengatur alam semesta?

Gambaran tentang Din bisa diperhatikan pada kehidupan sistem di langit dan di bumi.

Pada keseluruhan makhluk, baik yang ada di langit (sistem yang berlangsung pada tata surya), maupun yang ada di bumi (kehidupan antaralam materi yang berada di bumi)

semuanya telah  tunduk-patuh pada aturan yang berlaku dalam sistem itu, semua beraktivitas sesuai dengan karakter dan fungsi dan peran masing-masing, semua menunjukkan ketunduk-patuhannya (aslama) pada ketetapan yang berlaku dalam sistem tersebut.

Sehingga semuanya bisa “berjalan” teratur dan  tidak ditemukan adanya kesemrawutan dan kekacauan. Hal ini digambarkan dalam salah satu ayat,

QS Al Mulk 67:3-4.

  1. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang
  2. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah

Bagaimana bentuk aslamanya yang di langit dan di bumi? Baiklah, sedikit akan diberikan beberapa ilustrasi sederhana tentang telah berserah dirinya seluruh makhluk yang telah diciptakan-Nya.

Sebagai contoh; di langit terdapat sistem tata surya, bentuk aslamanya komponen yang ada dalam sistem tata surya adalah adanya planet-planet yang beredar sesuai dengan ketetapan Allah yang berlaku dalam sistem tersebut.

Demikian halnya yang ada di bumi, di bumi ada sebuah sistem tatanan, dimana komponen yang ada di bumi, seperti air, tumbuh-tumbuhan, hewan, masing-masing telah tunduk pada ketetapan yang berlaku di dalamnya.

Secara fisik, manusia pun sudah aslama. Hal ini terbukti dari adanya sistem tubuh manusia yang berjalan teratur, baik sukarela maupun terpaksa.

Namun, Allah masih mempertanyakan pada manusia; apakah mereka (=manusia) masih mau mencari yang selain Din Allah, padahal apa-apa yang ada di langit dan di bumi sudah tunduk patuh terhadap Din tersebut.

Berarti memang ada yang masih menggunakan yang selain Din Allah untuk menata hidupnya, masih ada yang menggunakan sistem tatanan hidup yang bukan merupakan sistemnya Allah.

Allah telah menciptakan alam semesta yang terdiri dari alam akhwan (materi) dan alam insan (peradaban manusia).

Namun, sebelum Allah menciptakan dua makhluq-Nya tersebut, Allah ciptakan terlebih dulu Din-Nya.

Dengan Din yang telah terlebih dahulu diciptakan-Nya itulah, Allah mengatur keberlangsungan hidup, baik kehidupan alam materi, kehidupan manusia, maupun hubungan antara manusia dengan alam.

Sehingga terciptalah kehidupan yang seimbang.

Di bawah ini diberikan sebuah gambaran tentang tidak semrawutnya alam materi disebabkan menggunakan Din Allah.

Ada hal yang perlu diperhatikan terkait arti Agama dan Din. Agama berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari A: tidak dan gama: Kacau (sehingga agama artinya adalah tidak kacau).

Memang, tujuan dari kehidupan beragama adalah timbulnya kehidupan yang tidak kacau, tetapi dalam perjalanan hidup keberagamaannya ummat manusia, akibat yang ditimbulkannya justru bertentangan dengan arti agama itu sendiri.

Hal yang dapat kita lihat adalah; dengan semakin banyaknya agama, maka kekacauan pun semakin meningkat.

Agama

Agama (religi) hanyalah berisi tentang percaya adanya Tuhan (credo) dan bagaimana menyembah serta tata caranya (ritualism). Selain itu, di dalamnya diajarkan tentang kebaikan.

Makanya, jika kita perhatikan dari seluruh agama yang ada, baik Islamisme, Kristenisme, Yahudisme, Hinduisme dan budhisme.

Masing-masing dari yang disebutkan di atas, sama-sama mengajarkan tentang kebaikan, misalnya, tentang tidak boleh mencuri, hidup harus beretika, dan lain-lain.

Setiap orang mempunyai kepercayaan masing-masing terhadap Tuhan, sehingga ritual /tata cara menyembahnya pun berbeda-beda.

Akibatnya adalah terbentuknya kelompok kepercayaan yang beraneka ragam.

Sehingga wajar jika terjadi perpecahan karena mereka memandang hidup ini hanya dari sudut pandang religious saja.

