“BERPENDIDIKAN” TAPI TIDAK BERMANFAAT

“BERPENDIDIKAN” TAPI TIDAK BERMANFAAT, Sejahteranya sebuah negara sangat tergantung pada pola pendidikan yang dikembangkan oleh negara tersebut.

Pendidikan yang baik dan tepat akan menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni serta handal dan bisa dijadikan sebagai asset dalam membangun bangsa.

Pada kesempatan perdana ini, saya mencoba mengemukakan sedikit fakta dan realita bagaimana pengaruhnya pendidikan terhadap sistem ketahanan pangan dibangsa kita ini.

Seperti kita ketahui bagaimana bobroknya kondisi pangan kita, dengan sumber daya alam yang luar biasa akan tetapi bangsa kita masih terus mengimpor kebutuhan pangan.

Hampir semua jenis pangan hingga saat ini masih impor mulai dari beras, kedelai, jagung, gandum, cabe, dan lain-lainnya silakan di cek aja datanya di google, terlalu banyak kalau saya uraikan disini, IKAN ASIN pun kita  masi impor.

Segala jenis pendidikan dinegara manapun akan  mengacu dan berlandas kepada potensi negaranya.

Artinya, lembaga pendidikan itu bertugas menyediakan SDM potensial untuk membangun kehidupan bangsa dan negara menuju kemakmuran dalam segala bidang.

Maka, sifat dan  ciri khas pendidikan disebuah negara akan dipengaruhi oleh sumber daya negara yang bersangkutan, jadi setiap negara tentu saja berbeda.

BACA JUGA : FENOMENA DUA MODEL KEHIDUPAN KEKUASAAN

Jangan pernah membandingkan isi materi pelajaran dari negara mana-pun sebab potensi Negara kita jauh berbeda dengan negara-negara lain di seluruh dunia.

Kita adalah negara AGRARIS dan MARITIM.

Kalaupun negara ini akan dibangun menjadi negara industri ya bangun menjadi INDUSTRI MARITIM dan INDUSTRI AGRARIS.

Hanya beberapa % materi pendidikan di SD, SLTP, SLTA  hingga Universitas di negara kita yang mengacu kepada sumber daya Negara. Sisanya seperti biasa meniru ingin sama seperti negara-negara lain yang telah maju.

Dampaknya :
SAWAH ditinggalkan, sebab ingin bekerja di pabrik. Lebih hebat lagi 80% bangsa Indonesia berharap untuk dapat BEKERJA DI KANTOR, di GEDUNG ber AC,  Bisa berdandan pula.

Mereka menyebutnya “LEBIH BERGENGSI”.

ya wajar jika hari ini PERTAHANAN PANGAN INDONESIA SANGAT LEMAH. Padahal bergelar NEGERI AGRARIS. tapi beras masih harus mengimpor..

Akibat sistem pendidikan yang tidak mengacu kepada Sumber Daya Negara maka Indonesia sangat minim sekali memiliki SDM untuk mengelola dan mengolah potensi negara secara optimal.

terjadilah EXODUS dari kampung menuju kota (urbanisasi), pertahanan pangan jebol, dampak selanjutnya ya terus menjalar kemana-mana.

Oleh sebab itu bangsa kita tidak mampu mengolah dan mengelola sumber daya Negara. Akhirnya hanya mampu menjual dan menyewakan.

maka WAJAR NEGARA JADI BANGKRUT!!. Hasil pendidikan di Negara kita pada akhirnya ngambang dan tidak memiliki tujuan yang jelas, semua TERKAMUFLASE oleh ANGKA (Nilai Pencapaian) :

Nilai agama dapat 100 (A) diajarkan sejak SD sampai mahasiswa ditambah ekstrakurikuler mingguan atas perintah tuhan (wajib),bahkan masih banyak yang belajar agama sampai menjelang mati, hasil dan buktinya Indonesia menjadi  salah satu Negara terkorup di dunia.

Mantap  sukses tuh pelajaran. PENDIDIKAN YANG BAGUS dan LARIS MANIS…!!!.

Nilai PANCASILA dan PPKN dapat 100 (A), tapi sama sekali tidak tahu aturan dan hukum ujungnya malah menciptakan manusia BERAKAL BULUS!!.

Hampir dalam segala aspek kehidupan di berbagai kalangan memiliki kecenderungan menjadi pelanggar hukum.

Nilai Fisika, Kimia dan Biologi dapat 100 (A), tapi sama sekali tidak tahu arti KESUBURAN, tidak paham dampak penggundulan hutan, pencemaran lingkungan, dan lain-lain.

Nilai Geografi dapat 100 (A) tapi sama sekali tidak tahu tentang  harta karun Indonesia dan seluruh seumber daya alamnya..

Belum lagi ditambah dengan rusaknya pola hidup masyarakat yang tidak mengerti bagaimana menjalankan pola hidup sehat sehingga sering munculnya berbagai macam penyakit yang tidak inginkan dan memicu kematian di usia muda.

Pola konsumsi beras yang sudah berlebihan juga menjadi sorotan dibangsa kita, konsumsi beras di Indonesia sudah mencapai ambang batas.

Kebutuhan beras kita sangat besar, yaitu sekitar 130-140 kilogram per orang per tahun. Kalo bisa turun menjadi 90 kilogram saja, maka kita bisa jadi salah satu eksportir terbesar di dunia.

Ingat, makanan pokok bukan hanya beras saja, masih banyak yang lain seperti singkong, gandum dll.

Jangan sekali-kali berkiblat ke Negara manapun, berkiblat saja kepada kebutuhan SDM untuk mengelola SDN yang ada.

DIJAMIN dalam beberapa tahun ke depan negara kita akan bangkit menuju Negara SUPER POWER dalam bidang SANDANG, PANGAN, PAPAN dan PERTAMBANGAN.

Bangsa kita di ambang kelaparan massal,  segera sadar bahwa bangsa ini harus segera mandiri, bangkit dan memiliki ketahanan pangan yang baik serta mampu mengayomi seluruh anak-anak nusantara.

 

Red: @bilal

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x