Apa Itu Din Islam (Dinul Islam)

Islam Bukan Agama?

Bicara agama dapat kita lihat di dalam Alquran surat ali imran 3:83 – 85

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.
Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Dalam beberapa forum diskusi yang pernah saya ikuti dan beberapa literatur yang pernah saya baca, berbicara persoalan “Universitas Islam” sering menjadi fokus bahasan dengan berbagai macam perdebatan di dalamnya.

Kali ini saya ingin mengajak anda merenungi satu hal dasar terkait islam itu sendiri, yakni islam sebagai DIN Allah.

Apakah DIN Islam itu hanya sebatas agama, atau lebih luas dari agama ?

ada yang mengatakan islam itu sudah paripurna (sempurna) dan ada juga yang berpendapat berbeda.

Kenapa hal ini menjadi penting untuk di renungi ?

karena, cara pandang yang keliru terhadap Din Islam akan berakibat pada sikap hidup seseorang terhadap islam,

baik sacara pribadi sosial maupun dalam hal berbangsa dan bernegara (politik ) ada lgi beberapa doktrin yang sering terdengar di masyarakat tentang islam.

Di antaranya,  Islam adalah agama yang di bawa oleh Nabi Muhammad, dan menjadi agama terkahir. Sebelum beliau (Muhammad) Allah mengutus Rasul-Nya dengan agama yang berbeda-beda.

Agama islam adalah agama terkahir yang paling sempurna di bandingkan dengan agama-agama sebelumnya.

Sebelum kita merenungi tentang Din Islam sebagai suatu agama atau lebih dari sebatas agama, karena ISLAM tidak sama dengan AGAMA

ada baiknya kita renungi kembali ayat firman Allah di atas.

Apakah pemahaman tersebut benar atau salah ?

Apakah pemahaman tersebut memiliki dasar wahyu (firman Allah) atau hanya sebatas pemahaman assobiah (fanatisme) yang turun menurun ?

PENGERTIAN DINUL ISLAM

Seluruh para Nabi adalah Muslim (Islam), Akibat memahami bahwa Din sering di artikan agama yang di bawa oleh masing-masing Rasul Allah adalah berbeda

maka ummat manusia hidup dalam kotak-kotak keyakinan dalam beragama tersendiri dan menilai mereka yang berbeda keyakinan adalah sesat.

masing-masing generasi saling menutup diri untuk berdialog karena merasa agama mereka berbeda dan tidak dapat disatukan.

Kata “muslim” adalah kata Bahasa Arab yang berbentuk isim fa’il (keterangan pelaku) dari kata kerja aslama-yuslimu-islaman- yang berarti patuh, tunduk, dan pasrah.

Jadi, “muslim” secara Bahasa berarti setiap makhluk yang tunduk patuh atau berserah diri kepada Din sistem hukum Allah.

Sehingga secara Bahasa dan kewahyuwan predikat “Muslim” dapat disematkan kepada siapa saja dan kepada makhluk apa saja yang aslama (tunduk patuh) kepada sistem hukum Allah.

Lalu bagaimana dengan istilah “Din Islam” itu sendiri ?

kata “Din” juga adalah kata Bahasa arab yang secara bahas berarti :

  1. Kehormatan pemerintah, negara, dan kekuasaan
  2. Ketundukan, kepatuhan, pengabdian, dan penyerahan
  3. Memperhitungkan, mengadili, memberi hukuman, atas perbuatan-perbuatan.

Jika dikatakan, yaumiddin berarti hari perhitungan atau hari pembalasan, atas perbuatan seseorang

sedangkan secara etimologi beberapa ulama mendefinisikan “Din” sebagai peraturan illahi yang mengantarkan orang-orang yang berakal sehat, atas kehendak mereka sendiri menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Demikian pendapat beberapa ulama, namun jika di rujuk beberapa ayat alquran maka kata “Din” tidak hanya mengatur tata aturan bagi umat manusia,

tetapi juga tata aturan bagi semua makhluk ciptaanNya.