Ad Din

Din tidak hanya berisi tentang keduanya (percaya adanya Tuhan dan ritualisme), tetapi din memuat aturan-aturan atau ketetapan hukum kehidupan dalam sebuah sistem yang harus dilaksanakan oleh semua yang berada dalam sistem tersebut.

Dan semuanya berada dalam satu ikatan /tatanan aturan hidup yang sama. Sehingga mampu membuat kehidupan yang teratur, damai dan seimbang.

Jadi, kesimpulanya adalah Din tidaklah sama dengan agama, bahwa agama konteksnya terlalu sempit, sehingga tidak memenuhi syarat untuk dijadikan padanan arti yang tepat untuk kata Din.

Menurut penyebutannya dalam Al Quran,

maka dapatlah kita pahami bahwa Din adalah sebuah sistem yang mengatur tatanan hidup, cara-cara hidup dalam kehidupan, yang di dalamnya penuh dengan norma-norma, aturan-aturan, atau hukum-hukum yang harus ditaati.

Din Satu-Satunya Sistem Ciptaan Allah

Satu-satunya sistem yang telah diciptakan Allah guna mengatur kelangsungan hidup di alam semesta ini adalah Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Ali Imran 3:19

19. Sesungguhnya agama (Din) yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya

Setelah kita pahami bahwa Din tidaklah sama dengan agama, maka kita pun jadi tahu bahwa din itu ada dua, yakni Din Allah (Dinullah sebagai Din Haq) dan selain Din Allah (Ghoiru Dinulloh sebagai din bathil) –Ali Imran 3:83. Menurut Ali Imran 3:19, Din haq yang Allah ridhoi itu dinamakan dengan Islam.

Sehingga dapatlah kita pahami bahwa Islam tidak baru muncul pada masa Muhammad dan setelahnya, karena apa yang dibawa oleh Isa, Musa, Ibrohim dan Nuh (para Rasul sebelumnya) adalah sama dengan yang dibawa Muhammad yakni Din Haq.

Dalam bahasan ini jelas bisa dipahami bahwa  yang dikatakan Islam itu  bukanlah nama sebuah kelompok atau golongan, tapi Islam merupakan nama Din Allah.

Dan orang yang dikatakan masuk Islam adalah mereka yang sudah masuk dalam sistem tersebut. Kemudian yang disebut muslim bukanlah orang yang dinilai secara identitas atau atribut,

melainkan siapa saja yang tunduk patuh terhadap sistemnya Allah  (yang berperan sebagai Robb, Malik, Ma’bud hanyalah Allah).

Berdasarkan pengertian yang telah kita jelaskan di atas, yakni Islam adalah sebuah kondisi yang di dalamnya berlaku sistem Allah (Din Allah) di mana hanya Allah selaku Pengatur

Penguasa dan satu-satunya Yang Diabdi, maka dapatlah dipahami bahwa adanya Islam adalah manakala sistem Islam sudah berlaku di peradaban manusia;

aturan yang berlaku hanyalah aturan Allah, adanya kekuasaan menjalankan aturan Allah tersebut, dan tujuan manusia mengabdi hanyalah mengabdi pada Allah.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah pada kehidupan kita hari ini Islam sudah berlaku dalam peradaban manusia atau tidak?

Sistem yang mengatur manusia sekarang ini sistem Aturan Allah atau aturan manusia? Terkait dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya,

hari ini sudah adakah orang yang berhak disebut Muslim?

Jawabannya adalah tidak! Hari ini kita hidup sudah tidak berdasarkan kepada Din yang haq.

Lantas apakah konsekuensi bagi mereka yang hidup tidak berdasarkan Din Allah?

Di dalam Al Quran, bayak sekali disebutkan tentang dirihoinya Islam sebagai satu-satunya Din yang haq. Namun, di samping itu juga disebutkan tentang begitu bencinya Allah kepada yang bukan merupakan Din-Nya.

Salah satu ayat yang menjelaskan perihal ini adalah surah Ali imran 3:85

85. Barangsiapa mencari agama (Din) selain agama (Din) Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (Din itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi

Jadi, balasan bagi mereka yang hidup tidak berdasarkan Din Allah adalah neraka. Artinya apabila manusia yang menggunakan sistem aturan kehidupan bukan berdasarkan aturan Allah,

tetapi malah menggunakan sistem aturan  manusia, maka sekali-kali Allah tidak akan menerimanya, dan orang-orang yang demikian itulah yang termasuk orang-orang yang merugi.

Berbagai aspek peraturan atau hukum Allah/hukum Islam pada esensinya diciptakan Allah bukan untuk mengekang kebebasan manusia.

