Agama Membunuh Akal Sehat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah system mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta manusia dan lingkungannya. Kata agama berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tradisi.

Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin, yakni religio yang berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti mengikat kembali dalam hubungannya seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Agama berisi paham atau ajaran yang mengandung tiga unsur pokok, yaitu manusia, penghambaan, dan Tuhan.

Kata Agama

Secara lebih umum dikatakan, agama adalah seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan “dunia ghaib” (khususnya dengan Tuhannya), mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya.

Secaara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang Di anut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadapa apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang ghaib dan suci.

Karakteristik unsur dasar agama tersebut telah melahirkan berbagai  macam agama di beberapa negara bangsa di dunia. Conton agama-agama di Indonesia dan dunia meliputi Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Alluk Todolo, Baha’i, Druze, Jainisme, Kaharingan, Kejawen, Konfusianisme, Kristen Ortodoks, Marapu, Mormonisme, Pantekosta, Parmalim, Protestan, Raelianisme, Saintologi, Shinto, Sikh, Taoisme. Tollotang, Yahudi, Zoroastrianisme, dan lain sebagainya.

Itulah beberapa jenis agama yang mempunyai sistem kepercayaan, simbol, praktik pengalaman keagamaan, dan umat beragama menurut keyakinan masing masing penganutnya.

Ciri fundamental lain dari keberadaan agama adalah sistem kepercayaan kepada hal ghaib yang bersifat imajiner abstrak. Kecenderungan bangunan iman dari agama-agama justru menafikan akal sehat demi sesuatu yang irasional. Dalam dogma agama, segala sesuatu yang semakin tidak masuk akal harus semakin diimani oleh pengikutnya.

Demikianlah dalil pokok dari kebanyakan agama yang mengakibatkan kecenderungan mainstream agama tidak berpikir rasional, ilmiah, dan objektif dalam meyakini suatu konsep ajaran tertentu dari sebuah agama. Padahal, Allah, Tuan Yang Esa, mengutuk orang-orang yang tidak menggunakan akal pikirannya dalam membangun iman kepada-Nya. Hal ini dinyatakan-Nya

secara jelas dalam surat Yūnus (10) ayat 100 sebagai berikut:

وما كان ينفي أن تؤمن إلا بإذن الله وجعل آلوج على الذين لا

يعقلون

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Akal merupakan instrument utama bagi manusia untuk mengenal Sang Pencipta. Jikalau akal atau nalar sebagai media untuk mengetahui ilmuNya di belenggu dengan doktrin yang tidak rasional, maka manusia-manusia agamis tersebut akan jauh dari kebenaran hakiki.

Mereka tidak akan beriman kepada Allah dengan benar jika tidak memfungsikan akal pikirannya. Padahal, iman harus bisa dijelaskan dengan akal sehat sebagai sesuatu yang rasional dan fitrah bagi manusia.

Sayangnya, agama telah membunuh akal sehat dan membuat manusia tidak mengetahui kebenaran hakiki, kecuali hanya berimajinasi tentang Tuhannya yang dipraktikkan dengan berbagai macam ritual

keagamaan. Banyaknya aliran agama akan melahirkan banyaknya definisi dan gambaran tentang Tuhan. Lebih lanjut, dampak perbedaan aqidah antaragama telah menciptakan ritual dan simbol yang berbeda-beda tanpa suatu nilai hakikat yang universal.

Agama tidak memiliki Ruh

Agama tidak memiliki ruh kebenaran sejati sebagai sistem untuk menyejahterakan ummat manusia. Peperangan antarbangsa, salah satu pemantik penyebabnya adalah adanya perbedaan keyakinan agama. Padahal, esensi Tuhan yang dimaksud oleh semua ajaran agama sejatinya adalah satu, yaitu Allah, Tuhan Semesta Alam, yang dikenal dengan berbagai macam penyebutan sesuai bahasa agama itu lahir.

Celakanya, para pemuka agama justru memperkenalkan Tuhan dan Secara sektarian. Mereka saling mengklaim bahwa agamanya-lah yang paling benar, tetapi tidak bersedia untuk diuji kebenarannya. Pemuka agama merasa dirinya paling mengenal Tuhan dan mengetahui seluk beluk agama, padahal diri mereka bertindak diri tidak berdasarkan firman Tuhan dalam Kitab Suci yang diajarkannya.

Agama hanyalah institusi yang mengajarkan ritual penyembahan, tetapi tidak memahami nilai-nilai esensial dan universal dari ajaran Tuan Semesta Alam.

Dalam kasus Bani Israil, para pemuka agama yang tidak melaksanakan perintah Allah diperumpamakanNya seperti keledai.

Perhatikan firman Allah dalam surat Al-Jumu’ah (62) Ayat 5

الذين حملوا الورنة ثم لم يخيلوها گنكل الحمار يخيل أشقار پس

القوم الذين كذبوا ب ایت الله والله لا يهدي القوم اليمين

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab- kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum

mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Para pemuka agama selalu mengaku sebagai orang yang paling takut (bertakwa) dan selalu bertasbih kepada Allah, tetapi kehidupan keagamannya tidak dalam rangka menegakkan perintah dan hukum Allah.

Mereka salah kaprah dalam membaca dan memahami esensi Kitab Suci sehingga mereka tidak mengajarkan manusia untuk hidup secara benar berdasarkan sistem (Din) Allah. Sebaliknya, mereka justru mengajarkan paham yang bertentangan dengan ilmu Allah yang rasional dan objektif.

Para ulama menafsirkan ayat-ayat Allah menurut hawa nafsu demi kepentingan diri dan kelompoknya sehingga menghasilkan dogma yang irasional dan tidak pasti.

Konsekuensi dari doktrin imajinasi atau khayalan kaum agamis dalam membangun iman berdampak sistemik dalam hidup dan kehidupan mereka. Kaum agamis akan cenderung mempersiapkan diri menyambut kehidupan setelah mati dan mengesampingkan kehidupan di dunia.

Mereka berpandangan bahwa hidup di dunia hanyalah sesaat, sementara kehidupan pasca kematian di akhirat bersifat abadi. Mereka berlomba-lomba mencari pahala, tetapi mengabaikan untuk berbuat baik antar sesama manusia.

Doktrin agama yang berorientasi hanya kepada kehidupan abadi (setelah mati) membuat manusia tidak memikirkan konsep hidup yang benar didunia. Kita harus berani berpikir sedikit nakal dan antimainstream dalam memahami konsep hidup yang benar.

Kesimpulannya tuhan tidak pernah menciptakan suatu agama, tidak pernah menurunkan suatu agama, justru dengan adanya agama manusia menjadi terpecah belah dan terkotak-kotak. Yang diturunkan tuhan adalah konsep hidup yang benar , didalam alqur’an di istilahkan dengan AD-DIN (baca artikel sebelumnya yang berkaitan tentang DIN).

Prev 1 of 8 Next
Prev 1 of 8 Next
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
roxas
roxas
2 months ago

mantap penjabarannya bg

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x