Sehingga dalam arti luas, “Din” sistem hukum ciptaan Allah dalam mengatur hidup dan kehidupan segala makhluk di alam semesta.

Adapun kata Islam secara bahas adalah bentuk kata benda dari kata “aslama” yang berarti ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan.

Islam adalah sebutan dari Din Allah yang memuat seperangkat sistem dan aturan hukum yang di jadikan sebagai landasan pengabdian setiap makhluk kepada Allah.

Sehingga Din Islam berarti sebuah sistem hukum yang mengatur kepatuhan setiap makhluk kepada Allah.

Jika di khususkan kepada manusia, maka Din Islam adalah sistem kepatuhan dan ketaatan manusia kepada hukum Allah yang di wahyukan kepada setiap Nabi dan Rasul yang di utus-Nya pada setiap bangsa dan zaman yang berbeda-beda sepanjang peradaban manusia

sejak dahulu, kini, dan masa yang akan datang, yang tidak berubah dan berganti lihat Alquran surat ali imran 3:83 – 85

TUJUAN UTAMA DINUL ISLAM

Visi dari semua utusan Allah (Rasul Allah) adalah tegaknya Din Al Haq (Dinul Islam) ciptaan Allah dalam hidup dan kehidupan umat manusia

sehingga akan tercipta tatanan kehidupan yang setimbang, penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan bagi semua makhluk di alam semesta ini.

Itulah sebabnya, kehadiran seorang Rasul Allah selalu diyakini sebagai rahmat yang luar biasa dari sang pengatur hidup manusia, karena kedatangannya selalu menjadi juru selamat bagi umat manusia

yakni mengembalikan umat manusia pada fitrah dirinya sebagai seorang hamba Allah. Ketika seseorang melihat Din Islam sebagai agama, maka dia akan melihat keislaman seseorang dari tata ritual yang dikerjakannya.

Islam hanya dipandang sebatas agama, yakni sistem penyembahan seorang hamba kepada Tuhannya, sebagai bekal kehidupan akhirat, kehidupan setelah dia mati.

Mereka tidak sadar bahwa Allah tidak perlu untuk di sembah, tetapi diminta olehNya adalah agar manusia kembali kepada fitrahNya yang sejati,

yakni menjadi hamba Allah yang tunduk patuh hanya kepada kehendak dan pertintahNya semata.

Agar tunggang dari ajaran Allah (Din Islam) adalah keimanan kepada Allah secara mutlak, yakni mengabdi kepada Dia satu satunya, yang mencipta dan yang mengatur kehidupan ini dengan system hukum-Nya yang benar (Din Islam).

Hukum Allah adalah hukum sejati dan hukum yang fitrah bagi seluruh makhluk, khususnya manusia, secara prinsip,

hukum Allah merupakan satu sistem aturan yang di dalamnya terhimpun seluruh aspek yang mengatur kehidupan manusia, baik hubungannya dengan Dia, maupun hubungan antar sesame manusia dan hubungannya dengan alam sekitarnya,

semua aturan hukum tersebut ditujukan dalam rangka menjaga fitrah manusia, menciptakan kedamaian dan kebahagiaan hidup dan kehidupan ummat manusia di muka bumi, serta menjaga kesetimbangan dan keharmonisan alam semesta.

Penyimpangan atau pelanggaran manusia terhadap hukum-hukum Allah (sesuatu yang sudah Fitrah) pasti akan menimbulkan ketidak adilan dan ketidak teraturan hidup

yang pada akhirnya akan menciptakan kesengsaraan dan malapetaka sosial bagi kehidupan manusia.