Manusia memang diberikan kebebasan untuk tinggal di muka bumi ini, namun bukan berarti  bebas yang melampaui batas.

Manusia tetap harus mengikuti “aturan main” yang sudah ditetapkan Allah dalam sistem tersebut.

Keberadaan manusia di muka bumi ini diibaratkan orang yang tinggal dalam wilayah suatu negara.

Dia diizinkan tinggal dalam negara tersebut selama dia mematuhi norma atau kaidah hukum yang berlaku di dalam negara tersebut.

Jika orang tersebut melakukan pelanggaran, maka sudah sepantasnya diberi peringatan.

Karena alam semesta diciptakan oleh Allah, maka sistem yang berhak berlaku adalah sistem Allah.

Manusia hanyalah sebagai penghuni yang harus tunduk dan patuh terhadap sistem yang berlaku, dia tidak berhak membuat sistem aturan sendiri.

Tuntutan utama dalam Islam adalah, agar dia mengakui bahwa apa-apa yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah, Allah berhak mutlak memiliki, menguasai, dan yang mengatur dengan aturan-aturan-Nya,

termasuk aturan hidup manusia yang berhubungan dengan Allah (hablumminallah), dan hubungan antar sesama manusia (hablumminannas) serta hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Din yang dibawa Para Rasul Allah adalah sama

Ajaran yang dibawa para Rasul adalah ajaran yang sama, yaitu tentang Din Haq At Taubah 9:33

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama (Din) yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama (Din), walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai

Dan Din itu berlaku dari sejak dulu. Untuk lebih mempertegas bahwa Din bukanlah agama (Din tidak sama dengan agama)

Maka marilah kita buktikan melalui QS Asy Syuura 42:13.

13. Dia telah mensyari´atkan bagi kamu tentang agama (Din) apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama (Din) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama (Din) yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)

Beberapa poin yang dapat kita simpulkan dari ayat tersebut adalah;

  • Din haq (din itu yang dimaksud dalam ayat ini adalah Din Haq yakni Islam) ada dari sejak zaman dulu, yakni telah ada pada masa Rasul Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad,
  • Ketika Din itu runtuh, maka ada perintah untuk menegakkannya dan jangan sampai terjadi perpecahan.

Dari ayat ini, jelas bahwa Din bukanlah agama karena yang disyariatkan dan diperintahkan Allah pada Rasul-Rasul untuk menegakkannya adalah sesuatu yang sama.

Kalau Din masih tetap disamakan dengan agama –inilah yang dipahami manusia kebanyakan hari ini-, maka Din atau agama yang ada adalah minimal lima.

Yakni Millah Nuh, Millah Ibrohim, Yahudi, Kristen dan agama Islam yang secara berturut-turut diberikan kepada Nuh, Ibrohim, Musa, Isa dan Muhammad.

Sepintas pemahaman seperti ini tidak bermasalah. Tetapi, jika kita lanjutkan bunyi ayat tersebut, di mana di dalamnya tidak hanya terdapat perintah untuk menegakkan Din,

tetapi juga terdapat larangan untuk jangan berpecah-belah.

Dari sinilah, kita paham bahwa ajaran yang dibawa oleh para Rasul bukanlah agama, karena jika agama,

maka yang akan terjadi adalah perpecahan –bukti yang dapat kita lihat adalah bahwa masing-masing agama adalah berbeda satu sama lain-.

Karena yang dibawa para Rasul adalah Din yang sama yakni Din Itu, yakni sistem tatanan hidup yang satu aturan, satu kekuasaan dan satu pengabdian hanya kepada Allah, maka yang pasti terjadi adalah kondisi yang tauhid ‘satu.

Hal ini menjelaskan bahwa perintah Menegakkan Din Itu dan larangan Jangan Berpecah-belah adalah tidak bertentangan.

Nah, hal ini baru dapat terjadi jika Din sudah tidak lagi dipahami sebagai sebuah agama.

Sebagai penegasan bahwa ajaran yang dibawa para Rasul adalah sama dijelaskan dalam QS Al Hajj 22:77 dan Al Baqarah 2:133.

22:77 Hai orang-orang yang beriman, ruku´lah kamu, sujudlah kamu, Abdilah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan

Dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah telah menamai kamu sekalian dari dahulu sebagai orang-orang Islam (muslim) dan samanya Allah yang diabdi oleh Musa dan Isa (anak-anak Yaqub) dengan Allah yang diabdi oleh leluhur mereka yakni Ishaq, Ismail dan Ibrahim.