AJARAN-AJARAN POKOK DINUL ISLAM

Berbicara tentang atau dasar ajaran tentang Islam adalah :

Pertama, berbicara tentang keimanan (Aqidah), semua Nabi dan Rasul Allah pada setiap awal misi perjuangannya

selalu mengajak bangsanya untuk kembali kepada kalimat Tauhid, yakni laillahaillahhlah, bahwa tidak ada illah yang pantas untuk di taati, kehendak dan perintahNya.

Kalimat tauhid inilah yang selalu menjadi akar tunggang dari aqidah setiap orang beriman.

Kesaksian akan kemaha esaan Allah ini pula yang menjadi dasar bagi setiap pikir, kata dan laku orang-orang beriman dalam kehidupannya.

Jika akar tauhid ini sudah tercabut dari kesadaran iman manusia, maka manusia akan kembali kepada kehidupan syirik, yakni kehidupan yang berillah dan menghambakan diri kepada Tuan Tuan selain Allah.

Manusia akan kembali ke dalam kehidupan yang tidak fitrah, kehidupan yang melulu berpangkal pada hal hal materialis.

Tidak heran jika manusia bisa berubah menjadi makhluk yang lebih buas dan lebih jahat dari binatang.

Kehidupan manusia akan dikuasai oleh nafsu serakah yang selalu berlindung di balik topeng-topeng politik topeng-topeng hukum, sosial, ekonomi, dan agama.

Mereka yang berkuasa akan mendindas dan menghisap darah rakyatnya. Mereka yang berilmu akan memperdaya mereka yang bodoh, mereka yang kaya akan memperbudak mereka yang miskin, dan seterusnya.

Kedua, tentang pengabdian (Ibadah), Ketika seseorang telah mampu mengenal Allah dengan benar dan telah mengikat perjanjian dengan-Nya dalam satu ikatan iman (Aqidah yang kuat),

maka barulah seseorang dapat beribadah dengan bersih dan benar kepadaNya.

Syarat utama untuk dapat beribadah kepadanya adalah kebersihan diri dari segala isme atau idioligi yang dapat mengotori keimanannya kepada Allah dengan kata lain tidak syirik

Ketiga, hukum (Syariah) hukum Allah adalah sesuatu yang benar dan fitrah sehingga Dia tidak pernah mengalami perubahan, hanya karena berubahnya tempat dan zaman.

Meskipun Allah mengutus Rasul-Nya untuk lokasi dan zaman yang berbeda

tetapi system aturan hukum yang di ajarkan dan dipertintahkan olehNya tetaplah sama, tidak berubah.

Karena hukum Allah berasal dari yang maha benar, makan sifatnya mutlak benar

maka dia tidak boleh berubah atau tak boleh di ubah (diamandemen).

 TIGA UNSUR POKOK DINUL ISLAM

  • Yang pertama Rububiyah
    Tuhan selaku Rabb Alam Semesta dibuktikan dalam wujud berlakunya Rububiyah Allah SWT,
    yakni kekuatan-kekuatan yang membentuk dan mengendlikan kehidupan segenap makhluk-Nya di seantoro Jagat Raya ini.
  • Yang kedua Mulkiyah
    Tuhan adalah Malik, Penguasa gerak kehidupan seluruh makhluk-Nya yang hidup dalam naungan kekuasaan-Nya di seluruh Jagat Raya sebagai teritorial kerajaan-Nya
  • Yang ketiga Uluhiah
    Tuhan adalah Illah, Dialah objek yang di ibadati atau pusat pengabdian yang menjadi tujuan dari segenap aktivitas atau amal perbuatan seluruh makhluk-Nya.

Berbicara tiga unsur pokok dinul islam Dalam kehidupan ummat manusia, aktualisasi Tuhan sebagai Pengatur (Rabb) di wujudkan dalam bentuk menempatkan Rububiyah (Hukum) Allah SWT sebagai Pengendali pikir, kata, dan perbuatan manusia.

Allah sebagai Malik bagi manusia diejawantahkan dalam wujud di utus-Nya seorang Rasul selaku Pengemban Kekuasaan (Khalifah) Allah di bumi.