2:133. Adakah kamu hadir ketika Ya´qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu Abdi sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan mengabdi Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”

Kemudian sebagai pembuktian bahwa Islam telah ada dari sejak sebelum Rasul Muhammad adalah, surat Maryam 19:30-31

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi

dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup

Yunus 10:87

87. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu Shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”

yang secara berturut-turut masing-masing ayat itu menyebutkan bahwa Isa sholat dan demikian juga Musa dan Harun (saudara Musa).

Jika demikian, berarti Rasul Musa dan Isa adalah Islam. Bukankah shalat dan zakat merupakan bentuk beribadahnya Islam?

Din Allah tidak pernah berubah

Pada dasarnya sejak dulu Allah tidak pernah menciptakan din lain kecuali hanya Din Islam karena hanya Islam sebagai satu-satunya Din yang Allah ridhoi

Din yang lurus yang tidak pernah mengalami perubahan, yang selalu relevan dari zaman ke zaman, baik sejak manusia zaman dahulu, sekarang dan masa yang akan datang.

Relevannya Islam sebagai sistem hidup yang harus dijadikan pijakan manusia ini dijelaskan dalam QS Ar  Ruum 30:30

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Din) Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama (Din) yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Fitrah adalah pasangan. Apabila manusia tidak menggunakan Din Allah dalam kehidupannya, maka manusia tersebut sudah keluar daripada fitrahnya (pasangannya),

manusia sudah melanggar dari garis fitrahnya.

Masalah penting yang perlu diperhatikan dalam ayat tersebut adalah fungsi Din sebagai fitrah manusia.

Artinya, manusia harus menjalani hidup tetap berada di garis fitrah itu, agar dirinya maupun keseluruhan umat manusia dapat mengoptimalkan kualitas pengadbdiannya kepada Allah Rabb al ‘Alamiin.

Dan Din itulah yang akan menjaga manusia sebagai makhluk yang diberikan amanat untuk menjaga keseimbangan  alam jagad raya ini,

sehingga akan terwujud kehidupan sosial manusia yang penuh berkah dan rahmat dari Allah.

Penyimpangan dari garis fitrah akan mengakibatkan terbentuknya pola kehidupan yang tidak seimbang, kehidupan yang sewenang-wenang

bebas tanpa batas yang kuat makin kuat dan yang lemah semakin lemah dan pada akhirnya terjadi ketimpangan dalam kehidupan.

Ketika suatu barang tidak sesuai dengan tempat serta ukurannya, maka sudah dipastikan barang itu akan rusak.

Tetapi sebaliknya, apabila suatu barang berada pada pasangannya, berada sesuai dengan tempat serta ukurannya dan “berjalan” sesuai dengan karakternya, maka sudah pasti barang tersebut terjaga keawetannya.

Begitu pula kalau kehidupan manusia diatur dengan Sistem atau Din Allah, maka akan tercipta kehidupan yang selaras, serasi, damai dan seimbang.

Tetapi sebaliknya, ketika kehidupan manusia ditata dengan sistem lain yang bukan sistem Allah, maka yang terjadi adalah kerusakan.

Manusia diciptakan Allah atas dasar Islam buatan Allah, maka sudah pasti cocok bagi manusia  ketika Din Islam itu diterapkan (dipasangkan) dalam kehidupan manusia di alam semesta ini.

Manusia pun diperintahkan untuk tetap pada tujuan penciptaannya, yaitu tetap mengabdi pada Allah dalam tatanan Din-Nya.

Seseorang belum dikatakan taat atau tunduk-patuh (aslama) pada Hukum Allah secara totalitas (kaffah)

ketika manusia tersebut masih taat pada selain Hukum Allah dan tidak berhak pula baginya disebut muslim.

Maka, ada perintah dari Allah untuk tetap bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, serta jangan sampai mati sebelum dalam keadaan berserah diri kepada Din-Nya –Ali Imran 3:102

102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam

Mengingat pentingnya Islam sebagai satu-satunya sarana pengabdian kita kepada Allah, dan setelah kita tahu bahwa dalam kehidupan kita hari ini Islam belum ada,

maka perlu ada upaya untuk menegakkan Islam tersebut.

Kemudian perlu dipahami juga bahwa sebenarnya tugas untuk memperjuangkan Din Islam adalah tugas semua ummat manusia,

bukan hanya tugas para Nabi dan Rasul karena Din Islam adalah fitrahnya manusia, bukan hanya fitrah para nabi dan Rasul.

red @Rasy

Prev 1 of 9 Next
Prev 1 of 9 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x