Wujud nyata kekuasaan Allah, di tegakkan oleh Rasul itu adalah Struktur kepemimpinan yang disebut Mulkiyah atau Daulah atau Khilafah, dalam Kedudukan Tuhan sebagai Illah dalam (Pusat Pengabdian : yang di Ibadati ),

sasarannya kepada ummat yang mempunyai kekuatan hukum Syar’i sebagai Uluhiyah. Dengan demikian Islam yang Hak adalah yang terejawantahkan kedalam tiga unsur pokok dinul islam tersebut, yaitu Hukum, Kekuasaan, dan Ummat.

25 NABI DAN RASUL PEMBAWA AJARAN DINUL ISLAM

Islam adalah sebutan dari Din Allah yang memuat seperangkat sistem dan aturan hukum yang di jadikan sebagai landasan pengabdian setiap makhluk kepada-Nya. Sehingga, Din Islam berarti sebuah sistem yang mengatur kepatuhan setiap makhluk kepada Allah Rabb Semesta Alam.

Jika di khususkan kepada manusia, Din Islam adalah sistem kepatuhan dan ketaatan manusia (Muslim) kepada hukum Allah yang di wahyukan kepada setiap Nabi dan Rasul yang di utus-Nya pada setiap bangsa dan zaman yang berbeda-beda sepanjang sejarah peradaban manusia.

Sejak dahulu, kini dan masa datang, Din Islam tidak pernah berubah dan berganti.

Inilah makna muslim secara substansial, bukan makna formal dan identitas sosial yang hanya di alamatkan kepada mereka yang beragama islam generasi pengikut Nabi Muhammad SAW

karena istilah Islam dan Muslim sudah ada jauh sebelum keNabian Rasulullah Muhammad SAW.

Semua Nabi dan Rasul Allah adalah seorang Muslim yang menjadikan Din Islam sebagai sistem yang mengatur hidup dan kehidupan ummat manusia.

Tidak ada Nabi dan Rasul Allah yang tidak ber-Din Islam atau non muslim, semuanya adalah Muslim.

Al-Quran misalnya, menyebut Nabi Ibrahim dan anak cucunya dengan sebutan Muslimun (Jamak dari kata Muslim) yang berarti orang-orang yang tunduk patuh, berserah diri.

Silahkan perhatikan penegasan Allah SWT dalam beberapa ayat di bawah ini –

Al Baqarah 2 ayat 128

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang

Al Baqarah 131.sd 133.

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih din ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk dinul Islam”.
Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu abdi sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan mengabdi Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Al Haj 22 ayat 78.

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam din suatu kesempitan. (Ikutilah) milah orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Dari penjelasan dan penegasan beberapa firman Allah di atas, maka gugurlah doktrin yang mengatakan bahwa ISLAM ADALAH DIN TERAKHIR DAN PALING SEMPURNA YANG DI BAWAH OLEH RASULLULLAH MUHAMMAD SAW yang berbeda dengan Din para Nabi dan para Rasullullah sebelumnya.

Gugur pula doktrin yang mengatakan bahwa ummat Muslim adalah ummat yang beriman kepada Rasul Muhammad SAW saja

selain itu adalah non muslim, demikian pula gugurlah doktrin yang mengatakan bahwa setiap Rasul Allah SWT membawa ajaran yang baru dan berbeda dengan apa yang di bawa oleh para Rasul Allah SWT sebelumnya.

Termasuk dengan syariat (Hukum) yang di kerjakan oleh mereka adalah syariat yang berbeda antara satu Rasul dengan lainnya.

Secara prinsip, hukum Allah adalah satu sistem aturan hukum yang di dalamnya terhimpun seutuh aspek yang mengatur kehidupan manusia

baik hubungannya dengan Tuhan Semesta Alam maupun hubungan antara sesama manusia dan hubungannya dengan alam sekitarnya.

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
2 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x